The first 189 lines.
- -
- -
Bang.
Lanjut.
Lanjut saja.
Lagi!
Lagi!
- Lagi! -
- Hei! - Ha?
Bang Jongki!
Ramai betul tempatmu.
Ah, iya, Bang. Alhamdulillah, Bang.
Anak baru?
Iya, Bang. Baru dua hari dia, Bang.
Tapi, alhamdulillah,
banyak orang yang mau lempar dia, Bang!
Mungkin karena auranya?
Orang mungkin kalau melempar dia, seperti ada sensasi lempar jamrah?
Seperti setan berarti dia, Bang?
Lagi!
- -
- -
Mampus!
Lagi?
Lagi! Kapan lagi kita bisa lihat Barbie kekar masuk angin?
- Barbie masuk angin! -
Lagi!
Bencong lepek!
Sudah seperti bakso urat!
- Ada yang mau bakso urat? - Saya, Bang!
- Mau? - Tapi dipisah, ya.
- Apa? Kuahnya? - Bakso dan uratnya!
- Mau lagi? Lagi! - Lagi!
- Bang... - Eh...
Sudahlah, Bang.
Sudah lima kali, Bang.
Ya, suka-suka aku! Uangnya uangku!
Tapi Abang kena terus.
Aku lagi tidak enak badan, Bang.
Ya sudah, ini. Sudah.
Terima kasih, ya, Bang.
Naik lagi...
Turun lagi!
- -
Kau botak! Botak!
- Aduh! Sakit! -
- Itu! -
- Hei! - Aduh! Ampun!
- Tolong! - Oki! Sudah!
- Tolong! - Apa ini?
Kau bisa atur anak buahmu, tidak?
Bi... Bisa, Bang.
Kalau kau tidak bisa atur anak buahmu,
tutup saja wahana ini!
Ah, jangan, Bang.
- Iya, Bang. Aku mengerti. Iya. - Banyak yang mau masuk ke sini!
- Saya atur. - Tak apa-apa, Mas?
Botak!
Maumu apa, Ki?
Katanya mau kerja!
Kuberi pekerjaan, kau malah seperti ini!
Pulang saja! Tak usah balik lagi!
Kalau bukan aku yang menerimamu,
siapa yang mau menerima mantan narapidana sepertimu ini?
Kalau kau mau pecat, pecat saja.
Tak usah bawa-bawa masa laluku.
Kau kira cuma kau yang punya wahana di sini?
Biar kau tahu, ya...
Aku bisa cari kerja di tempat lain.
- Tak bisa, Ki. - Tak bisa, Ki.
Tolonglah.
Kita berkawan.
Iya, kita memang berkawan, Ki,
tapi kami tidak bisa tambah orang lagi.
Sudah makin sepi rumah hantu ini.
Ini saja kami sudah menunggak sewa dua bulan, Ki.
Jujur, ya, Ki.
Kami juga di sini lagi kesulitan.
Semuanya lagi butuh uang.
Uang untuk apa, Bor?
- Yah, macam-macam. -
Namanya juga masuk tentara.
Saya harus berbagi dengan atasan saya juga.
Agar lancar.
Pokoknya,
sepuluh juta, terima beres.
Mas Boris tinggal ikut ujian praktik saja.
Masih harus ikut ujian, Dan?
Ah, formalitas saja.
Lagi pula, ujiannya juga gampang.
Menembak kaleng,
split ,
dan paling...
jauh-jauhan ludah.
Ha?
Nah. Ayo, coba. Latihan.
Meludah.
Ini bisa langsung jadi kopral!
Wah!
Mas Boris memang berbakat.
Ayo, dicoba sekali lagi. Ayo.
- - Wah!
Kalau ini...
letnan sudah di tangan!
- - Oh, begitu?
Dua meter lagi, jadi jenderal!
Iya.
Memang...
kalau bibit militer itu beda.
Coba.
Padahal sudah kubilang pada si Boris,
hati-hati ditipu oleh oknum!
Lagi pula, untuk apa memaksakan sesuatu yang kau tidak mampu?
Alah, Bene!
Kau tak usah sok menceramahiku!
Calon mertuamu apa kabar?
Memberimu syarat
yang tak bisa kau penuhi.
Tetap saja kau setuju.
Syarat apa, Ben?
Kalau kau serius mau menikah dengan Naomi,
ya, silakan.
Tapi bisa atau tidak kau buat pesta di gedung?
Minimal 1.000 tamu.
Apa tidak kebanyakan tamunya, Tulang?
Ah!
Tak usah atur aku!
Kalau kubilang 1.000, ya, 1.000.
Kalau kau tak merasa sanggup, ya, tidak apa-apa.
Masih ada yang sanggup dan mau melamar anakku.
- -
Kau sanggup, tidak?
- Sanggup, Tulang. - Begitu!
Gila juga kau, ya, Ben.
Namanya juga cinta, Ki.
Si Boris mana mengerti hal seperti ini?
- Jegel? - Oki!
Astaga!
Kau tak bilang sudah bebas.
Maka itu aku di sini.
Kau dari mana?
Kok capai sekali sepertinya?
- Masjid. - Alhamdulillah.
Ih!
Aku tidak menyangka.
Kau dulunya tukang judi.
Sekarang sudah tobat.
Memang dari masjid,
tapi bukan ibadah.
Gel? Melakukan apa?
Oh, pantas kau tak pernah kelihatan
di kontrakan.
Ternyata kau sembunyi di sini?
Saya salat, Bang. Bukan sembunyi.
Salat apa? Rakaatnya banyak sekali.
Tadi sudah kuhitung. Ada sekitar 17.
- Delapan belas, Bang. - Delapan belas!
Saya... salat Zuhur, Bang.
Salat Zuhur?
Hei, aku tahu aku preman. Aku paham, aku bukan orang suci. Paham.
Tapi semua orang juga tahu, yang namanya salat Zuhur itu
rakaatnya tiga!
- Empat, Bang. - Empat!
Jadi, tak usah bohongi aku!
Maaf, Bang. Saya... terbawa suasana, Bang.
Hari ini, kau kucekik dengan sajadah.
Sampai minggu depan aku datang lagi dan aku tak bayar utangmu,
kucekik kau dengan karpet! Yang merah!
Paham?
- Jegel... - Jegel...
Tapi...
tolong diusahakan, ya.
Kalau bukan kalian,
siapa yang bisa beri aku pekerjaan?
Aku butuh uang untuk beli obat Mamak.
- - Abang, ada pengunjung.
- Oh, iya. - Marlina?
Dik.
- Betah juga kau bekerja di sini, ya? - Bang Oki.
Bang Oki bukannya dihukum pancung?
Kau sudah gila?
Aku melakukan apa sampai dihukum pancung?
Siapa yang bilang?
Kerja, yuk. Yuk. Kerja. Semangat.
Baju pocongku mana?
- Baju pocong? - Ada di luar.
Permisi, Bang.
Sepertinya ada yang kurang. Apa, ya?
- - Masuk.
No comments yet. Be the first to leave one.