The first 193 lines.
Kalau ikatannya lepas, kasih tahu aku, ya?
Karena cuma aku yang bisa memperbaikinya.
Hei.
Hei!
Ayo, cepat, lari.
Ayo.
Cepat.
Kenapa kau tidak katakan saja kalau tidak mau pergi?
Aku tidak bisa.
Kamu?
Sini, Kamu. Sini!
- Jangan! - Ayo.
- Jangan! - Ayo.
Jangan!
Apa yang kita ingat
dari kenangan-kenangan yang terekam oleh kita?
Nama tempat, nama permainan,
nama teman, atau kejadian,
adalah hal-hal yang mungkin lambat laun bisa terlupa.
Tapi tidak dengan rasa.
Rasa senang, rasa sedih,
yang akan terus kita bawa
tanpa mudah tercecer di sepanjang perjalanan kita.
Dan makin dewasa, kita akan menyadari
bahwa di antara kenangan-kenangan tersebut,
ada satu rasa yang paling besar,
yaitu... cinta.
Pagi, Pak Guru.
Eh, pagi.
- Selamat pagi, Pak Guru. - Selamat pagi, Pak Guru.
Pagi, pagi.
Selamat pagi, Pak Guru.
- Selamat pagi, Bu Wati. Apa kabar? - Baik, Pak.
SEDIA SOTO AYAM, NASI RAMES, AYAM BAKAR
Bu.
Bu.
Eh, kenapa berlari-lari?
Ingat kandunganmu, nanti bayinya keluar.
- Tak apa-apa, Bu, biar saja. - Jangan. Sudah.
Ayo, masuk.
APA YANG SUDAH DIPERSATUKAN TUHAN TAK BISA DIPISAHKAN OLEH MANUSIA
Pagi, Mas.
Pagi.
BARU TERBIT
- Kuambilkan tasmu, ya? - Ya.
Cha?
Icha.
Icha! Anaknya ibu.
Kesayangan ibu.
Eh, masa, ibunya mau pergi, tidak dipeluk?
Tidak dipeluk, nih?
Yay! Uh, juara.
Thank you. Dah.
- Sayang. - Apa?
- Bukumu. - Oh, ya.
Okay, thank you , ya.
- Sayang. - Apa? Aku sudah ditunggu. Tidak enak.
Kau tak melupakan sesuatu?
Apa?
Oh, ya.
Dah.
Hei.
AKU SUDAH MERINDUKANMU. AKU CINTA KAMU. G.
- Neng. - Neng, mau ke mana?
Mau ke mana, Neng?
- Neng. - Tidak mau ke mana-mana!
- Neng. - Neng, mau ke mana?
AOC KONSTRUKSI
GEDUNG AOC KONSTRUKSI
Tanda tangan.
- Permisi. - Ya, Mbak? Selamat siang.
Ya. Saya mau bertemu dengan Heri. Heri Santoso.
Heri... Maaf, Mbak siapa?
Saya Iin.
Dari perusahaan mana, Mbak?
Saya dari... Sukabumi, Pak.
Dia sudah pindah, Mbak. Sudah tidak bekerja di sini.
Pindah ke mana?
Tidak tahu, deh.
Oh.
Tapi...
Ya sudahlah.
Terima kasih, ya.
Mbak.
Kalau mau mencari orang dengan cara begitu, percetakannya ada di sana.
Terima kasih, Pak.
- Hei. - Ma.
CAHAYA PERCETAKAN
Halo? Ya, bagaimana, Pak?
Mau pesan berapa ribu, Pak?
Ya, kalau Bapak pesan banyak,
saya pasti kasih diskon. Itu pasti, kok.
Ya. Saya tunggu kabarnya, ya?
Oke. Terima kasih, Pak.
- Dah, Om. - Dah, Om.
Ma.
Mau mencetak, Mbak?
- Air, air. - Ya, Ma.
Ada yang bisa saya bantu, Mbak?
Oh, ya, Mas.
Kenapa buku-buku new arrival tidak ditaruh di depan pintu masuk?
Sejak kali pertama dibuka,
tempatnya memang di sini, di tengah.
Karena tempat ini yang paling banyak dilihat oleh pengunjung.
Ya, tapi semua pengunjung juga pasti melewati pintu masuk, 'kan?
Well , terserah, cuma usul saja. Terima kasih, ya.
Lagi pula, Mbak,
kalau bukunya memang bagus, ditaruh di mana pun pasti tetap dicari.
Contohnya, novel ini.
Pengarangnya sudah terkenal.
Novel pertamanya, Senja dan Aku , bahkan sudah naik cetak berulang kali.
Ini buku bagus.
Ada masalah, Win?
Tidak ada, Bos.
Astaga.
Mbak...
- Tere? - Ya.
Tere.
- Oh, ya. -
Uh, Chandra. Saya Chandra.
Terima kasih, Mbak Tere, sudah mau mampir ke sini.
- Sama-sama. - Uh...
Win.
Ini Tere.
Tere Wijaya.
Awin, hello ?
Ya. Tere.
Yang asli berbeda dengan fotonya, ya?
Uh, bisa minta tolong, Mbak?
Tanda tangani wall of fame kami. Bisa?
Oh... boleh.
Memang kita punya, Bos?
Kita baru mau buat, 'kan!
Ada papan tulis di gudang, 'kan?
Hei.
Paling pas ditaruh di dekat pintu masuk, Bos.
Biar semua orang bisa melihatnya.
Ya, 'kan, Mbak?
Terserah kamu.
Pegawai saya yang tadi tidak buat masalah, 'kan, Mbak?
Tidak, Pak, tidak sama sekali.
- Dia juga suka menulis, lo. - Oh, ya?
Juga suka membaca buku.
Dan pengetahuannya tentang buku dan pengarangnya...
Sebenarnya juga oke, sih.
Makanya saya tadi agak bingung saat Mbak Tere datang,
kok dia tidak mengenali Mbak Tere?
- Eh. -
Sebentar.
Wah, saya dapat telepon. Permisi.
Halo?
Yes.
Oh, no, no.
Suka menulis juga, ya?
Saya menulis cuma untuk kesenangan sendiri saja.
Tadi berpura-pura tidak mengenali saya...
itu juga untuk kesenanganmu sendiri?
Oke.
Oh, ya. Umm...
Besok malam di Galeri Apresiasi
ada acara membedah novel terbaru saya.
Tertarik untuk datang, tidak?
Umm, oke, terserah.
Maksud saya, terserah mau datang atau tidak.
Boleh juga usahamu, Win.
Bu.
- Biar Dewi saja, Bu. - Jangan macam-macam kamu.
- Aduh, nanti Ibu jatuh. - Sudahlah.
- Dewi. - Dewi bisa, Ibu.
Jangan. Kamu itu lagi hamil.
Sudah, sana.
- Angkat itu saja. Ambil. - Ibu... Ibu nanti sakit.
- Biar Dewi pegang. - Tidak usah.
- Sudah. - Ibu. Hati-hati, Bu.
Ya. Biar Ibu saja. Ya?
Uh, ada yang bisa saya bantu?
Ah, biar saya saja.
Uh...
- Ini. - Ah, tidak usah.
Nah, sudah.
Terima kasih, Pak.
Uh...
Apa Hengki ada di dalam?
- Hengki? - Ya, Hengki.
Yang biasa memperbaiki jam.
Soalnya jam tangan saya mati.
Ini bukan tempat reparasi jam lagi.
Tapi sudah menjadi restoran.
Baiklah, kalau begitu.
Saya permisi dahulu.
- Terima kasih. - Terima kasih, Pak.
Bu.
Oh. Mas.
No comments yet. Be the first to leave one.