The first 200 lines.
Sepuluh, sembilan,
delapan, tujuh, enam...
DARI FILM SUTRADARA KIM YOUNG TAK
...lima, empat, tiga, dua, satu.
Selamat tahun baru!
Inilah nasibku akhirnya.
Aku yakin nggak bakal ada orang-orang di luar sana,
yang peduli dan menangisi kepergianku hari ini.
Hanya ada di judul liputan media kriminal.
Kresna Subakti.
Anak sebatang kara yang lahir tanpa keluarga.
Ditemukan mati bunuh diri karena kesepian.
Selamat tinggal, dunia.
Selamat datang, akhirat.
Selamat tinggal, dunia.
Selamat datang, akhirat.
Kenapa aku nggak langsung loncat? Dari gedung paling tinggi sekalian.
Kalau aku emang mau serius mati.
Belajar dari kegagalan sebelumnya.
Kali ini aku menetapkan cara bunuh diri,
yang tingkat keberhasilannya tertinggi selama ini.
Selamat tinggal, dunia.
Selamat datang, akhirat.
Akhirnya.
Inilah akhirat.
Tempat aku memulai hidup yang baru.
Kok di akhirat ada lampu neon?
Pak, nggak boleh ngerokok di rumah sakit.
Hei, kamu nggak boleh ngerokok di sini.
Bukan saya, Suster.
Tapi dia.
Suster, bukan saya yang ngerokok.
Tadi ada bapak-bapak di samping saya yang emang beneran ngerokok.
Hari ini kamu jadwal konsul ke dokter Agus.
Dompet kamu yang kamu tinggal di pinggir kolam.
Saya pinjem KTPnya untuk isi formulir.
Suster yang nolong saya kemaren?
Kebetulan lewat, dan satu apartemen.
Kenapa ditolong?
Saya udah capek ama hidup saya sendiri.
Bosen.
Nanti kamu cerita aja semuanya sama dokter Agus.
Saya itu maunya mati, Suster Linda.
Mati.
Suster.
Kenapa orang ini diajak lagi sih?
Kenapa dia diajak terus?
Saya nggak kenal siapa dia, Dok.
Dari tadi ngikutin saya terus.
Sekarang malah duduk di samping saya.
Di samping?
Apa dia juga yang suruh Anda untuk bunuh diri?
Enggak, Dok.
Itu emang mau saya sendiri.
Saya juga baru liat ini orang di sini.
Sebelumnya Anda pernah punya temen seperti ini,
yang ikut ke mana pun Anda pergi?
Nggak, Dok.
Baru dia aja.
Siapa yang nangis, Dok?
Siapa yang nangis?
Iya nangis.
Dokter nggak denger?
Dok.
Dokter kenapa simpen perempuan di sini?
Kasian dia, Dok.
Saya ngerti.
Dokter selingkuh, 'kan?
Biar nggak ketauan, makanya Dokter sekap dia di sini.
Dok, kasian dia Dok.
Dia nangis mulu, Dok.
Sekarang kamu istirahat dulu, saya siapin obatnya ya.
Bukan saya.
Tapi dia.
Kalau kamu haus, minum aja langsung dari termos.
Kalian tuh sebenernya siapa sih?
Gue ngerti.
Kalian yang dibilang dokter Agus?
Kalian tuh cuma khayalan gue doang.
Kalian tuh nggak nyata.
Pokoknya begitu gue buka mata,
kalian semuanya udah ilang.
Kami mau pinjem badan kamu.
Hei, anak kecil!
Kamu liat ada tiga orang melayang di atas?
Kamu liat?
Berarti aku nggak berkhayal.
Helo!
Kalian semua hantu ya?
Bagaimana keadaan Mas Kresna hari ini?
Baik, Dok.
Masih suka liat temen-temennya?
Nggak, Dok.
Masih suka ngerasa mereka ada di sini?
Ternyata Dokter bener.
Saya cuma berkhayal.
Mungkin,
karena saya kesepian.
Bagus sekali!
Itu artinya Anda masih bisa membedakan mana yang nyata, mana yang khayal.
Kalau merasa kesepian,
menunjukkan gejala-gejala frustasi,
Mas Kresna bisa bicara dengan Suster Linda.
Ya, Suster?
Maaf, Dok. Saya melatih otot mulut saya.
A, i, u, e,
- o. - O.
Kresna.
Kamu kenapa, sakit?
Perlu saya bantu?
Nggak apa-apa kok, Suster.
Panggilnya Linda aja.
Ini KTP kamu yang kemarin saya pinjem.
Ini kontak saya. Kalau ada apa-apa, kamu hubungin aja.
Mau saya panggilin taksi?
Nggak usah, saya jalan kaki aja.
Lagian apartemen kita juga nggak jauh.
Saya jalan duluan ya.
Aduh.
Hei.
Kamu yang waktu itu di rumah sakit, dirawat Linda, anak saya ya?
Kamu kencing manis juga?
Kok berdirinya kaya gini?
Bapak kencing manis juga?
Kalau saya ada bonus ginjal,
terus nyeri di jantung.
Semua nggak bisa jalan sendiri?
Harus gendong terus?
Turun!
- Masa kaya gitu sih ya. - Iya.
- Nggak nyangka ya. - Iya.
Hei, Kresna!
- Udah dulu ya, Bu. - Iya.
Mau ke mana kamu?
Tadi saya ke tempat kamu,
aduh jorok, kotor, pengap tempatnya nggak diurus!
Harusnya saya denda kamu!
Sekarang bayar sewa tunggakan.
Mana? Ayo bayar!
Ini udah masuk bulan ketiga.
Saya minta waktu lagi. Belum ada uangnya.
Aduh nggak bisa. Harus bayar sekarang.
Kamu mau saya usir dari sini?
Kamu cantik sekali, Rossi.
Kamu itu menggemaskan.
Kresna.
Kresna.
Tante ngerti kok.
Laen kali ya,
Tante sabar kok nunggu kamu.
Coba kamu dari dulu begini.
Tante pasti akan lebih mengerti kesulitan kamu.
- Makasih ya, Tan. - Iya.
Terima kasih sudah menemani saya pulang.
Jadi silakan, kalian kembali ke rumah sakit.
Masih banyak pasien yang butuh kalian temani.
Selamat tinggal.
Jadi laki itu nggak boleh kalah sama perempuan.
Ya 'kan?
Zaman saya dulu, yang begitu saya lawan.
Jangan pernah kalah.
Gitu prinsipnya.
Papa.
Eh, Linda.
Bukannya sif malem?
Papa ngapain keluyuran kaya gini?
Papa harusnya istirahat, ngapain makan makanan itu?
Punya dia ini.
Iya 'kan, Jo?
Papa begini, Linda masukin lagi ke rumah sakit.
Waduh, jangan!
Kalau Papa ke sana,
Papa bisa lebih sakit.
Sakit hati.
Ama liat kamu lebih sayang sama pasien-pasien lain,
daripada Papa.
Ya, 'kan?
Pulang, Pa.
Ya.
Ditemukan seorang laki-laki tewas.
Laki-laki tersebut diduga bunuh diri dengan mengurung dirinya di dalam mobil.
Bunuh diri dengan gas karbon monoksida,
dari asap knalpot mobil yang terus menyala.
Hantu-hantu itu,
menginginkan sesuatu dari kamu.
Karena mereka ingin menggunakan tubuhmu,
untuk mendapatkan sesuatu yang mereka mau.
Kalian masih ada di sini ya?
Kamu harus menuruti permintaan terakhir mereka.
Karena jika tidak,
kamu akan terus dihantuinya.
Denger ya.
Gue nggak kenal kalian!
Saya Chika.
Saya Bima.
Saya Lita.
Saya Kuatno.
Bukan!
Gue bukan mau kenalan sama lo, lo, lo, lo!
Gue nggak ada urusan ama kalian!
No comments yet. Be the first to leave one.