The first 187 lines.
Sel, kamu tuh sudah gila, ya?
Kok bisa-bisanya sih, kamu janjikan hamil ke mereka?
Kamu yang pengin pindah rumah apa pun alasannya, kan? Ya sudah.
Ya, tapi kan nggak dengan menjanjikan hamil juga, Sel.
Ya terus, aku harus pakai alasan apa, Ra?
- Ya apa, kek! - "Ya apa, kek!" Itu apa?
Ra, gini deh, ya?
Mereka sudah kasih apa yang kita pengin.
Dan sekarang kita kasih yang mereka pengin, adil dong.
Ya nggak adil lah.
Orang tadi kamu nggak minta izin dulu sama aku.
Itu namanya kamu ambil keputusan sepihak.
Kamu juga bikin sandiwara pendekatan nggak izin sama aku.
Itu juga sepihak loh.
Ya beda lah.
Itu kan buat kebaikan kita berdua.
Ya sama lah, Ra. Pisah rumah ini kan juga demi kebaikan kita berdua.
Bedanya, dulu aku yang dijebak, ya sekarang kamu.
Ya sudahlah, anggap saja karma.
Aduh, tapi aku masih belum mau hamil sekarang, Sel.
Ya nggak sekarang juga, Ra.
Sekarang aku mau BAB dulu.
Ra...
Aku kan bilang sama mereka, "tahun ini".
Ya kalau kamu hamilnya baru akhir tahun, ya nggak apa-apa.
Terus kalau sampai akhir tahun aku belum hamil juga, gimana?
Iya juga, ya?
Kok main "Puji Tuhan" saja kita?
Kan dia juga nggak bisa menjamin kalau si Ira hamil tahun ini.
Nggak apa-apa lah, Mak.
Setidaknya mereka sudah berani janji.
Betul itu, Kak.
Kan jadi enak nanti kita tagihnya.
Bukan apa-apa, ya Kak. Dulu kan kaya gitu juga mereka.
Janjinya mau pendekatan.
Tapi sandiwara saja.
Mana tahu kita kalau sekarang juga akal-akalan saja.
Ya ujung-ujungnya kan nikah juga mereka.
Ya, kalaupun Ira nggak hamil juga, tinggal kita suruh balik lagi saja.
Kalau perlu, kita suruh si Ira pakai bayi tabung.
Bayi tabung?
Apa itu, Kak?
Jadi, spermanya Marsel dan sel telurnya Ira dicampur dulu di dalam tabung sama dokter.
Tinggal ditunggu dia berkembang lalu dimasukkan lagi ke rahimnya Ira.
Nah, tinggal tunggu waktu saja sampai lahir anaknya.
Aduh...
Apa tidak bahaya?
Sakit pasti perutnya Ira dimasukkan alat begitu.
Tabung loh itu.
Ya, nggak sama tabungnya juga lah, Kak.
Isinya saja.
Syukurlah.
Aku pikir satu set masuknya.
Sudah terbayang tabung LPG saja aku tadi.
Kita ini mau bikin anak, Kak, bukan mau bisnis katering.
Segala puji bagi Allah.
Si Pepeng dapat komisi, dong?
Jangan lupakan aku loh, Peng.
Siap dong, Mas Agus.
Pokoknya, semua orang yang ada di ruangan ini...
...saya traktir sepuasnya.
- Cakep! - Mantap ini!
Aku suka kalau urusan pangan begini.
Makan di prasmanan mana kita?
Yang rebus atau yang bakar?
Rencananya kuaci, Mas.
Nyebelin kamu, Peng.
Jangan salah, kuacinya spesial, jadi saya kupasin dulu pakai mulut.
Mas terima beres.
Mending aku makan gabah.
Ngapain makan kuaci bekas dari mulutnya dia?
Dicobain dulu, Mas. Seru.
Orang giginya saja sudah terkelupas duluan.
Bikin malas banget kamu, Peng.
Dapat uang banyak, pura-pura lagi. Pelit kamu, Peng.
Ra?
Sudahlah, soal hamil nggak usah dipikirin.
Masih lama juga, kok.
Nih, yang penting tuh ya sekarang, lo bisa keluar dari rumah mertua lo, ya?
Sudah dong.
Mbak Ira, rencana pindahan kapan?
Hari Sabtu ini, gimana? Nanti saya bantu cat.
Nah, boleh tuh. Sabtu berarti gue bisa.
Oke, gue ikut bantu juga, ya?
Yah, Sabtu ada nikahan sepupuku.
Aku tentatif ya, Ra?
Nggak apa-apa, santai.
Sabtu kayaknya aman sih. Bener, ya?
Berangkat, bosku!
Mau berangkat ke mana nih?
Kok aku nggak diajak?
Ya nggak enak lah, kalau kami ajak Pak Yogi.
Ya nggak apa-apa lah.
Meskipun saya di kantor itu bos kalian...
...tapi kalau di luar, aku bisa jadi sahabat dekat.
Ayo, mau ke mana?
Dufan, Ancol?
Atau mau ke Cibodas?
- Ayo, ke mana? - Syukurlah.
Kalau Pak Yogi anggap kami sahabat dekat.
Ini Pak, kami mau bantu Mbak Ira pindahan hari Sabtu.
- Iya. - Pak Yogi mau ikut?
Bantu pindahan, ya?
Iya.
Kalau itu, jatuhnya kita terlalu dekat apa ngggak, sih?
Iya, kan?
Ya kita memang dekat, tapi jangan terlalu dekat, iya kan?
Harus ada jarak.
Tadi katanya sudah sampai Cibodas.
Kenapa, Gus?
Nggak, Mas.
Mas Yogi ada yang bisa kami bantu?
Oh iya, lupa aku.
Semua ke ruang rapat, karena ada yang mau aku obrolin, ya?
Cepat, ya? Semua.
- Iya. - Iya, siap Mas.
Aduh, belum habis lagi.
Oke, sudah kumpul semuanya, ya?
Jadi, begini...
Kau ngapain, Peng?
Rapat, Pak.
Rapat apa?
Bebas saja sih, Pak. Saya ikut saja.
Memang tadi kau kuajak?
Saya sih berasanya diajak ya, Pak.
- Nggak, ya? - Nggak sih, Peng.
Kalau begitu, maafkan perasaan saya, Pak.
Saya balik dulu ke ruangan saya.
Saya duluan ya, Rekan-rekan kerja.
Mari.
Oke, kita lanjutkan ya.
Barusan Pak Peter, pemilik perusahaan kita menghubungi saya.
Katanya...
...anaknya yang lulus S2 di Inggris...
...ingin membuat perusahaan media daring di Surabaya.
Namanya itu "Femio".
Kontennya itu seputar dunia perempuan.
Makanya, bulan depan...
...dia akan sering di sini untuk melakukan riset dan persiapan.
- Jadi, Ra... - Iya, Mas?
Tolong kamu persiapkan...
...presentasi untuk menjelaskan sistem kerja kita.
- Iya, baik. - Karena...
...dia itu mau adopsi sistem manajemen konten kita, ya?
Dan untuk semua kalian, tolong...
...didukung apa pun yang dia butuhkan.
- Paham, ya? - Paham.
Terus begini...
Selama dia di sini...
...tolong kalian jaga sikap.
Dan tunjukkan kinerja kalian yang maksimal.
Karena saya nggak mau dia bawa omongan nggak enak ke bapaknya.
Nanti saya yang repot.
Sama satu lagi.
Nanti kan dia di sini lama...
...tolong ceritakan ke dia...
...tentang kebaikan saya.
Kalian ceritakan tentang kehebatan-kehebatan saya.
Kalian ceritakan ide-ide brilian saya.
Dan kalian ceritakan bagaimana saya menyelamatkan kalian dari jurang kemiskinan.
Sampai saat ini.
Ya? Jadi nggak usah ditutup-tutup soal itu.
Ceritakan saja tentang kehebatan saya, ya? Paham, ya?
- Paham, Mas. - Ya?
Gitu.
Ini karyawan-karyawan yang bantu aku di sini.
Lilis, Yanto, Samsul.
Kau kelas berapa, Dek?
Kok sudah kerja kau?
Sudah dewasa dia.
Tua dia ini.
Maaf ya, nggak kelihatan soalnya.
Iya nggak apa-apa, sudah biasa.
- Iya. - Iya, jadi...
...bibi ini yang akan membantu kita di kafe sini.
Jadi saat saya nggak ada, bibi yang akan pegang kendali semuanya.
Oh iya, kami enaknya panggil "Mbak" atau "Ibu", ya?
Kok ibu sih?
Kalian lihat lah penampilanku.
Coba kalian tebak.
Berapa umurku?
47 tahun, ya?
Mulutmu itu.
Kok cepat sekali jawabnya.
Pelan-pelan saja.
Fokus, kau lihat.
Kira-kira berapa umurku? Pelan.
No comments yet. Be the first to leave one.