The first 200 lines.
FILM INI HANYALAH FIKSI.
TIDAK ADA HEWAN YANG DISAKITI SELAMA PEMBUATAN FILM INI.
TERIMA KASIH PADA DIREKTUR JENDERAL POLISI TAMBAHAN, KOMUNIKASI STAREGIS,
MABES TERPADU KEMENHAN , PEMERINTAH INDIA.
SRI LANKA, 2009 - HUTAN GARANGAN JAFFNA
Tahun 2009, Sri Lanka.
Wilayah Jaffna, Hutan Garangan.
Empat puluh delapan jam setelah pemusnahan Macan Sri Lanka,
angkatan darat Sri Lanka memasuki hutan lebat Jaffna.
Kekuasaan teror Macan sudah berakhir.
Tapi kematian masih saja mengintai di setiap langkah di hutan.
Meski kerajaan mereka membentang di seluruh negeri,
akarnya menancap jauh ke dalam neraka.
Dengan bantuan penduduk desa setempat,
angkatan darat Sri Lanka mulai menggali hutan
guna mencari senjata dan harta karun tersembunyi.
Apa itu?
Kak, tentara.
Apa kau mau bekerja keras sepanjang hidupmu?
Semua, waspada!
Somu!
Kakak!
Selva!
Ayo!
PESISIR ANDHRA PRADESH, INDIA
Siapa kalian?
POLISI
Jawab aku, Berandal!
Dari mana asal kalian?
Myanmar?
Bangladesh?
Atau dari Pakistan?
Kalian teroris atau penyelundup?
Mereka dilatih dengan baik. Mereka bungkam.
Dakwa mereka dengan tiap kasus yang tak terselesaikan.
Baik, Pak.
Ambil berkasnya.
Sri Lanka.
Sri Lanka?
- Macan? - Porter.
Porter? Apa yang kau bawa ke sini?
Pak.
Para militan
membakar seluruh desa kami, Pak.
Tidak tersisa apa pun agar kami bisa bertahan.
Kami ke sini untuk mencari tempat bernaung.
Pikirmu mencari tempat bernaung semudah minta rokok?
Kau mencari tempat bernaung.
Kau butuh kartu pengenal. Ada aturan.
Emas!
Ini cukup untuk masuk.
Lalu, bukti identitas?
Pak, emasnya banyak!
Pakโฆ
Aku mempertaruhkan banyak hal demi batangan ini.
Berhati-hatilah.
Cukup ganti alamat saja atau perlu ganti nama?
Aku sangat menyukai namaku.
Siapa namamu?
Ranatunga.
RAMAYAPATNAM - DISTRIK: PRAKASAM
MASA KINI - NEW DELHI, PUKUL 06.00
POLISI DELHI
PENGIRIMAN GLOBAL
Ini paketnya, Bu Presiden.
Untuk Presiden Yang Terhormat,
Aku menulis surat ini dari Motupalli,
desa kecil di distrik Prakasam, Andhra Pradesh.
Tangan yang menulis surat ini kecil,
tapi masalah yang dihadapi besar.
Semua kakakku mengirimkanmu jari mereka yang putus.
Jika kau tak membantu kami dalam 24 jam,
hanya jari putus kami yang tiba kali ini.
Lain kali, kau akan menerima kepala putus kami.
Hubungi Opsir CBI Satya Murthy sekarang juga.
Segera!
Hidup India, Pak.
Hidup India, Bu.
Aku bisa dengar suara anak itu.
Aku bisa lihat penderitaan anak itu di depan mataku.
Kita harus bertindak, Satya Murthy.
Ini masalah sensitif, Bu.
Sebelum bertindak,
kita harus paham apa yang terjadi di sana.
Kita sering menyatakan sudah membuat kemajuan global,
tapi orang-orang harus berjuang keras untuk menegakkan keadilan.
Ini tak adil, Satya Murthy.
Ini perintahku.
Kau harus pergi ke Motupalli
dan mengumpulkan informasi mengenai kejadian di sana.
Lalu, terus kabari aku berita terbarunya.
Aku memberimu izin khusus.
- Segera mulai. - Ya, Bu.
Hidup India!
Dengar.
Saat aku tiba di Hyderabad,
sampaikan pada pejabat senior Departemen Keuangan
dan polisi yang tahu segalanya tentang tempat itu
untuk datang ke bandara.
Lalu, rahasiakan ini dengan ketat.
Ya, Pak.
MOTUPALLI, PUKUL 07.30
Ini Kishan!
Kishan!
Kita tak mendengarkan dia saat dia menyuruh kita pergi.
Hei, ada lagi di sini.
Lihat!
POLISI
KANTOR LEMBAGA DESA, MOTUPALLI
KOLONI NELAYAN
Jasad-jasad ini ditemukan di ladang di pinggiran desa.
Tapi tak seorang pun bicara.
Kakak!
Apa yang terjadi di desa ini?
Akankah seseorang memberitahuku?
Siapa yang melakukan ini?
Bu.
Aku tahu kau takut berkata jujur.
Tapi air matamu meneriakkan bahwa mereka orang yang kau sayangi.
Bicaralah.
Tidak akan ada yang bicara!
Hei!
Mereka orang mati.
Lalu, yang masih hidup adalah mayat hidup.
Orang-orang ini mengorbankan nyawa mereka demi mengangkat derajat kalian.
Lalu, orang-orang iniโฆ
Mereka membalasnya dengan bersikap layaknya orang asing.
Kenapa?
Karena desa ini
bukanlah desa.
Ini tempat kremasi.
Semua dibakar hingga menjadi abu di tempat terkutuk ini.
Dibakar. Dijadikan abu.
Lihat. Lihat ke sini.
Coba lihat.
Lihatlah.
Lihatlah tangan ini.
Dia tak punya siapa pun di sini.
Gelang rakhi?
Lihat.
Meski sudah tiada, tangannya menunjuk
orang yang mengikat gelang itu.
Kakak!
Kini adiknya sudah terbangun!
Anakku!
Ini dia ibunya.
Sang ayah.
Sekarangโฆ Hei!
Sekarang kau mengenalinya.
Semua orang menangis sekarang.
Setidaknya beri tahu aku sekarang!
Katakan siapa pelakunya!
Ranatunga!
Kami tak bisa lakukan iniโฆ
Persetan denganmu!
Dengar.
Salah satu anakku berpikir sebelum mengangkat tangannya.
Lalu, yang satunya, Somulu, sama sekali tak berpikir.
Lakukan tugasmu
sebelum dia tiba di sini.
Bu, tapi ini hari Minggu.
Jadi?
Apa kau tak makan pada hari Minggu?
Tidak minum pada hari Minggu?
Tulis tanggal esok hari dan tanda tangani.
- Buโฆ - Ayo!
Lakukan!
Tugas dan surat perintah? Kata-kata yang serius.
Siapa yang mau kau tangkap?
Ranatunga!
Ranatunga?
Sepertinya kau belum pernah mendengar namanya.
Sebelum itu menjadi nama terakhir yang akan kau dengar,
izin sakit saja dan bilang kau tak bisa masuk selama sepekan,
lalu tetaplah diam.
Berhenti!
Berhenti di sini! Semua berhenti! Berhenti!
Kita tak akan pergi lebih jauh lagi.
- Kenapa? - Kami takut, Bu.
Apa kau tak malu?
Kau opsir polisi!
- Siapa yang kau takuti? - Dia Ranatunga, Bu.
Dia Ranatunga!
Aku tak bisa lakukan ini, Bu.
Aku punya keluarga yang harus kujaga.
Aku mengundurkan diri saat ini juga!
Kau boleh lanjutkan.
Aku juga tak bisa, Bu.
Namaste, Bu.
Maaf, Bu.
Maaf, Bu.
Maaf, Bu. Aku juga pergi.
Para pria ini pergi.
Apa kalian mau pergi juga?
Kami akan ikut denganmu, Bu!
Apaโฆ
Hajar mereka!
Kalian tak berguna!
Kalian sekumpulan pengecut?
Hentikan mereka!
No comments yet. Be the first to leave one.