The first 200 lines.
Sahil!
Baiklah, dah.
Hari ini juga telat?
Cepatlah.
Bus terakhir hampir pergi.
Tunggu dulu!
LINGKAR LUAR
Masih sempat, Soo.
Tenang saja.
Paman, kami harus ke pangkalan.
Kami mau ke sana. Naiklah, Nak.
Ayo.
Rasanya enak sekali.
Aku suka ini.
Jika terus kau buka tiap dua menit, es krimnya mana bisa beku? Tutup.
Soo! Kita coba satu hal, biarkan ini terbuka.
Agar rumah ini jadi seperti Kashmir.
Genius!
Tunggu, jangan-jangan namamu… Einstein Arora?
Kau ini kenapa?
Mulai hari ini, aku jalan mundur.
Jalan untuk mendorong bumi dan membalik waktu!
Kau belum berkumis, tapi sudah membual.
Berikan tangan ini, Soo!
-Ibu! -Hei, ada apa? Sahil, lepaskan dia.
-Ibu datang, jadi kulepaskan. -Bodoh.
Dia menyebutku bodoh, Ammu.
Dia benar.
-Nak, cepat. Nanti telat. -Baik, Bu.
Aku sudah siap, tapi…
Antingku hilang.
Jika aku terlambat, posisiku diberikan kepada Deepa.
Ini, pakai ini. Cocok untukmu.
Biar Ibu bantu.
Terima kasih, Bu.
Ibu bangga kepadamu, Nak.
Kau bagai Lata bagi Ibu.
-Sakit? -Tidak.
Ayah menelepon semuanya dan mengatakan Suman kami akan menyanyi di radio.
Ini momen yang manis, Bu.
Dah, Soo.
Salam untuk Deepa.
Kau ikut dengannya.
Katanya kau akan "berusaha".
Tidak…
Hei, awas bajunya!
Sahil!
Tapi kenapa selalu aku? Aku tak mau ikut dengannya.
Bu, aku bisa pergi sendiri.
Tak terlalu jauh.
Aku tak butuh pengawal ini.
Justru kau pengawalnya.
Dia cuma ikut agar kau percaya diri. Ayo.
Ayo pergi.
Nanti malam, es krimnya sudah siap. Kita makan bersama.
Ini untuk taksi. Nanti Ayah akan jemput.
Ibu mendoakanmu.
Sahil!
-Jangan berkelahi. -Baik.
Sini.
Ya, Pak.
Sudah dengar?
Bukan, Pak. Bukan putraku. Suman yang menyanyi. Putriku.
Sahil bahkan tak kami izinkan menyanyi di rumah. Ya.
Ya, Pak. Baiklah.
Salam.
Selamat datang di acara Madhur Geet.
-Sekarang… -Mulai!
…yang membawakan lagu terakhir malam ini
adalah seorang penyanyi muda, Deepa Dhanraj.
Putri kita penyanyi utamanya, mungkin nanti saat lagu terakhir.
Tapi sudah selarut ini.
Acaranya hampir selesai.
Kenapa begitu?
Katanya jika dia terlambat, posisinya untuk Deepa.
-Mungkin dia terlambat. -Tidak.
Itu penampilan terakhir malam ini di acara Madhur Geet.
Terima kasih.
Suman pasti sangat sedih.
Dia sudah lama berlatih.
Kenapa mereka begini?
Aku akan periksa ke stasiun radio.
Siapkan makan malam. Aku akan menjemput mereka.
RADIO NASIONAL
Kau lihat Suman dan Sahil?
Tidak, Paman.
Mereka tidak di sini.
Tidak di sini? Mereka sudah pulang?
Mereka tak datang, Paman.
Kami sudah menunggu sejak pukul 19.00.
Kami pikir mereka kurang sehat.
Tapi Suman tak akan melewatkan tampil di sini.
Suman dan Sahil pergi bersama. Kau tak lihat?
Ayahku datang, Paman.
Aku harus pergi. Dah.
-Halo? -Ya, Mona.
Mereka sudah pulang?
Apa maksudmu "sudah pulang"?
Mereka tak bersamamu?
Tidak. Tadi aku bertemu Deepa.
Katanya mereka tak datang.
Mereka pasti terlambat.
Sudah periksa di atas?
Mereka tak di sana. Sudah tutup.
Bagaimana mungkin?
Mereka tak pernah pergi tanpa mengabari…
Ya, akan kuperiksa. Tenang.
Pasti di dekat sini. Mungkin di tempat teman.
Atau di halte bus.
Tapi Suman tak mungkin melewatkan…
Coba telepon dan pastikan dengan teman-teman mereka.
Aku periksa di sini.
Ny. Sharma? Aku ibu Suman. Apa Sahil dan Suman di rumahmu?
Halo?
Apa Sahil dan Suman di rumahmu?
Bisa bicara dengan Renuka?
Nak, kau bertemu Sahil dan Suman?
Kau tahu mereka di mana?
MUMBAI, DELAPAN HARI LALU
Hei, Samba!
Rakyat Ramgarh memberi makan putri-putri mereka apa?
Lihat saja tangan dan kakinya.
Penjahatnya pasti senang.
Bagus sekali…
Meniduri protagonis wanita
dan saudari protagonis pria.
Jika bisa, para bajingan ini pasti meniduri protagonis pria.
Omong-omong,
kau fokus pada film apa?
Si gemuk ini akan membungkusnya malam ini.
Kenapa itu mengusikmu, Rajjo sayang?
Hidupmu kering kerontang,
biar orang lain dapat jatah.
Veeru!
Ikat bajingan itu!
-Ayo pergi. -Ke mana?
Ayo, sialan.
Sepertinya mereka sangat dekat.
Mau foto untuk kau simpan di dompet, Bajingan?
Atau kau mau…
-Kau… -Hei!
Abaikan saja, Pak.
Dia bodoh.
Hei, minta maaf kepadanya. Cepat.
Bajingan.
Tapi itu bukan salahnya, Pak.
Aku kasihan kepadamu.
Tuhan memberimu tubuh sebesar truk,
tapi kau pakai celana seukuran sepeda.
Bajingan!
Rajjo, hajar dia!
Pencuri!
Cuma enam rupe?
Hajar si miskin ini!
Bajingan ini memakai jas meski sepanas ini.
Rajjo, kabur!
Hei, kau! Berhenti!
Kalian siapa? Mau ke mana?
-Babu! -Kau mau ke mana?
Babu, selamatkan aku!
DELHI, SEKARANG
Berhenti… Berhenti.
Pak Mutton datang.
-Berapa? -Dua belas rupe.
Salam, Pak.
-Biar kubawakan. -Aku bisa.
-Apa kabar putrimu? -Baik.
Restumu sangat berarti.
Jayprakash mana?
Dr. B.R. Ambedkar,
N. Gopalaswami Ayyangar,
Muhammed Saadulla,
Krishnaswamy Ayyar,
K.M. Munshi, B.L. Mitter,
dan Dr. D.P. Khaitan.
Babasaheb juga memimpin Komite Perancang Draf tahun 1947.
Kali ini kau pasti lolos, Pak.
Tanyakan pertanyaan berikutnya, Tn. Javed. Silakan.
Sebutkan nama Pembicara Lok Sabha pertama.
Sudah kubilang berkali-kali, matikan.
-Javed! -Astaga.
Katamu mau berhenti merokok.
Kenapa sekarang merokok?
Kemarin dia berhenti, besok berhenti lagi.
Tentu saja.
Baiklah, rapikan. Simpan buku-bukunya.
Usiamu sudah cocok untuk menikah, tapi belajar… tak ada akhirnya.
Javed. Kau yang masuk akal, buatlah di sadar.
Sadarlah, Pak.
Terserah.
Jika belajar bisa membuat dipromosikan, Ayah sudah pensiun sebagai superintenden.
Ayah tak datang ke kantor sesering ini saat masih bertugas.
Jika kau pulang tepat waktu untuk makan,
Ayah akan berhenti ke kantor.
Ujiannya beberapa hari lagi, Yah.
Tugasku banyak.
Kami mau memesan chhole poori dari toko Lallan.
Pesan sekarang. Belum terlambat.
Hei, Pak Mishra!
Cepat kemari, cuci tangan dulu.
No comments yet. Be the first to leave one.