The first 200 lines.
Saya terima nikah dan kawinnya Hanggini Prameswari
binti Damar Sugondo, dengan maskawin tersebut dibayar tunai.
Cah Ayu, aku pengin kamu jadi istri yang setia.
Cintailah Arga sepenuh hati
dalam suka dan duka,
seperti ibumu.
Dia sangat mencintai kamu.
Dia sebut namamu dalam setiap doanya.
Arga, Cah Bagus, aku titip anakku, ya.
Cintailah dia, sayangilah dia.
Karena sepeninggal ibunya,
dia hidup bersamaku, cuma berdua.
Artinya, dia tidak mengenal cinta yang utuh.
Aku minta kamu melengkapinya.
Sekarang kamu suaminya.
Kamu adalah imamnya.
Papa!
Kata Mama, cepetan nyuci mobilnya.
Yah, Papa baru mulai, Sayang.
Bantuin, ya?
Bimbing dia ke jalan yang benar, yang damai.
Yah, udah mau hujan, Nak.
- Ayo, buruan. - Iya!
Kalau kira-kira dia berbuat salah,
tegur dia, tapi yang halus.
Papa!
Nak! Ayo, hujan!
Jangan kasar.
Jangan sampai dia merasa sendiri.
Ayo, udah nyucinya.
Kalau hal itu terjadi,
artinya kamu menyakiti hati kami berdua.
Kamu basah dari tadi. Ya ampun.
Aduh!
Saya janji, Pak.
Saya akan menjaga dan menyayangi Hanggini sepenuh hati saya.
Dan saya tidak akan pernah untuk menyakiti.
Nak. Ini basah semua. Udah.
Udah! Udah, Papa!
Papa!
Satu lagi.
Nala!
Aduhโฆ Bobok.
Masa, sih, bobok? Aduh.
Sini.
Mama mau kasih tahu sesuatu.
Sini coba.
Ada apa, sih?
Selamat ulang tahun!
Aduh, maaf. Maaf, Papa enggak sengaja.
Ya, tapi ulang tahun itu kan, harus cemong.
Cemong!
Nala!
Suruh cemong?
- Sini. Siapa yang pengin cemong? - Jangan Nala, dong!
Kan, Nala lagi ulang tahun!
Ayo, sini! Sini, enggak!
Katanya ulang tahunโฆ
Iseng banget, sih.
Sini, enggak?
Ayo, mau ke mana? Ayo!
Assalamualaikum warahmatullah.
Assalamualaikum warahmatullah.
Ya Allah,
semoga Nala selalu menjadi anak yang baik.
- Amin. - Amin.
Yang sayang sama Papa, sama Mama.
Amin.
Pintar di sekolah. Berprestasi.
- Amin. - Sukses.
Dan tercapai semua cita-citanya.
- Ya, Nak? - Amin.
Dan semoga kita semua,
Papa, Mama, Nala,
- selalu diberikan kesehatan. - Amin.
- Keselamatan, keberkahanโฆ - Amin.
โฆdan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
- Amin. - Amin, ya Rabbal Alamin.
Sarapan duluan. Nala ditinggal.
Cantik banget anak Papa.
Iyalah, Pa. Nala mau, ya?
Boleh, dong.
Permisi.
- Nala minta sendok. - Oke.
- Terima kasih. - Cuma Mama aja yang dicium.
Enggak apa-apa.
Sabar.
Dulu ajaโฆ
"Papa cowok paling keren.
Paling ganteng.
Terbaik sedunia."
Sekarang mana, coba, Ma?
Lihat itu.
Fotonya itu udah bukan foto Papa lagi di ponselnya.
Diganti sama Bryan Domino.
- Domani, Papa. - Iya, siapalah itu.
Domino, kek. Domani, sama.
Beda.
Tapi, ya udah. Pokoknya,
sebenarnya Papa itu orang paling ganteng, paling keren, palingโฆ sedunia.
Bryanโฆ Apa tadi?
Domino? Kalah.
Aduh!
Di rumah.
Di sekolah, kalau aku anter, boro-boro.
"Papa! Enggak usah peluk-peluk aku.
Aku malu dilihatin teman-teman."
Tapi kan, ujung-ujungnya juga Nala peluk juga.
Setelah berantem.
Nih. Udah siap. Itu.
- Itu juga. - Makasih, Sayang.
- Asalamualaikum. - Waalaikumsalam.
- Dah. - Dah.
Nala, sabuk pengaman, Sayang.
Nakโฆ
Ya, 'kan?
Coba bayangin, kalau misalnya Papa ngebut, gimana?
Yah, tapi kan, Nala selalu percaya sama sopirnya.
Apa?
Jadi, selama ini kamu anggap Papa ini sopir?
Bercanda!
Jadi, tadi cuma akting doang di meja makan?
Oke.
Besok-besok kamu naik taksi daring aja kalau gitu.
Enggak gitu, Papa.
Ya udah, kalau Papa yang nganterin, tetap, mana ongkosnya?
- Enggak ada sekarang yang gratisan. - Bercanda.
- Udah. Ini. - Lagian, sih, main ponsel terus.
Apa itu?
Gelang.
Jadi, Bu Mia itu merekomendasiin Nala
buat jadi calon peserta Creative Youth Exchange.
- Di London, Papa. - Keren banget, Sayang.
Ya, 'kan?
Papa bahagia banget, lho.
- Itu kapan? - Sebulan, pas libur sekolah.
Tapiโฆ
Beasiswanya itu cuma buat asrama sama belajar di sana doang.
Jadi, tiket sama uang sakunya ditanggung sendiri.
- Apa enggak usah aja, ya? - Jangan, dong.
Itu bagus banget, lho, buat kamu.
Udah, enggak. Pokoknya, kamu fokus aja latihan.
Persiapin semuanya buat ke London.
Jadi, kalau misalnya kamu nanti keterima, udah, semuanya udah gampang. Udah aman.
- Itu berarti boleh, dong? - Ya, boleh.
Pokoknya, selama cita-cita kamu positif, apa pun itu,
insyaallah, Papa wujudin. Janji.
Sayang Papa.
Ini, buat Papa gelangnya.
- Pakein, dong. - Ya, oke.
Aduh, susah.
- Kamu juga punya? - Punya.
Kembaran!
Ya!
London!
- Aku ke London! - London!
Kan, Nala udah pakai sabuk pengaman, Papa.
Ya, sori.
Papa enggak sengaja.
Oke, lemesin aja tangannya, ya.
Saya ketok di sini.
Itu.
Oke.
Bagus, kok, reaksinya.
Tapi masalahnya, saya udah enam bulanan ini kan, bolak-balik terapi terus, Dok.
Saya udah minum obat dan vitamin dari Dokter juga.
Cuma kayaknya belum ada perkembangan yang signifikan banget, ya?
Malah cenderungโฆ Apa, sih?
Tangan saya itu kayak makin lemas, makin lemah.
Malah kadang-kadang itu sukaโฆ Suka muncul kayakโฆ
Apa, ya, namanya? Kayak kedutan gitu.
Walaupun ini datang dan pergi. Kadang-kadang ilang, kadang-kadang muncul.
Sama kalau pagi-pagi itu, Dok, saya berasa kayak kaku banget.
Keluhan seperti itu bisa terjadi, Pak Arga,
terutama kalau sarafnya itu masih dalam proses pemulihan.
Saya bikinin resep, ya.
- Pagi. - Pagi, Pak. Sudah ditunggu, Pak.
Oh, ya. Oke.
Sebentar, Pak.
Arga udah datang ini.
Selamat pagi, Pak Robby.
Maaf, agak menunggu sebentar.
Gimana, Pak?
Oke, kita langsung saja, ya, Pak Arga, Mas Rio.
Jadi, saya mau menginformasikan
bahwa rencana kontrak kerja sama kita gagal
dikarenakan banyak pengurangan anggaran dari pusat. Ya?
Banyak proyek yang harus dipangkas, Pak.
Oke.
Kalau kita ngomongin arus kasโฆ
Gini, Pak.
Nanti soalโฆ
- Keputusannya sudah final, Pak Arga. - โฆterminnya, kita bisa atur lagiโฆ
Sudah final, Pak Arga. Keputusannya sudah final. Ya?
Dan itu semuanya dari pusat.
Jadi, Bapak mau menjelaskan apa saja ke saya, enggak ngaruh, Pak.
Saya enggak bisa apa-apa. Ya?
Ada lagi, Pak?
- Cukup, ya. - Oke.
Terima kasih, Pak Robby. Semoga nanti kita bisa kerja sama lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.