The first 200 lines.
Berita Kebakaran!
Lho, hei!
Banyak omong kamu!
Aku tahu trikmu!
- Babi Ngepet! - Arwah anjing.
- Arwah anjing? - Anjing!
- Hmm! - Oh!
Arwah, arwah!
Arwah, arwah!
Hei!
Mari kita mulai.
Selamat.
- Akhirnya. - Oh, ya ampun. Masih bobo.
Sst.
- Ayo, main saja. - Lanjut?
Yuk. Jangan gigit, Nak. Jangan gigit.
Jadi apa?
Jadi apa sekarang?
Sekarang jadi apa?
Jadi apa sekarang?
Mana? Barangnya mana?
Hei, Semuanya! Ayo pada berkumpul!
Oh, mikrofon!
- Ya, toa. Bisa. - Mik apa? Toa.
Jadi apa?
- Jadi apa? - Jadi apa?
Ya, benar.
- Oh, petinju. - Sarung tinju!
Jadi apa?
Jadi apa?
- Oh. - Hidung.
Hidung babi.
- Oh, hidung babi. - Hidung babi!
- Babi? - Babi!
- Babi. - Benar, babi.
- Benar. - Babi.
Benar.
Jegel diincar.
Lempar-lempar sendiri.
Jadi apa? Eh, anaknya mana tadi? Anaknya?
Sst.
Oh, tidur. Jangan diganggu.
- Dalam keseharianku merawat... - Penggulung rambut!
Penggulung rambut.
Jadi apa?
Jadi apa sekarang?
- Hap! - Kaget gue.
- Jadi kaget! - Bukan, belum.
- Oh, belum. - Belum.
Makanan ikan. Tempat makan ikan.
Makan ayam.
Tabur bunga?
Jawab, dong! Jawab!
- Jangan pasif, aktif! - Penabur nasi?
Kasih makan anjing?
- Garam? - Kasih makan anjing?
Makanan anjing.
Indra Jegel itu sudah pasti sasaran tembak saya itu.
Oh, ya. Ya.
- Ganti barangnya. - Ya, 'kan? Ah, lumayan.
- Ya, ganti barang? - Ini?
- Ya. - Jadi apa?
Sekarang jadi...
- Bulu ketiak. - Bulu ketiak.
Bagus dia, pintar. Cerdas.
Jadi apa?
Sst!
Apa, tuh?
Uh, soang?
- Sedikit lagi? - Angsa?
- Bukan, sedikit lagi. - Ayam?
- Bukan, sedikit lagi. - Bebek?
- Ular? - Bukan.
- Burung merak? - Bukan.
Ular tertimpa rumput?
Betul.
- Oke. - Betul.
- Oh, begitu. - Ular tertimpa rumput.
Jadi apa?
- Oh, mi. - Nah!
- Makan mi rebus. - Mi instan.
- Makan mi. - Makan mi.
- Mi instan. - Makan mi.
Jadi apa sekarang?
Hmm, ini. Pasti lucu ini.
- Sulap? - Kura-kura ninja?
- Selendang? - Sulap?
- Pedang? - Pedang?
Sulap.
- Benar tadi sulap? - Ya, terus apa?
- Benda ini apa? - Ya, apa? Itu maksudnya
itunya apa?
- Kan, benda ininya. - Bendanya apa?
- Main sulap. - Ya, bendanya apa?
Gun, bendanya apa? Gun?
Oke.
Kenapa ketawa? Kok, ketawa?
Maaf, saya enggak menyimak. Tadi ada yang...
dua orang, harusnya kena!
- - Enggak.
Tadi apa sih yang terjadi? Saya enggak menyimak.
Ada apa, sih? Kenapa tiba-tiba...
Kan, dari saya. Saya bilang, "Saya sulap."
Ya. Dia tanya sulap apa?
Jujur, di otak ini saya enggak ada barang apa.
Saya bingung, karena saya habis makan pisang, Pak.
- Ya. - Benar, saya enggak bohong.
Jujur.
- Kita, 'kan, ada banyak kamera. - Betul.
- Jadi, kita lihat saja siapa... - Tolong jangan saya dulu, Pak.
Siapa-siapa saja yang tertangkap senyum atau tertangkap tertawa.
Mari kita lihat.
- Selendang. - Sulap.
- Pedang? - Pedang?
- Pedang? - Sulap.
- Benar tadi sulap? - Ya, terus apa?
- Benda ini apa? - Ya, apa? Itu maksudnya
itunya apa?
- Kan, benda ininya. - Bendanya apa?
Main sulap.
Ya, bendanya apa?
Gun, bendanya apa? Gun?
Bendanya apa?
Kok, lo ketawa, Gun?
Oke.
Berarti Lord Igun tadi...
Pak, ada dua orang, Pak. Saya gara-gara dia juga.
Satu dulu. Satu-satu saja dulu.
Lord Igun, tadi sebelumnya sudah pernah kena, ya?
- Ya, kuning. - Kuning?
Berarti...
Ih, tadi yang kedua, gue enggak sengaja lho, Kawan.
- - Ya, semua enggak sengaja.
Enggak ada yang percaya kayaknya.
Ya, enggak ada yang sengaja ketawa juga di sini.
Oke, kalau begitu. Minta tangannya.
Ucapkan selamat tinggal.
Gun! Igun! Dah!
Ya sudahlah. Pokoknya sudah intinya, tuh,
gue enggak terima ya kalau misalnya, uh,
harus keluar dari ruangan itu.
Tapi satu sisi bersyukur banget gitu.
Ternyata... Haduh, beban hidup gue itu sudah...
Sudah legalah.
Ada juga orang yang akan saya beri hukuman.
- Mari kita lihat. - Ah, mampus!
- Waduh. - Mari kita lihat
siapa orangnya.
Sini, sini duduk.
Gun, bendanya apa? Gun?
Bendanya apa?
Ah, remuk juga lo.
- - Lo ketawa, tuh.
Kan?
Kan, dia, 'kan!
- Ya. - Siapa lagi?
Ya, wajahnya sudah tidak bisa dipungkiri lagi.
Maka, Lord Gilang, Anda oleh saya terkena
uh, Kartu Kuning.
Lo mau yang Kuning atau yang ini?
Yang ini, enak saja. Memangnya gue tolol?
Muka gue didorong begitu,
itu gue sudah enggak kuat lagi, sudah pecah di sana.
Hei, gue korbankan satu kali ketawa gue
biar lo keluar dari sini.
Dasar sialan.
- Lord Igun, boleh ucapkan... - Yuk. Sudah, yuk.
- Kok, buru-buru banget, sih? - Semuanya.
- Sudah! - Apa?
- Apa? Mau ngomong apa? - Mau ngomong apa?
Lo memang berengsek semuanya.
Dah, Semuanya. Ucapkan selamat tinggal.
- Dah! - Dadah!
Dah, Igun!
Kita mulai, ya.
Coba, mulai, Asri.
- Tebak kata. - Tebak.
Jadi, ujungnya apa, nanti tinggal disambung?
Temanya tentang keluarga.
Keluarga, ya.
Keluarga Berencana, dua orang saja, cukup.
"Kup", dari kata "kup".
- "Cukup" atau "kup"? - Kok, dari kata "kup"?
Mana ada kata "kup".
Iya, suku kata atau kata?
- Huruf belakangnya apa? - Lah, biar lebih sulit,
- suku kata. - Oke.
- "Kup". Berarti, "kup". - "Kup".
- Oke. - "Kuping".
- Nah itu juga, tuh. - "Kup", ya.
"Kup" keluarga.
Tentang keluarga temanya.
Kuping ibumu, kuping ayahmu, kuping anakmu.
Kita ini keluarga kuping.
Maka, dengarkanlah.
- Oh, keluarga kuping. - "Lah".
"Lah", 'kan?
Lah.
Lahir.
Kita berbakti kepada ibu,
No comments yet. Be the first to leave one.