The first 200 lines.
Bagaimana?
Warnanya kurang jelas terlihat
karena pencahayaan di toko ini berwarna jingga.
Jadi, boleh kulihat di luar saja?
Boleh. Silakan.
Terima kasih.
Silakan.
- Terima kasih. - Mohon maaf atas pencahayaan kami.
- Bagus. - Bagaimana sebaiknya?
Kau mau melihatnya di bawah sinar matahari?
- Terima kasih. - Tentu.
- Bagus juga. - Ya.
- Warnanya bagus. - Ya, warnanya indah.
Apa sebaiknya kubeli saja?
Terima kasih sudah menunggu. Ini kopi panasmu.
Terima kasih.
Biar kuambil piring yang kosong.
- Terima kasih. - Silakan nikmati.
Apa rencanamu untuk akhir tahun nanti, Ayana?
Kau mau mendatangi keluargamu?
Ya, rencanaku begitu.
- Kau dari Toyama? - Ya.
- Kau sendiri, Wachi? - Aku dari Saitama.
- Kau akan pulang juga? - Ya.
Tapi kurasa tak begitu spesial karena aku bisa pulang kapan saja.
- Ya. - Ya.
Aku baru ingat,
aku mau minta pendapatmu. Di hari Natalโฆ
Tidak usah membahas itu, Pak Joe.
- Kita tanya sudut pandang wanita. - Jangan, tak usah!
- Baiklah. - Ya.
Bagaimana pendapatmu tentang bekerja di malam Natal atau hari Natal?
Wachi bilang,
"Aku punya pacar, tapi tak apa-apa. Aku akan masuk kerja."
Padahal kusuruh dia libur saja.
Pak Joe, kau sebenarnya sudah tahu bagaimana sudut pandang wanita.
Malam Natal itu harus dihabiskan dengan orang tercinta, bukan bekerja.
Tapi ada sebagian orang yang tetap harus bekerja, 'kan?
Pastinya bukan aku.
Biasanya yang terjadi justru kebalikannya.
Pegawainya mau libur sementara bosnya mau mereka masuk kerja.
Jadi, kau termasuk yang mana, Ayana?
Kurasa aku sama sepertimu, Wachi.
Dengar itu.
Di mana-mana selalu ramai di malam Natal dan Hari Natal.
Jadi, lebih baik libur di hari lain saja.
Tepat sekali.
Apa lagi kita bekerja melayani pelanggan.
Berarti kau akan bekerja di tokomu di malam Natal nanti?
Tidak, aku libur.
- Apa? - Apa?
- Kau libur? - Sebentar.
- Apa? - Tunggu, dengar dulu.
Pacarku berpikiran sama sepertimu, Pak Joe.
Jadi, pacarmu tipe orang yang suka merayakan hari-hari spesial?
- Ya. - Baguslah.
Jadi, aku libur untuk menghabiskan malam Natal itu dengannya.
Lalu, apa rencanamu di hari Natal?
Kami berencana membeli kursi.
- Kursi? - Ya.
Aku mau kursi yang imut.
Kursi, ya?
Baiklah.
Kursi untuk Sinterklas, ya?
"Kursi untuk Sinterklas", katamu?
Apanya yang lucu?
Tidak ada yang lucu.
Halo.
Halo.
Halo.
Halo.
- Halo. - Halo.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemuiku.
Tidak masalah.
- Tunggu sebentar. - Baik.
Terima kasih kau mau ikut gelar wicara setelah Tahun Baru. Sudah baca surelku?
Maaf, aku belum membalasnya, tapi sudah kubaca.
Syukurlah.
- Ini. - Terima kasih.
AYANA TSUCHIDA ACARA TANDA TANGAN DAN GELAR WICARA
Jadi, apa yang mau kau bahas?
Tentang novel yang sedang kugarap ini.
Aku ragu apa harus terus melanjutkannya.
Kenapa kau ragu?
Yamada berkata sesuatu?
Tidak, bukan begitu.
Begini, karakter di cerita ini memperlihatkan perasaan iri,
tapi kurasa salah
jika karakter itu memperlihatkan rasa iri
kepada Kozue yang aloromantis dan aseksual.
Aku mengerti itu.
Kau juga berpikir begitu?
Kozue, selaku teman tokoh utamanya, memang aloromantis dan aseksual.
Dia bisa merasakan asmara terhadap orang lain,
tapi bukan perasaan seksual.
Oleh karena itu, kemungkinan besar,
dia tak pernah merasakan bagaimana suatu hubungan berubah
atau bahkan kandas
karena ada unsur seks yang terlibat.
Benar.
Lalu, tokoh utamanya iri karena itu, 'kan?
Ya.
Tapi tokoh utamanya punya pilihan
antara mau bercinta atau tidak.
Jadi, entah kenapa kurasa salah
jika dia merasa iri pada Kozue
yang tak punya ketertarikan secara seksual pada siapa pun.
Aku baru terpikir begitu.
Sepertinya ada yang kurang dari cerita ini.
Omong-omong,
apa yang membuatmu iri, Tsuchida?
Apa?
Karakter Kozue ini diilhami dari teman kuliahmu dulu, 'kan?
Ya.
Apa yang membuatmu iri pada teman kuliahmu itu?
Ada dua hal.
Salah satunya persis seperti yang kau sebutkan tadi, Bu Tada.
Kurasa aku lebih mudah jatuh cinta
dibandingkan orang lain.
Baik secara seksual maupun nonseksual.
Tapi temanku itu,
dia benar-benar tak ada hasrat untuk tidur dengan siapa pun.
Jadi, dia tak pernah merasakan bagaimana hubungan bisa berubah
karen tidur dengan seseorang.
Itu yang membuatku iri padanya.
Lalu, hal satunya?
Ituโฆ
Kurasa
aku kagum pada ketulusannya.
- Ketulusannya? - Ya.
Ada pria yang menyukainya.
Dia benar-benar berusaha menganggap serius perasaan pria itu padanya.
Sedangkan aku,
aku tak pernah bisa begitu.
Makanya aku iri padanya.
Tapi dalam hal ini,
semua itu tak ada kaitannya dengan aspek aloromantis dan aseksualnya.
Kurasa
hal itu lebih karena kekagumanku pada kepribadiannya.
Mungkin memang itu.
Apa?
Itulah bagian yang kurang dari cerita ini.
Apa maksudmu?
Semua orang punya ciri khas yang berbeda.
Itu sudah jelas.
Tidak semua aloromantis aseksual itu sama.
Jadi, alih-alih membuat karakternya menggambarkan kedua aspek itu,
kurasa jauh lebih baik
jika kau gambarkan Kozue sebagai seseorang dengan ciri khasnya.
Saat menceritakan kelompok minoritas seksual,
ada kecenderungan untuk hanya berfokus
pada hubungan asmara atau orientasi seksual mereka.
Padahal
ada yang suka kucing,
ada yang alergi mentega,
ada yang tak sabar,
ada yang lebih suka berpakaian yang berwarna cerah,
dan ada pula yang suka langit mendung.
Banyak sekali faktor dan komponen yang membentuk seseorang,
dan sebenarnya,
kesungguhan dan ketulusan juga termasuk di dalamnya.
Jadi, ketika kau menggambarkan karakter Kozue,
kurasa akan lebih bagus jika bukan karena dia aloromantis aseksual semata,
tapi karena dia juga seorang manusia.
Gambarkan pesona
serta hal-hal kecil tentangnya
yang hanya diketahui olehmu saja.
Pikiranku sudah sedikit lebih jernih sekarang.
Astaga, semuanya bagus.
Ya.
Kau suka yang mana?
Aku tak bisa memilihnya.
Pilih saja yang kau suka, Ayana,
karena kau yang lebih lama di rumah daripada aku.
Padahal itu rumahmu.
- Beli dua saja untuk masing-masing rumah. - Ya.
Aku tak tahu.
- Kita pilih yang mana? - Entahlah.
- Yang ini manis juga. - Ya.
Kita harus pilih yang mana?
Jadi, barang-barangnya dikirim ke dua alamat rumah ini?
- Ya. - Baik.
Terima kasih.
Tentang estimasi pengirimannya,
kira-kira akan memakan waktu dua bulan.
Pengirimannya dijadwalkan sekitar akhir Februari. Tidak apa-apa?
Februari. Tidak apa-apa, 'kan?
Tidak apa-apa.
- Kalau begitu, diproses saja. - Terima kasih.
Enak.
- Ya. - Ya.
Dari mana kau tahu tempat ini?
- Kau baru pertama kali ke sini? - Ituโฆ
Aku pernah datang ke sini dengan rekan kerjaku.
- Rekan kerjamu? - Ya.
Pesta kecil-kecilan setelah proyek tata rias dan rambut kami
untuk iklan rampung.
Hei.
Selamat Natal.
Apa itu?
No comments yet. Be the first to leave one.