The first 162 lines.
Anak bawa sial!
- - Nggak usah panggil lagi papa-mama!
Karena kami nyesel punya anak kayak kamu! Setan!
Nggak usah panggil aku mama lagi!
Seharusnya dari kecil kamu kami buang!
- Diam di sana! - Kasihan, Pa!
Jangan keluar selamanya!
Kamu jangan ikut campur! Kamu juga sial! Setan semua!
- -
Lawan, Kak.
- -
Lawan, Kak.
Lawan, Kak.
Lawan, Kak!
Lawan!
Pagi, Pak!
Pak, saya belum telat, 'kan?
Telat sih belum, ya.
Tapi 'kan kamu sudah pindah sekolah.
Oh, iya.
Empat puluh lima menit lagi.
Kayaknya soalnya gampang, ya.
Pagi, Bu.
Ini nih calon juara kelas.
Jam segini baru datang.
Makasih, Bu.
Sepuluh menit lagi.
Jangan lupa ada pertanyaan di halaman sebaliknya.
Waktu habis.
Ayo dikumpulkan, Anak-Anak.
Riani, waktu habis. Ayo dikumpulkan.
Mending mati daripada ngerjain ini lagi.
Gimana, sih? Katanya belajar.
Semua pertanyaannya nggak ada jawabannya.
Eh, api!
Riani!
Mundur! Semuanya, mundur!
Riani gimana, sih?
Itu apinya dari mana, sih?
- Dimatiin, dong! Air, air! Air! - Kamu bawa korek, ya?
Mundur!
Matiin, Bu!
Bu, air, air, Bu!
Air, dong! Air!
Ini karena semuanya kebakar, Ibu nggak bisa kasih nilai.
Jadi, ujian diulang.
Kacang dan permen karet, Ri.
Langsung kamu makan kalau kamu pingin merokok lagi.
Pingin ngerokoknya sekarang.
Ih, kamu, ya, dibilangin.
Kamu sudah tiga kali, lho, pindah sekolah.
Ayah sudah nggak bisa lagi pindah-pindah kantor, pindah kota.
Ya, Bu.
Oke, Ri.
- - Ri.
Hati-hati.
Pilih teman yang benar, ya.
Ri, inget, ya. Ini hari pertama, lho.
Ya.
Sumpah, lucu banget!
Oh, Vanessa!
Penting banget, ya, ke sekolah pakai mobil begituan?
Sok kaya banget, sih.
Udah dibilangin nggak boleh jualan! Sini, sini!
Minggir, minggir!
Ya ampun, Monica!
Ya ampun!
Rasain, 'kan, lo.
- Nyebelin, sih. - Sakit!
Ngeribetin semua orang.
Anak daerah kampungan!
Malah ngetawain, bukan bantuin. Ayo masuk.
Semangat!
Semangat!
Hai! Pernah nge-band?
Aku rasa kamu berpotensi, lho, jadi bintang.
Kayak aku.
Ya! Coba, deh, kamu bayangin. Tiga cewek, semuanya main electro rock,
terus, main di acara-acara gaul.
Wah, dijamin, lima bulan saja,
uang jajan kamu naik berkali-kali lipat.
Aku pikirin dulu, ya.
Nggak.
Eh, tunggu-tunggu!
Kita bisa jadi band indie keren kayak Scorpion Sisters!
Kalian memang dengerin Scorpion Sisters juga?
- Kasih tahu. - Lima kali sehari!
Tuh, 'kan? Kita 'tuh memang sudah cocok banget.
Lagian suara kamu 'tuh bagusnya 11-12 sama Carmine Scorpion Sisters.
Saking bagusnya, tadi aku kayak ngeliat ada kelap-kelip gitu lho, pas kamu nyanyi.
- Kamu liat juga? - Iya!
Aku liat kayak ada glitter berterbangan di udara.
- Keren banget! - Kalian 'tuh siapa, sih?
Kita itu cewek-cewek dengan segudang mimpi.
Kita punya mimpi untuk bisa menggoyang dunia lewat nada-nada,
nada-nada irama...
Kita band yang lagi nyari vokalis baru.
- Tertarik? - Tertarik saja nggak cukup.
Aku dengar, sih, tadi petikan gitar kamu.
Okelah untuk anak senja.
Tapi buat main di band rock aku...
Kayaknya nggak.
Hei, Ussy!
Neng, nanti kita ngobrol lagi, ya? Tunggu.
Eh, tungguin dong!
Hei.
Ngapain pindah sekolah di tengah tahun? Abis bunting, ya?
Jadi, kemarin tuh aku baru, kembar tujuh...
- Kalian kalau mau satu... - Songong kamu, ya.
Kalian ngapain?
- Hai, Bu! - Memang kelas kalian di sini?
- Nggak, sih, Bu. - Ya, sudah. Sana.
Dadah, Ibu.
Anaknya mana?
Nggak tahu.
Hilang.
Eh, ketemu lagi!
Makan bareng, yuk!
- Ini enak banget, sih. - Ngapain ngajak dia ke sini?
Kalau masih mau ikutan Stardom, senyum sekarang.
Aku nggak lama, kok, makannya.
Lama juga nggak apa-apa, kok.
Aku Monica Johannes.
Drummer aku.
Kalo yang ini namanya Ussy.
Pianis yang jarinya lebih manis daripada omongannya.
Kalau aku Sasmi, manajer band ini.
- Riani. - Eh, Riani.
Kamu nggak mau coba ikut kita nge-band?
Sekali saja. Siapa tahu kita cocok.
- - Sudah, nggak usah dipaksa.
Mungkin dia juga ragu sama skill-nya.
Berani main di kelas kosong doang.
Ussy biasanya nggak sepedas ini, kok.
- Cuma karena urusan band saja... - Gini, ya.
Dari matanya saja sudah keliatan, gampang nyerah.
Musiknya juga nggak ada semangatnya.
Nggak ada apinya.
Jangan ngarepin deh dia bisa nge-rock.
- Ussy... - Kalau mau lihat musik rock
yang berapi-api,
bilang saja.
Aku liatin.
- Masuk sekarang aja yuk. - Nggak nunggu Riani?
Nggak mungkin berani dateng dia.
Kamu mau ke sana?
Mau bareng?
Ayo.
Sini.
Makasih, ya.
Masuk saja, Kak. Gratis, kok.
Yuk!
Eh, maaf.
- - Sudahlah. Aku bilang juga apa.
Anak senja nggak usah, deh, sok-sok-an nge-rock kayak gitu.
Kenapa? Nggak terima?
- Buktiin saja. Susah banget. - Eh, Uss...
Vokalis kalian yang sebelumnya tuh ke mana, sih?
- Oh. Pantesan. - Bisa, nggak,
nggak usah ngalihin pembicaraan kayak gitu?
Kalo mau main, main. Kalo nggak, pulang.
- Nggak usah buang-buang waktu. - Tunggu, tunggu.
No comments yet. Be the first to leave one.