The first 172 lines.
Manual translate by ~ ~ ~ Robandit ~ ~ ~ IDFL SubsCrew
Badi-Ma, Dwijdas, Kumud, Dharamdas, Padma, di mana semua orang?
Lihat, ini ada surat Devdas. Devdas akan kembali dari London.
Sungguh? Kabar gembira!
- Dwijdas! Kau dengar? Devdas akan pulang! - Aku tidak berpikir begitu. Ma berbohong
- Kau berbohong, Ma. - Ini suratnya.
Tunjukkan suratnya padaku.
- Shubhankar! Devdas-ku akan pulang! - Sungguh?
Beritahu saudaramu kabar baik ini.
Badi-Ma ... Badi-Ma ... Angin ribut-ku akan pulang.
Terima kasih Tuhan.
- Selamat, nyonya! - Jangan menangis, Dharamdas.
Aku ingin janji kalian. Aku yang akan ... menyambut Devdas. Aku sendiri.
Ya, tapi putar sekali lagi jamnya. Setelah bertahun-tahun! Anakku telah kembali.
Memutar jam takkan membuat waktu bergerak cepat, atau mempercepat kepulangannya.
Aku tahu, Kumud! Tapi dengar bagaimana jantungku berdegup kencang.
Oh kapan hari akan cepat berlalu untuk menyambut malam...?
Menghidupkan keceriaan! Biarkan musiknya dimainkan.
Angin ribut yang membahagiakan dan menggugah hati sanubari-ku! Menghidupkan keceriaan.
- Biarkan musiknya dimainkan! - Menyambut kedatangan dari angin ribut.
"Ei Kaushalya Didi, lihat..."
"...ada Shondesh untukmu."
- Sumitra! Pemilihan waktu yang indah! - Pemilihan waktu Sumitra-Kaki!
Selalu tepat. Dan "Shondesh"mu sudah terkenal!
- Kau dengar itu, Didi? - Biar dia bicara. Tebak siapa yang datang?
Aku tahu! Tuan Chattopadhyay...?
Bodoh! Kau tidak akan mempercayainya! Angin ribut-ku, Devdas-ku akan pulang!
- Sungguh, Didi? - Ya, ya, sungguh!
Puji Dewi Durga.
- Aku mengucapkan selamat, Didi! - Aku akan melihat anakku setelah 10 tahun.
Seperti apa wajahnya? Seperti apa suaranya? Apa yang akan dia katakan padaku?
Bagaimana aku akan bisa melewati malam ini, Sumitra?
Bagaimana seandainya saat aku berkedip! Di saat itu pula dia melangkah masuk?
Aku hanya mengingat Devdas, anak yang berjalan ke rumahku...
- Mengintip di pintu untuk bertanya padaku... - Kaki-Ma, apakah Paro ada di dalam?
Dia mulai lagi, langsung berdrama.
Dan ketika Dev bergegas keluar, aku akan menyuruh Paro untuk mencarinya.
- Dia selalu ditemukan di kebun jambu. - Dan Dharamdas akan menyeretnya masuk...
- Sambil menjewer telinganya! Persahabatan yg indah! - Dan ketika Devdas akan pergi...
Pergi ke luar negeri untuk belajar, Paro-ku berlari mengejar keretanya...
seperti kesurupan. Arré O'Deva
Arré O'Deva
Dalam teriknya matahari, kakinya menapak di tanah berkerikil...
Namun dia terus berlari, berteriak, "Aku akan pergi bersama Dev".
- Aku juga akan ke luar negeri! - Apakah kau sudah gila?
Mengirimnya ke luar negeri? Gadis bodohku.
Dia memiliki hutang dengan Dev sebanyak tiga Rupee.
Lepaskan aku pergi. Aku harus memberinya 3 Rupee miliknya.
Sebuah lampu dinyalakan untuk yg dicintai, menarik orang yang pergi untuk pulang.
Selama 10 tahun, dalam keyakinan dia terus menyalakan lampu untuk Dev.
Tidak pernah dia membiarkan lampu itu padam! Aku harus memberitahunya, dia akan senang.
- Dia akan senang sekali. - Ya Sumitra, pergilah.
Anakmu yang akan pulang dan dia merasa lebih bahagia karenanya.
Mengapa tidak? Dia tetangga kita. Paro dan Devdas...
- ...adalah teman dari kecil. - Apa yang tersisa dari masa kecil itu?
Keduanya sudah dewasa sekarang ... mau "Shondesh"-nya, Kaki-Ma?
Paro!
- Ada apa, Kaki-Ma? - Manorama, di mana Paro?
Di mana lagi? Pasti di kamarnya, berbicara dengan lampunya.
- Bukan lampu! - Devdas.
- Oh Tuhan. - Ada apa?
Kabar yang aku bawa untuknya akan membuatnya sangat gembira.
Kabar apa?
Paro, Devdas akan pulang.
- Sungguh? - Ya, Devdas akan pulang.
Mereka sedang mempersiapkan sebuah penyambutan! Kaushalya-Didi hampir gila.
Seluruh rumah itu dipenuhi dengan pesona...
Bodoh, kau menangis?
Jangan sampai air mata bahagia memadamkan lampunya sebelum Dev datang.
Tidak ada kekuatan di bumi ini yang bisa memadamkan lampu ini.
Apakah kita seharusnya menguji kekuatan dari lampu ini?
Cepat! Keretanya sudah sampai! Kaushalya, cepat.
- Devdas sudah sampai! - Aku datang.
Aku tadi menyalakan lampu Selamat Datang. Bilang pada Badi-Ma...
Kalau kau lama seperti itu, Devdas yang akan menyambut dirinya sendiri.
Menyambut dirinya sendiri? Hari ini, aku yang akan menyambutnya.
Tunggu dulu! Aku orang pertama yang harus melihat Devdas. Semuanya tutup mata kalian.
- Untukku. - Benar?
Nyonya! Aku tidak percaya! Mungkinkah dunia berubah begitu banyak dalam 10 tahun?
Deva yang setinggi bahuku, di bahuku dia duduk.
Melihatnya dan kau akan lupa berkedip!
Jangan siksa aku! Di mana Dev-ku?
Dia turun di tengah perjalanan, katanya dia akan kembali setelah menemui "Paro-ku".
Seharusnya sudah sampai di sini.
Chhoto-Ma, kau ingin menjadi orang pertama yang melihat Devdas?
Apakah ini artinya Paro-lah yang pertama melihatnya?
Chhoto-Ma, apa yang harus dilakukan dengan ini?
Paro.
Aku pikir itu Devdas.
Devdas...
Bagaimana kabarmu? Baik? Masuklah, nak, selamat datang.
Tuhan memberkatimu, nak.
Kau tampak seperti orang Inggris! Kami begitu tidak sabar untuk melihatmu.
- Kaushalya-Didi sudah tidak sabar untuk melihatmu. - Di mana Paro?
Dia tadi ada di sini.
Dia bilang, "Biarkan Devdas datang dan aku akan melakukan ini dan itu".
"Aku akan melawannya dan mencakarnya". Sekarang kau di sini dan dia bersembunyi.
Ei, Paro.
- Bolehkah aku naik ke atas? - Ya, nak, pergilah.
Bagaimana kabarmu, Paro?
Tidak maukah kau berpaling untuk melihat wajahku? Kita bertemu setelah berhari-hari.
Hari? Bagimu, mungkin. Bagiku...
10 tahun, 6 bulan, 4 hari dan 6 jam.
- Kau tidak pernah merindukanku? - Aku merindukanmu.
Bohong! Cuma 5 surat dalam 10 tahun? Ada empat musim dalam satu tahun.
- Tak bisakah kau menulis surat sekali dalam 1 musim? - Masuk akal. Kau sudah besar.
Membutuhkan waktu?
Keinginan untuk menjadi lautan. merubah anak sungai menjadi sungai
Lalu kenapa memerlukan banyak waktu untuk memperlihatkan wajahmu?
Seperti melihat bulan setelah sekian lama, aku takut aku akan membuatmu menahan nafas.
- Bukan hanya bulan merasa disia-siakan. - Tapi bulan juga terluka.
Sampai saat sang bulan muncul, untuk melihat yang mana akan membuatku menahan napas...
Cahaya dari sang bulan? Atau kesombonganmu?
Paro, aku benci memikirkan ada yang menyentuhmu selain aku.
- Lihat, Devdas ada di sini! - Biarkan dia datang.
- Janganlah marah. - Aku tidak ingin bicara dengannya.
- Katakan padanya untuk pergi. - Tapi Ma...
- Aku bilang, aku tidak ingin ... - Ma.
Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu.
Mengapa, apa sebegitu jelek wajahku...
sehingga Paro ataupun kau tidak mau melihatnya?
Setelah 10 tahun menunggu, tetangga yang duluan menyambutmu?
Kembali ke Paro-mu!
- Tidak maukah kau membuka matamu? - Aku tidak mau.
Tidak mau melihatku juga?
- Baiklah, aku akan pergi. - Mau kemana?
- Mau kemana, Dev? - Dev, berhenti!
Kenapa kalian membiarkannya pergi? Aku hanya bergurau.
Aku juga bercanda.
Dev.
Anakku yang hilang telah kembali sebagai pengacara. Tapi tetap saja masih nakal?
- Babu-ji? (Babu-ji: Ayah) - Dia pergi ke ruang kerjanya tadi...
- Ada yang mendesak. - Aku tahu, aku tahu.
Mengeluh setiap hari!
Dev dan Paro tidak pernah pergi ke sekolah. Dev ketahuan merokok
Setiap hari berpetualang di sekitar desa bersama si Paro.
Waktumu hampir semuanya kau habiskan di luar rumah.
Sekarang keluar!
Di hari aku pergi, dia tidak di rumah.
Hari ini aku kembali, dia masih saja tidak ada di sini.
Kau tahu, pemerintah Inggris telah mengangkatnya sebagai ksatria.
- Aku mengerti! - Dan dia akan sangat senang melihatmu.
- Sungguh? - Dia pasti senang, di tempat kerjanya.
Di rumahku, ayah menyambut kedatangan putra setelah bertahun-tahun...
- Dengan tangan yang terbuka. - Di sini juga sama, anakku.
Datanglah kepadaku, anakku.
Badi-Ma!
Aku bilang padamu untuk membawakanku jam tangan luar negeri yang bagus.
Apakah kau membawanya?
Tidak, tapi aku membawa waktu yang tak disengaja.
Lihat...
ke sini ... aku bahkan tidak bisa melihat dengan jelas.
- Mereka hanya menggunakan kertas? - Dan kadang, tidak menggunakan apa-apa.
Aku tidak pernah mau menjabat tangan mereka.
Apa yang kau rencanakan?
Kembalikan kotakku!
Berikan padaku!
- Apa yang terjadi? - Tidak ada.
Melihat Devdas? Bagaimana kau bisa menemukannya?
- Aku tidak mau beritahu. - Katakan padaku...
- Bagaimana kau bisa menemukannya? - Seperti orang bodoh.
- Apa yang dia katakan ketika dia bertemu denganmu? - Aku tidak memperlihatkan wajahku padanya.
- Bersumpah dengan nama ibumu? - Aku bersumpah.
- Kasihan, dia pasti sudah rindu. - Biarkan dia terus rindu.
Jangan buat dia menderita begitu.
Atau, dia akan datang dan mengintip di pintu...
...dan bertanya padaku, "Kaki-Ma, Paro ada di dalam?"
Hanya di bawah sinar bulan dia bisa melihat wajahku.
- Kartu tiga dan aku menang. - Sial!
Hei, apa yang kau lakukan!
- Aku hampir saja menang. - Kau selalu begitu.
- Kumud, memangnya kenapa kalau dia menang sekali? - Salah, hari ini adalah harinya Shubhankar.
No comments yet. Be the first to leave one.