The first 200 lines.
Dia mempermalukan kita!
Sungguh memalukan!
Itu aib! Itu kutukan!
- Memalukan! - Aku muak padanya!
- Apa yang dia pikirkan? - Berandal!
Menangislah!
Ini memalukan bagi kami, bagi seluruh keluarga!
Ini aib!
Apa yang dia pikirkan?
Kenapa?
- Tamat riwayatnya! - Cih!
Usir dia!
Aib!
INFAMY
Gita! Semua orang menunggumu!
Kemarilah!
PERKEMAHAN CARLTON FLATWOOD
Hai, Ayah!
Gita, ayo berkemas.
Lala! Kemari!
Ibu! Jangan dibuang. Aku akan membawanya ke Polandia!
Gita.
Ada apa?
Tak ada apa-apa.
Apa kita harus pergi?
Kita akan pulang.
Ayah bilang ini rumah kita.
Tak semuanya sesederhana kelihatannya.
Kalian mengacaukan hidupku.
Aku akan kehilangan semuanya, temanku, sekolah.
Kau juga akan dapatkan di sana.
Apa maumu?
Apa mauku?
Hidup.
Hidup normal.
Kau berlebihan. Kita akan hidup normal.
Sial!
Aku sudah 17 tahun.
Aku akan segera mandiri.
Teman-teman! Ayo minum!
- Untuk awal yang baru, Marko! - Ya!
Ya!
Kami akan rindu kalian.
Aku janji kita akan bertemu lagi.
- Bersulang! - Bersulang!
Untuk bertemu lagi!
Untuk bertemu lagi!
Bersulang!
Jadi, untuk pulang ke rumah lama kita?
Untuk pulang.
- Bersulang! - Bersulang!
SONNY BISA MENGINAP DI RUMAHMU MALAM INI?
Tinggalkan pesan usai nada berikut.
Dia bawa ranselnya.
Di mana Gita?
Tak ada gunanya pergi tanpa dia.
Ia bagian dari kesepakatan.
- Aku mau Gita! - Dia akan kembali. Dia putriku.
Sudah tujuh tahun kita menunggu mereka mengizinkan kita pulang.
Berkat Gita, kita meninggalkan tempat kumuh ini.
Tempat kumuh?
Mengizinkan kita? Itu perintah.
Keluarga butuh kita.
Tanpa keluarga, kita, orang Rom, bukan siapa-siapa!
Bukan siapa-siapa? Benarkah?
Kau harus yakinkan dia untuk pulang.
Kok Ayah tahu aku di sini?
Kendali orang tua.
Hanya sampai besok. Setelah itu, terlalu jauh.
Kau kira aku mau pergi?
Tapi kau kenal ibumu.
Asal-usul.
Keluarga.
Komunitas.
Bagus. Jadi, aku tak boleh berpendapat?
Kau tak mau pergi? Tetaplah di sini.
G.I.T.A. KAU BOLEH MENGINAP! SAMPAI JUMPA!
Ada tempat tinggal?
SONNY CINTA KAMU
Sonny.
Hubungi kami sesekali.
Atau kirim pesan di Messenger.
Jaga dirimu.
Aku menyayangimu.
Ayah!
Napalm jatuh di duniaku
Dahulu sangat mudah terbakar
Tak bisa meramu lirik rapku
Atau rap yang mengungkap penderitaanku
Gita Burano dari Wales
Naik rollercoaster ke Polandia
Dengan lidah api
Dahulu apinya menjulang Kini telah padam
Akankah ada yang membara dalam diriku?
Kurasa tidak
Bisa rap untuk kami sekali lagi? Ayo, Sayang!
Ayo, kau bisa.
- Ayo! - Tidak!
Gita!
Aku mencintaimu.
Berlayar ke pengasinganku
Atau menuang
Tetes terakhir hidupku
Lewat perahu Atau apa pun namanya
Aku punya segalanya Ini gaya kebanggaanku
Yang mana teman sejatiku?
Bagaimana cara lulus ritual ini?
Akankah berakhir? Akankah kumenangkan permainan kekuasaan?
Akankah ada yang adil lagi? Adilkah permainan kekuasaan?
Hidupku berubah menjadi permainan
Boleh ke kamar kecil?
Aku sedang haid.
Haruskan beri tahu semua orang?
Benar.
Sudah kubilang berkali-kali. Kita tak bahas hal itu.
Hal apa?
TOILET
Ini barang tabumu. Makanlah agar tak ada jejak.
Tak seorang pun boleh berpikir bahwa aku manusia dan punya fisiologi.
Tak boleh pakai kata-kata kotor di sini.
Seperti "haid" atau "pipis".
Di sini? Kita belum tiba di rumah paman, dan Ibu sudah seekstrem ini?
Tentu. Di Polandia, orang Rom menjunjung prinsip Rom.
Apa?
Kau mendadak lupa hukum Rom?
- Carilah di Google. - Tak perlu.
Ibu sudah menelusuri "orang Rom sempurna" di Google.
Maaf?
Anak perempuan mewakili ayahnya. Kau harus membawa diri.
Baguslah bukan ibu. Itu akan sangat kontras.
Katanya perjalanan itu mendidik, gipsi
Mungkin tidak, mungkin ya, gipsi
Perpisahan menyiksaku, gipsi Mulai dari awal, gipsi
Apa artinya itu, gipsi?
Aku tahu Ayah mau.
Terima kasih.
Jangan makan saat mengemudi, atau kita bisa menabrak dan mati!
- Kau benar, takkan kulakukan lagi. - Apa ada bak mandi di sana?
Tentu saja.
Aku ingat tempat ini, sekolah Melisa.
Siapa Melisa?
- Bukan siapa-siapa. - Jangan dibahas.
Baiklah.
Apa ini? Karung?
Kuingatkan, andai kau lupa, wanita Rom memakai rok, bukan celana.
Begitu, ya. Kurasa aku bukan orang Rom.
Pemikiran menarik.
- Benarkah? - Ya.
Kau bilang kita diizinkan pulang.
Haruskah aku berlutut?
Ingat, keluarga adalah tangan
yang menghapus air mata dan memelukmu dengan hatinya.
Aku tak mau tinggal di trailer lagi, kau dengar?
Tidak akan.
Tak ada lagi kemiskinan.
Tidak.
Ya.
Tapi... tadi, di depan rumah,
aku sempat mengira mereka berubah pikiran.
Sudahlah.
Ucapan keluarga itu sakral.
Sakral.
Aku ingin kau bahagia.
Di mana kamarku?
Sebentar.
Hei!
Siapa kentut?
- Bau sekali! - Dia.
- Bukan, kau! - Mesin kentut!
- Tidurlah! - Tidak mau!
- Sekarang! - Tidak mau!
- Tidak mau? - Tidak mau.
- Haruskah kupanggil ayahmu? - Jangan...
- Sudah kuduga! - Jangan!
- Sial. - Dan diamlah!
G.I.T.A. SUDAH TIBA?
MELISA SAYANGNYA BEGITU
Kau membuat tempat ini bau.
Berapa lama mereka di sini?
Stevo! Walter! Kalian akan kena pukul!
Di mana rokmu?
Di Abad Pertengahan.
Selamat pagi!
Selamat pagi.
- Apa ibumu tak bilang kau orang Rom? - Sudah.
Kau akan duduk di meja makan seperti itu? Tak pantas!
Baiklah, Bibi, aku tak perlu duduk di sana.
Aku duduk di sini saja.
Viola! Dia sangat tidak sopan.
Gita!
Kita masak apa? Tamu akan datang.
Kita akan menyajikan buah dan daging panggang dengan sayuran.
Juga iga.
Jangan khawatir. Awalnya juga aneh bagiku.
Rumahku sangat berbeda.
Terima kasih.
Ada yang bisa kubantu?
Taruh di mangkuk itu.
Kau tak dengar dia? Kenapa kalian begini?
Bagaimanapun, dia salah satu dari kita. Kita semua satu keluarga.
No comments yet. Be the first to leave one.