The first 195 lines.
Serial drama ini dibuat hanya untuk hiburan penonton
dan merupakan karya fiksi.
Setiap nama, karakter, bisnis, tempat, peristiwa,
dan kejadian dalam serial ini merupakan imajinasi pengarang.
Persamaan nama, karakter, atau latar belakang tiap individu (hidup atau mati)
semata-mata hanya ketidaksengajaan.
Setiap dialog, karakter di drama ini tidak bertujuan untuk menghina individu,
komunitas, suku, budaya, tradisi, bangsa, maupun agama atau merendahkan istitusi
atau individu tertentu, baik yang masih hidup maupun sudah meninggal dunia.
"MELAMPAUI SEGALA YANG BENAR DAN SALAH, ADALAH TAMAN. KUTEMUI KAU DI SANA." - RUMI
EPISODE 1 SI PENDOSA
Hari ini, ada tamu yang amat spesial.
Nona Sofi Safwan, langsung dari Malaysia.
Dia influenser, perancang busana.
dan dia di sini mempersembahkan, untuk pertama kalinya, edisi pekan busana,
sebuah koleksi baju sopan, termasuk hijab.
Dia influenser top di negara asalnya.
Penggemarnya menyebutnya wanita pemberani, bergaya, dan berjiwa bebas.
Dia siap menaklukkan dunia.
Ada suatu kesenangan hidup di sana.
Kainnya cantik.
CEO dan pendiri Sufiya, rumah mode
pakaian sopan berbasis di Malaysia. Selamat datang.
Terima kasih, Pierre.
Senang diwawancarai olehmu.
Tentu. Mau mulai memberi tahu sedikit tentang Anda?
- Tentu. Saya dilatih sebagai perancang. - Hmm.
Lalu saya mulai membuat blog tentang gaya dan rancangan saya.
Kemudian saya beralih menjual hijab dan pakaian sopan dalam skala kecil.
Dan kini, Sufiya membentangkan sayapnya di penjuru Asia Tenggara,
dan itu adalah cara saya memposisikan merek kami secara global.
dan Pekan Busana Paris, astaga, ini sungguh... Bagaikan mimpi bagi saya.
Setahu saya, Anda juga selebritas di bidang lain.
Anda putri salah satu taipan bisnis teratas di negara itu
dan istri dari salah satu aktor teratas Malaysia.
Jadi, bagaimana itu membantu merek Anda?
Ayah saya mengajari saya untuk selalu mandiri,
- jadi tak ada pemberian dari dia. - Hmm.
Sedangkan suami saya, saya rasa setengah pengikut saya dari dia.
Jadi, ya, aku berutang banyak padanya.
Yah, saya rasa menarik
bagaimana Anda menggabungkan hijab dengan mode.
Tapi, apakah rancangan gaya Anda tidak sedikit paradoksikal
dengan agama Anda karena agama Anda mengajarkan kesopanan?
Wanita yang mengenakan hijab melakukan itu untuk agamanya
dan itu seharusnya tak menghilangkan caranya mengekspresikan diri.
Hmm.
Tapi bukankah itu bertentangan dengan prinsip inti
yakni untuk menutupi diri Anda?
Saya rasa semua itu tergantung niat.
Selama tak ada niat buruk,
maka tak ada yang salah.
Jadi semuanya tergantung niat, bukan doktrin agama.
Tapi jika niatnya adalah untuk menampilkan diri,
memperindah diri di mata publik,
bukankah itu menentang doktrin untuk menutupi diri Anda?
Itu masalah pribadi.
Nah, bagaimana jika kita kembali membicarakan koleksi saya?
- - Tentu, tentu. Hmm...
Seperti apa rancangan Anda?
- Rancangan saya tentang ekspresi diri. - Hmm.
Ini soal mengambil risiko,
dan memperlihatkan bahwa busana sopan
- juga bisa berani dan tegas. - Hmm.
- -
Sudah kubilang untuk tetap sesuai naskah.
Kenapa harus menyinggung niat?
Apa salahnya?
Dengar. Caramu mengatakannya terlalu liberal.
Ya, untuk mereka yang berpikiran sempit.
Dan mereka yang berpikiran sempit itu akan jadi pelanggan kita.
Tidak, tidak, pelangganku tidak begitu.
Kau harus terima fakta.
Kita sudah menjenuhkan pasar dengan Tampilan Khas Sufiya-mu.
Kini, kita harus menarget massa.
Dan massa bukan orang Bangsar.
Mereka orang-orang seperti sepupuku di Batu Pahat.
Atau bibiku yang selalu mendorongku untuk menikah.
- Itu pasar kita. - Hmm.
Dan mereka tak mau kau memberikan TED Talk.
Dengar.
Paris makan banyak biaya bagi kita.
Kita tak boleh diliputi kontroversi.
Laila, kita sudah bermimpi tentang Paris
sejak awal merintis perusahaan ini.
Kenapa begitu kesal.
Ya.
Kantor baru, rumah baru, koleksi baru.
- Uang kini mengalir deras. - Hmm.
Jangan cemas, oke?
Orang akan berebut membeli rancanganku.
Terutama dengan harga terbaru, pasti amat masuk akal.
Tunggu saja.
- - Hmm.
Mari berharap.
Aku tak mau akhirnya harus minta bantuan ayahmu.
Istri keduanya
baru meluncurkan usaha kecantikan baru.
Investasinya jutaan dolar.
Jadi jangan ganggu dia. Hmm?
Rapat apa yang kau buat untukku?
- - Hmm.
Ada beberapa. Middle Eastern Sovereign Fun.
- Hmm. - Mereka penting dan mereka RSVP.
Beres. Ada info tentang mereka?
Semuanya ada di sini. Lakukan sihirmu.
Beres.
Tim kita sudah tiba?
Ya, mereka di hotel,
mempersiapkan sesi potret.
Oke, bagus. Oh, jangan lupa belikan kue.
SUFIYA
- -
Tak ada komentar.
Tunggu. Tolong potret mereknya.
Oke, boleh lihat?
Oke. Bagus sekali.
- Malika. - Ya.
Sudah persiapkan pakaian untuk tamu KOL-ku?
Semua siap.
- Ya? Uh-huh? - Ya.
Oh.
Imut.
Apa?
Oh. Nona-Nona, Sofi jadi tren di media sosial.
Bagus.
Tapi tagarnya Liberal-idiot.
Oh, teganya.
Kita ini orang baik.
Apa-apaan, Hana?
Kau ini kenapa?
Akan kucarikan yang baru.
Satu lagi. Malika, fokus untuk besok.
Kau akan bertemu Tuan Sofi.
Semua orang akan menyukaimu.
- Aku mau seperti itu juga. - Terus?
Hei, aku sudah kerja keras.
Aku harus lakukan semua.
Hanya aku perancangnya.
Halo, Semua.
Bagaimana penerbangannya?
Aku belikan kue.
Tolong makan. Ya?
Kalian belum mulai?
Sudah kubilang kita kekurangan orang.
Sof, wawancaranya viral.
Kau sudah baca komentar?
- Mau tidak, ya? - Yah, 50-50 lah.
Di satu sisi, kau pahlawan karena kata-katamu
tentang ekspresi diri dan niat, dan sebagainya,
dan di sisi lain...
Hmm. Jadi begitu.
Tasya akan datang?
Ya, dia baru menang penghargaan seniman wanita terbaik.
Dan satu hal lagi.
Nyonya Dania, RSVP kita di menit terakhir,
penggemar busana paling terkenal, pemakai hijab paling terkenal akan datang.
Piring ini sudah dicuci?
Oh.
- Hei. - Hana.
Dania pasti berpakaian seperti tenda.
Tak apa, akan kurancang. Pasti mudah.
Malika.
Ya, sekarang sudah 60-40.
Ustaz terkenal kita bergabung dalam percakapaan.
Hmm, bagus, bagus. Itu bagus.
Teman-Teman, ayolah.
Bisa kita fokus pada hal positifnya?
Tolong? Ini momen kita.
Kita di Paris.
- Ayolah! -
Aku sudah menunggumu.
Aku juga sudah lama menunggumu.
- - Cut!
- Ponsel siapa itu? -
Maaf, aku harus jawab.
Sebentar.
- Hmm? - Hai.
Kau tak apa?
Kami sedang syuting sekarang.
Oh. Oh, maaf.
Hanya saja...
Aku hanya mau minta maaf karena pertengkaran hari itu.
- Aku tertekan belakangan. -
Kuharap kau ada di sini.
Kau bisa photoshop fotoku saja.
Kau tahu caranya.
Jangan lupa kita ada wawancara dengan majalah Glamour.
Aku sudah persiapkan bajumu.
Kau akan pakai baju biru. Oke?
Tidak, aku mau pakai yang merah.
Oke, dengar, Sofi mau pergerakan, oke?
Banyak pergerakan.
- Hmm. - Untukmu.
Terima kasih banyak.
No comments yet. Be the first to leave one.