The first 200 lines.
Mas! Tidak apa-apa, Mas? Ayo!
- Pemenangnya adalah Surya! - Hore!
- Surya! - Surya!
- Surya! - Surya!
Mengapa tidak dipelihara saja?
Bukankah dia hadiahmu?
Lumayan uangnya kalau dijual.
Untuk maskawin.
Begitu?
Itu, kan?
Dia saja setuju.
Kapan mau bayar, ha?
- Pak... - Kapan?
Mengapa kamu begitu?
Mengapa kamu tega, Mas?
Tega... Mengapa, Mas? Mengapa?
Permisi, Bapak-Bapak.
Ada apa, ya?
Bu.
Mengapa, Bu?
Bapakmu, Nak.
Bapakmu...
Dia...
Dia sudah menghancurkan keluarga kita.
Pak.
Ada apa, Pak?
Pak?
Maaf, Nak.
Maaf.
Bapak sudah berbuat salah.
Bapakmu
menggadaikan rumah dan sawah kalian untuk judi sabung ayam.
Dia kalah!
Benar itu, Pak?
Bukankah Bapak sudah janji tak akan berjudi lagi?
Mengapa jadi begini, Pak?
Kami ditugaskan Raden Aryo
untuk menagih utang bapakmu.
Pak.
Apa tidak ada jalan lain?
Siapa kamu?
Saya calon suaminya Suzzanna.
Berarti kamu bukan keluarganya, kan?
Sudah.
Kamu tidak usah ikut campur!
- Maksudmu apa? - Eh, kamu menantang?
- Eh! - Kamu menantang?
Mas, sudah. Sudah, Mas.
Bapak-Bapak,
tolong beri kami waktu untuk menyelesaikan masalah ini.
Kami tidak akan lari.
Pasti akan kami lunasi.
Terus?
Kami harus melaporkan apa ke majikan kami, Mbak?
Utang bapakmu itu puluhan juta!
Ambil kambing saya ini.
Mas, jangan.
- Suzzanna. - Mas, jangan.
Sudah, tidak apa-apa.
Ini artinya aku akan punya maskawin yang lebih baik untukmu, ya?
Anggap ini sebagai itikad baik.
Untuk melunasi utang.
Baiklah.
Kami akan kembali tiga hari lagi.
Tir, bawa.
Ya, Gus.
Pak, terima kasih
untuk kiriman kambingnya.
Ayo, Dik Suzzanna.
Ibu.
Bapak.
Silakan makan.
Bagaimana, Pak?
Terima kasih atas jamuannya, Raden.
Ya.
Tapi kami bingung.
Maaf.
Kami sudah tidak punya uang lagi.
Aku tahu.
Kalian itu diundang ke sini bukan untuk membicarakan uang.
Jadi,
apa yang Raden mau dari kami?
Segala hal yang ada di dunia ini...
aku sudah punya.
Kecuali satu.
Penerusku.
Kuperhatikan Dik Suzzanna sekarang ini
sudah seperti wanita dewasa.
Usianya sudah cukup untuk menikah.
Tentu Bapak dan Ibu
sudah mempertimbangkan...
apa yang paling baik untuk Dik Suzzanna.
Ya, kan?
Begini Raden, saya...
Jadi, maksud Raden bagaimana?
Kalau bicara, Dik Suzzanna ini suka langsung ke pokok persoalan.
Aku suka.
Aku perlu penerusku
untuk melanjutkan semua yang sudah dibangun ini.
Jadi...
Dik Suzzanna
menikah denganku untuk melahirkan penerusku.
Ya?
Dan ini bukan tawaran.
Sekali lagi ini bukan tawaran.
Aku itu orang yang murah hatinya.
Tapi yang namanya utang, ya tetap utang,
dan aku paling tak suka
kalau ada orang yang menyalahgunakan kemurahan hatiku.
Paham?
- Aparat, kami aparat. - Mau lewat.
Kamu siapa?
Pergi sana!
Surya?
Aryo!
Dasar tua bangkot!
Suzzanna itu calon istriku!
- Mas! - Hei!
Jangan diam saja! Urus!
Hei!
Duduk!
Suzzanna!
Suzzanna...
Sudah!
Sudah, Raden. Sudah!
Kamu tahu apa hukumannya untuk orang yang mencoba mencuri istri orang, ha?
Turunkan dia.
Gus, pegang.
Angkat.
Di mana goloknya?
Jangan...
- Ampun! - Tangan seorang pencuri harus dipotong
biar kapok.
Tidak!
Jangan.
Ampun Kangmas, ampun.
Ampun Kangmas, ampun.
Aku akan menuruti semua permintaan Kangmas...
asal Kangmas mau mengampuni dia.
Kamu janji
untuk menuruti semua permintaanku?
Ayo bangun.
Bangun!
Hajar dia.
Suz...
Diam!
- Diam! - Jangan!
Kamu bilang kamu mau melakukan apa pun untukku.
Ya, kan?
Diam.
Mas.
Ya?
Kamu tidak tidur sama aku lagi malam ini?
Mau sampai kapan, Mas?
Kita sudah pernah bahas masalah ini.
Ya, kan?
Kamu cinta dia, ya?
Mas?
Diajeng Minati.
Kamu sudah tahu...
apa alasanku menikahi dia.
Karena kamu tak bisa memberiku keturunan.
Ya? Sudah, ya?
Permisi, Ndoro.
Ini sisirnya.
Mengapa kamu masih ada di sini?
Keluar!
Ya, Ndoro.
Saudara-Saudara,
sebelum kita memasuki acara utama wiwitan ,
untuk menyambut panen padi tahun ini,
Raden Aryo akan menyampaikan berita gembira.
Silakan, Raden.
Saudara sekalian,
kita sudah mengatur doa kepada Tuhan Yang Maha Esa
agar kita diberikan, diberkahi supaya panennya berlimpah ruah.
- Amin. - Amin.
Saya juga mau menyampaikan berita gembira
bahwa istri saya, Suzzanna, sedang hamil.
- Alhamdulillah. - Alhamdulillah.
Untuk itu saya minta doa dari saudara sekalian
supaya anak yang sudah lama saya dambakan ini
bisa lahir dengan selamat.
- Amin! - Amin.
- Selamat, Raden! - Selamat, Raden!
Terima kasih.
Saudara-Saudara, sekarang, mari nikmati perjamuan dari kami.
Ular-ularmu itu...
tidak mempan.
Dia malah hamil sekarang.
Katanya kamu itu orang sakti.
Terus, kamu mau apa?
Aku mau si sundal itu...
mati.
Tidak hanya sekadar mati saja,
tapi dia harus mati dengan menderita.
Di sini saja, Pak.
Ayo, Ndoro.
Ya.
Pelan-pelan.
No comments yet. Be the first to leave one.