The first 200 lines.
Tuhan dan Juru Selamatku,
Engkau menyembuhkan orang sakit hanya dengan ucapan-Mu.
Saat Engkau bilang, 'Aku menyembuhkanmu, '
biarkan tubuhku yang sakit ini
juga disembuhkan dengan kekuatan-Mu.
Biarkan rasa sakit di tubuhku meninggalkanku
dan limpahkan diriku dengan kedamaian dan sukacita-Mu.
Aku sungguh-sungguh berdoa agar kesembuhan ini terwujud
atas kehendak-Mu.
Amin.
Ayo.
Baiklah.
Ini rumahnya.
Terima kasih, Tuhan, atas hidangan ini.
Yang terpenting,
terima kasih sudah membantu kami pindah dengan aman.
Semuanya terasa baru.
Meskipun situasi kami menjadi tidak menentu,
kami tak akan pernah berhenti mencintai
dan menghormati-Mu.
Kami bergantung dan memohon kepada-Mu sekali lagi hari ini.
Pandanglah kelemahan kami
dan limpahkan rahmat-Mu kepada kami.
Jangan biarkan kami dibutakan oleh ketamakan dan hawa nafsu.
Bantulah kami selalu melihat dengan jelas
agar kami tak pernah kehilangan diri-Mu...
Sudah lihat brosur rehabilitasi bola basket di mejamu?
Bagaimana kalau kita coba?
Aku sudah muak dengan basket.
Baiklah...
Ayah terburu-buru, maaf.
Mulai sekarang, fokuslah pada pemulihan.
Ayah sudah siapkan semuanya untukmu.
Bahkan ada beberapa kasus sukses di luar negeri baru-baru ini...
Sejak kapan Ayah peduli padaku?
Aku tak butuh omong kosong itu.
Aku cuma mau bersekolah seperti anak lainnya dan belajar.
Seperti anak normal.
Tidak, bukan normal.
Aku hanya anak cacat yang berpura-pura menjadi normal.
Apa katamu?
Jangan bertingkah seolah-olah tak mau hidup lagi!
Jong-hoon! Hati-hati!
Sayang, sudah terlalu malam.
Bisa berbahaya saat makin gelap.
Aku segera kembali.
Jong-hoon.
Ibu tahu semua ini menyakitkan,
tapi Ayah berusaha maksimal untuk kita.
Untuk apa?
Haruskah kuikuti agar dia merasa nyaman?
Seperti kata Ayah,
fokuslah pada rehabilitasi dan istirahat di sini.
Seiring waktu, keadaan akan...
Lalu aku bisa berjalan lagi?
Percuma Ayah dokter. Dia tak bisa menyembuhkanku!
Seo Jong-hoon!
Jangan bicara seperti itu!
Meskipun sulit,
kau harus beradaptasi sedikit demi sedikit, paham?
Tapi Ibu juga tak mampu.
Apa yang berubah saat Ibu berpura-pura tidak buta?
Apa kacamata itu ada gunanya?
Sejak kapan Ayah peduli padaku?
Aku tak butuh omong kosong itu.
Aku cuma mau bersekolah seperti anak lainnya dan belajar.
Aku mengalami kecelakaan mobil.
Sepertinya patah tulang dada...
Sayang?
Sayang!
Apa yang terjadi?
Nanti kujelaskan.
Tahan sedikit...
Ini akan terasa sakit.
Patah tulang dadanya tidak begitu serius.
Pertolongan pertama darimu luar biasa.
Tapi kanker telah menyebar ke seluruh tubuhnya.
Kalau begini,
tak ada rumah sakit yang mau menerimanya.
Dia melompat ke depanmu dengan sengaja.
Itu penipuan asuransi.
Kapan pemeriksaan identitasnya selesai?
Soal itu...
Sidik jarinya tak terbaca karena terlalu aus.
Tak ada yang muncul di sistem.
Kami akan mencari cara lain.
Tolong bersabar.
Sampai kapan Ibu akan mengikutiku?
Kubilang aku bisa pergi sendiri!
Ayolah, Sayang,
Ibu ingin melihat gurumu.
Sudahlah, Ibu bahkan tak bisa melihat!
Pulang saja.
Oper! Oper bolanya!
Pikirkan apa yang akan kau banggakan pada Ayah.
Dia harus melihat
tiap detik di cuplikan momen penting itu.
Sayang?
Ya.
Kau terlambat.
Kenapa dia kembali?
Cuma sehari atau dua hari,
sampai polisi menghubungi.
Jong-hoon...
- Sayang! - Jong-hoon!
Jong-hoon, Jong-hoon!
Jong-hoon!
Buka pintunya!
Jong-hoon! Sayang!
Jong-hoon!
Jong-hoon!
- Jong-hoon! Nak! - Jong-hoon!
Jong-hoon!
Sayang, akan kuambil kuncinya.
Nak! Sayang!
Ini mukjizat.
Semuanya benar-benar normal.
Jadi, dia benar-benar kembali normal?
Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih!
Terima kasih banyak sudah memeriksanya.
Apa kau pikir ini karena pria tua itu?
Jika bukan,
bagaimana Ayah menjelaskannya?
Ayah adalah dokter. Ayah lebih tahu.
Aku sudah putus asa.
Bagaimana kau melakukannya?
Apa kau benar-benar membuat putraku berjalan lagi?
Tolong katakan sesuatu.
Bagaimana kau dapat bekas luka ini?
Sayang!
Apa dia kesakitan?
Tidak.
Syukurlah.
Sudah kubilang tidak usah. Biar aku saja.
Maafkan aku, Pak.
Segera kubuatkan makanan yang baru.
Jika ada yang kau mau,
katakan saja.
Anggap saja ini rumahmu.
Akan kubuatkan apa pun yang kau mau.
Akan kubuatkan lagi...
Maaf, Sayang.
Sayang, tempat ini...
Ini seperti permata yang tersembunyi.
Tanah yang diberkati, yang memberi kita mukjizat.
Tapi 'mukjizat' itu tidak masuk akal.
Sayang, apakah kecelakaan yang kami alami itu masuk akal?
Tapi Ibu ingin melihatmu berlari memakai kedua sepatu itu.
Tidak, sepatu ini jauh lebih keren.
Ya? Kau lebih suka yang ini?
Ya!
Aku berangkat sekolah!
Yang kalah dipukul, batu, gunting, kertas!
- Pelan-pelan! - Tidak, yang keras!
Pelan-pelan! Tolonglah!
Gila.
Hei, dia bisa berjalan.
Kakimu! Tidak mungkin!
Memang tak butuh kursi roda? Kau cuma pura-pura?
Apa kau gila?
Tak ada orang yang memalsukan hal seperti itu.
Ada Bu Guru!
Min-jae absen lagi hari ini.
Buka buku kalian.
Sampai di mana pembahasan terakhir kita?
Halaman 76.
Semua basis data sudah diperiksa,
Tapi belum ada hasil.
Belum ada kabar?
Berapa lama lagi aku harus menunggu?
Tolong cepatlah, terima kasih.
Tolong lihat ini.
Bukankah ini dekat Gunung Obok?
Apa kau tahu sesuatu tentang ini?
Warga di sini selalu percaya
bahwa Obok-ri dikutuk.
Tak ada yang mau mendekati desa itu.
Lalu mereka mulai menyebut tempat itu
'Desa Mukjizat'.
Tapi orang-orang terus meninggal satu per satu di sana.
Aneh sekali.
Keluarga yang baru saja pindah di seberang jalan...
Sumpah, anak mereka tak bisa berjalan.
Tapi pagi ini,
aku melihat dia berjalan!
Ada perlu apa?
Halo!
Aku dengar kalian baru pindah.
Aku kemari untuk menyambut kalian,
dan juga ada keperluan lain.
Bisa luangkan waktu sebentar?
Siapa itu?
Halo, Bu!
Aku kemari untuk menyampaikan perkataan Tuhan!
Oh, silakan masuk!
Halo.
- Halo. - Selamat siang.
Maaf, aku menjadi terlalu emosional.
Pasti sulit sekali, matamu dan kaki putramu...
No comments yet. Be the first to leave one.