The first 200 lines.
100 dolar untuk enam VCD. Kualitasnya terjamin.
Pak, apa pendapatmu tentang Wah?
Wah kurang ajar.
Dia selalu mengambil VCD, tapi tak pernah membayarnya.
Kurang ajar.
Wah? Tentu saja aku tahu. Dia sangat tampan.
Aku ingin tidur dengannya.
Dasar wanita murahan.
Kau sama saja dengannya. Kau jarang mandi.
Kau juga jarang mandi.
Wah? Dia preman yang tak pernah menarik uang iuran.
Apa pendapatmu tentang dia?
Dia jelek, tapi cukup tampan.
Dia jorok, tapi cukup seksi.
Dia tinggal di atas sana.
- Maling. Perampok. - Berhenti.
Jangan menerka-nerka. Itu kakiku.
Aku Wah. Temanku memanggilku Wah.
Jika kau tak menyukaiku, kau boleh panggil aku bedebah.
Hari ini ulang tahun ibuku.
Aku memotong rambutku.
Kau suka?
Siapa saja keluargaku?
Ibuku, dia seperti pelacur.
Aku punya anjing, tapi selalu sakit.
Aku juga tinggal dengan ayahku, tapi dia agak bodoh.
Wah, kau mencariku?
Tidak. Teruslah membaca.
Aku menyewakan kamar terkecil di Hong Kong untuknya.
Bagaimana hubunganku dengan ibuku?
Hubunganku...
Biarkan aku selesai dulu.
Biarkan...
Biarkan aku...
Kau mau bayar atau tidak?
Kami tak bisa bicara tentang uang.
Seharusnya aku tak melahirkanmu.
Karena kau, kecantikanku memudar.
Orang bilang, kau bodoh. Kenapa tak pakai kondom?
Apa susahnya?
Jangan membantah.
Baiklah, simpan saja uangmu.
- Aku putuskan untuk jadi pelacur. - Kenapa?
Agar kau merasa malu.
Aku menyerah. Ambil ini.
Ini kakakku. Aku harus selalu menjaganya.
Dia tampak besar, tapi jantungnya bermasalah.
Kau tak percaya?
Benar, 'kan?
Aku punya teman bernama Tart.
Dia bukan sejenis kue. Itu hanya nama.
Dia suka mengganggu gadis-gadis.
Halo.
Di mana Salad?
Dia melayani teman-teman ibumu.
Beraninya kau menyuruh dia melakukannya.
Kau pikir siapa dia?
Apa dia harus melakukan segalanya untukmu?
Termasuk menjadi pelayan di sini?
Jika mau menjadi kekasih Tart, kau harus bekerja.
Bagaimana dia akan menyukaimu?
Aku tak mengerti.
Bagaimana bisa ada gadis menyukaimu?
Baik.
Aku heran dia belum meninggalkanmu.
Ayah mendidikku dengan baik. Aku selalu mendengarkan.
Jangan beri dia makan enak sebelum 60 tahun.
Jangan jujur padanya sebelum 70 tahun.
Jika dia mengeluh...
...pukul saja dia seperti anak laki-laki.
Setelah itu, dia akan memperlakukanmu seperti raja.
Nona Wong, kenapa kau tak main mahyong?
Wah ingin melukaiku.
Aku tak melihat luka.
Berhenti main-main. Waktunya makan malam.
Tunggu.
- Di mana Margaret? - Aku tak melihatnya.
Apa-apaan ini? Dia belum muncul?
Perempuan jalang.
Kau memanggilku?
Bukan kau, tapi aku.
Bedebah. Lihat ini.
- Apa? - Mengerikan sekali.
Ini lebih baik dari wajahmu.
Nona Fei.
Jangan sungkan, Ayah. Aku sedang main mahyong.
- Ini hadiah untukmu. - Terima kasih.
Buku? Kau tak tahu buku membawa sial bagi penjudi?
Tapi ini Alkitab.
Bukankah kau pernah memberiku buku seperti ini?
Itu Perjanjian Lama, yang ini Perjanjian Baru.
Jadi kau memberikanku barang lama tahun lalu?
Bukan.
Perjanjian Lama adalah bagian pertama. Ini bagian kedua.
Apa itu penting?
Lengkap.
Buku ini membawa keberuntungan.
Kau tampak lebih tampan dariku.
Ini untukmu.
Sudah kubilang berkali-kali,...
...jangan berdiri di sampingku.
Kau mau aku mendongak?
Kenapa kau memakai hak tinggi? Kau sudah lebih tinggi dariku.
Maaf, aku lupa.
Kau lupa?
Ada apa denganmu?
Ekspresimu seolah menunjukkan ibumu baru meninggal.
Tidak.
Kau mau menangis?
Jangan menangis.
Tidak.
Jadilah anak baik dan jangan menangis. Minum ini.
Tidak, cuacanya dingin. Biar kuminum.
Bersulang.
Ada apa?
Margaret belum tiba.
Lihat menunya.
Tiram dan sirip hiu harganya hanya 1.700 dolar.
Kenapa kau menunjukkannya padaku?
Kau yang akan membayar.
Ya, benar.
Ayah, bedebah ini tak menghormati ibunya.
Aku akan menjadi biarawati.
Kau tak akan bisa mengikuti Sepuluh Firman Tuhan.
Beraninya kau bilang begitu pada ibuku.
Kau mau kupukul?
Baik. Pukul dia.
Kau yang akan bayar tagihannya.
Sup sirip hiu ini enak. Cobalah.
Margaret, kenapa kau lama sekali?
Di mana Wah?
Dia di sana.
Margaret tiba.
Aku yang mentraktir malam ini.
Baiklah.
Wah, ikut aku. Aku ingin mengatakan sesuatu.
Tak bisakah kau menunggu. Kita makan dulu.
Tidak. Ada yang harus kukatakan.
Lihat dia, sudah tak sabar bertemu denganku.
Tunggu sebentar.
Apa dia kekasih Wah?
Siapa peduli? Dia tak pernah menyapaku.
Siapa peduli.
Apa pekerjaannya?
Model bodoh.
Hanya iklan tisu bodoh, tapi dia merasa seperti bintang besar.
Tisu butuh iklan?
Kenapa kau harus ke Taiwan?
Aku bertemu manajer. Kami ingin membuat rekaman.
Aku baru bisa kembali tiga atau empat tahun lagi
Lantas?
Kau bisa pulang kapan pun untuk menemuiku.
Wah, kau tak mengerti?
Aku ingin menjadi terkenal.
Aku tak peduli bagaimana caranya.
Aku harus menjadi terkenal.
- Diamlah. - Ada yang harus kukatakan.
Di mataku, kau tak lebih dari pecundang.
Baik.
Tapi aku hanya memikirkanmu.
Tapi tak ada gadis yang akan menyukaimu.
Jika seorang pria sukses...
...banyak gadis akan menyukainya.
Sedangkan kau, tak punya apa-apa.
Tak akan ada gadis menyukaimu dengan kondisi begini.
Kenapa tak mencari pekerjaan?
Atau jadi perampok?
Untuk apa pandai mengemudi? Itu tak menghasilkan uang.
Aku tak mau menikahimu dan mengadakan pesta di sini.
Baik.
Aku akan cari pekerjaan sungguhan.
Sudah terlambat. Cari saja kekasih baru.
Ini semua hadiahmu darimu.
- Wah, ada apa? - Tidak ada.
Tidak ada. Dia bilang, ingin menjadi penyanyi di Taiwan.
Kalian putus?
Untuk apa mempedulikannya? Lupakan saja dia.
Aku baik saja.
Kau yakin?
Tentu saja. Tak ada yang salah denganku.
Ini untukmu.
Hari ini ulang tahun ibuku. Aku ingin minum banyak.
- Bedebah. - Apa?
Gadis itu hanya perempuan murahan.
Sulit diajak tidur. Kenapa tak cari gadis lain?
Abaikan dia.
Ayo, kita minum.
Kalian ingin membuatku mabuk?
Tentu saja.
Kau? Yang benar saja.
Ayo minum.
Aku akan membuatnya mabuk. Ayo.
Hati-hati.
Duduklah.
Kenapa tak bersihkan dia dulu?
Aku ingin kau melayaniku.
Maaf, aku harus melayani Tuhan.
Kita lakukan lagi di lain hari.
Aku akan menaikkan uang sewamu.
Baik, naikkan uang sewanya.
No comments yet. Be the first to leave one.