The first 200 lines.
NO TAIL TO TELL
RUMAH SAKIT WOOSONG
UGD
Kau tidak apa-apa?
Kau tidak apa-apa?
KEAMANAN
Hei, Eun-ho.
Apa⦠Eun-ho!
Ke mana dia?
Minggir!
- Tidak⦠- Kau keluarganya?
Temanku ada di dalam.
- Hyeon Woo-seok ada di dalam? - Kau tak bisa asal masuk.
Sudah kubilang, aku temannya.
Aku hanya perlu lihat keadaannya. Sebentar saja.
- Kubilang tidak bisa! - Tolonglah!
Bukankah kau Si-yeol?
Pak Hyeon.
Woo-seok bagaimana?
Apa dia baik-baik saja?
Apa yang terjadi?
Kenapa Woo-seok tiba-tiba pingsan?
Apa benar dia akan mati? Lalu bagaimana dengan Si-yeol?
Bicaralah! Kau pasti muncul karena ingin bicara sesuatu.
Kau pikir mencampuri takdir manusia adalah hal sepele?
Apa?
Pengisian daya 150 joule.
Aman!
Pengisian daya 200 joule. Dua, aman!
Detak jantung kembali.
- Pasang infus salin. - Baik.
Dia belum mati. Belum saatnya.
Belum saatnya? Apa maksudnya?
Dia akan mati pada akhirnya.
Namun, bukan hari ini.
Itulah takdir
yang kau berikan kepadanya.
Berarti takdir Si-yeol adalahβ¦
Terbang tinggi, tetapi cepat terbakar habis.
Itulah takdir yang sudah dibawa Kang Si-yeol sejak lahir.
Sebaliknya, hidup lama tetapi penuh penderitaan
adalah takdir Hyeon Woo-seok.
Lalu apa yang harus kulakukan?
Aku tidak suka kedua pilihan itu.
Aku tidak ingin Si-yeol melihat temannya mati menggantikan dirinya
atau kembali ke hidup asalnya lalu mati.
Pasti ada cara lain.
Ubah takdir atau putar balikkan.
Jika takdir mereka seburuk ini, pasti ada celah!
Kau masih belum belajar.
Kau sembarangan mencampuri takdir manusia,
menyebabkan orang tak bersalah mati lagi,
dan sekarang kau mencari cara murahan untuk menipu Surga?
Itu benar. Akan kucari caranya.
Begitulah caraku bertahan hidup selama ini,
dan aku tidak sudi menerima takdir buruk seperti ini.
Satu-satunya yang bisa kuberi kepadamu sekarangβ¦
Adalah ini.
Saat musim ini berakhir,
takdir asli Kang Si-yeol adalah mati sebelum musim dingin tiba.
Maka, sebelum Hyeon Woo-seok mati menggantikannya,
perbaiki takdir yang tertukar ini dengan kedua tanganmu sendiri.
Apa yang harus kuperbaiki dengan benda ini?
Kau sudah tahu
belati apa itu
dan apa yang harus kau lakukan.
Kau harus tusuk dia dengan ini. Harus.
Melakukan satu dosa tak terampuni
dan menghapus seluruh kebajikan yang telah kau tanam.
Jika kau tusuk orang yang kau cintai dengan belati itu,
takdir yang kacau akan kembali semula,
dan kau bisa kembali menjadi rubah ekor sembilan.
Namun,
jika kau membiarkan takdir ini tetap kacau
dan orang yang seharusnya tak mati malah meninggalβ¦
Aku sendiri yang akan
mengakhiri takdirmu dengan belati itu.
Maka, apa pun yang kau lakukan,
kau tak akan pernah bisa kembali menjadi rubah ekor sembilan.
Kau akan menjalani hidupmu
sebagai manusia selamanya, seperti ini.
EPISODE 10 DARI PELUANG MENJADI TAKDIR
Detak jantungnya kembali normal,
dan syukurlah, dia langsung siuman.
Beruntung dia segera ditolong.
Kondisinya bisa saja parah.
Syukurlah.
Kau pasti sangat terkejut.
Ya.
Ini sungguh mendadak.
Si-yeol.
Terima kasih bergegas datang selarut ini.
Aku menghargainya.
Andai kau bisa menjenguk Woo-seok,
tetapi dia sedang menjalani pemeriksaan lanjutan.
Apakah ada masalah lain?
Tidak. Hanya prosedur standar.
Melihat kondisinya, kurasa tidak akan ada dampak permanen.
Jangan khawatir.
Baiklah.
Kalau begitu, aku pamit dulu.
Akan kuberi tahu Woo-seok kau mampir.
- Sampai jumpa. - Ya.
Syukurlah dia masih hidup.
Ya.
Aku akan merasa lebih tenang jika bisa melihat wajahnya.
Dia akan baik-baik saja, kan?
Aku ingin tahu,
orang seperti apa Woo-seok itu?
Apa?
Aku hanya penasaran.
Dia pasti sangat istimewa
sampai kau rela melepaskan permintaanmu demi dia?
Bahkan sekarang, kau lebih mencemaskannya daripada memikirkan
betapa nyaris kau kehilangan hidup lamamu.
Kau membicarakannya seolah ini hal besar.
Kami hanya teman.
Teman memang saling berkorban.
Kadang aku kesal, tetapi aku tetap mengkhawatirkannya.
Ayolah, jawaban macam apa itu?
Kalau dia seistimewa itu bagimu,
kupikir kau akan menceritakan bakat terpendamnya
atau bahwa dia sebenarnya hebat.
Apa hanya itu saja tentang dirinya?
Woo-seok itu
agak pengecut.
Dia pandai memberi, tetapi payah menerima,
dan sedikit menyedihkan.
Dia hanya ingin aku melihat sisi baiknya
dan bersembunyi jika keadaan menyerang.
- Dia punya rasa rendah diri. - Apa?
Lalu kenapaβ¦
Namun, aku tetap menyukainya, terlepas dari semua itu.
Aku yakin Woo-seok juga sama.
Aku egois, mau menang sendiri,
dan terlalu percaya diri.
Woo-seok tahu semua itu tentang diriku.
Namun, begitulah teman masa kecil.
Walau kami menyedihkan dan pengecut,
semua itu tidak penting.
Aku sungguh tidak mengerti.
Jika demikian, bukankah kalian seharusnya saling membenci?
- Kurasa kau sudah tahu. - Apa?
Kau menyukaiku, kan?
Bukan karena aku yang terbaik atau istimewa
di antara semua orang yang pernah kau temui sepanjang hidupmu.
Aku menjadi istimewa bagimu karena kau menyukaiku.
Kupikir itulah arti menyukai seseorang.
Bagaimana jika aku
tidak bisa kembali ke wujud asliku karenamu
dan harus hidup sebagai manusia selamanya?
Akankah aku masih menyukaimu saat itu?
Apa?
Jika temanmu benar-benar mati hari ini,
dan kau kehilangan kesempatan mendapatkan takdirmu kembali selamanya,
apa kau tidak akan membenciku?
Apa kau akan tetap menyukaiku?
Eun-ho, kau baik-baik saja?
Apa terjadi sesuatu tadi?
Tidak ada.
Tiba-tiba saja terpikirkan.
Apa kau menyuruhku memilih?
Membunuh Si-yeol atau melepaskan jati diriku?
Mungkin terdengar kejam,
tetapi takdir hanya berjalan sebagaimana mestinya.
Takdir tidak peduli dengan urusan pribadi manusia.
Lalu kenapa kau menyuruhku memilih?
Jika kehendak Surga sudah ditetapkan,
kalianlah putuskan dia harus mati atau diselamatkan.
Hampir saja aku tertipu lagi.
Aku terus lupa
bahwa kalian bertingkah seolah tahu segalanya,
tetapi kenyataannya kau tidak tahu apa-apa.
Kau hanya menipuku
untuk membereskan urusan manusia yang kacau ini demi kalian.
Namun, aku menemukan cara lain.
Jadi, aku tidak akan memilih pilihan sialan itu.
Begitu kekuatanku kembali,
menyelamatkan Si-yeol itu perkara mudah.
Aku akan tetap di sisinya dan melindunginya selamanya.
Tiba-tiba aku sangat lelah.
Baiklah.
Kau pasti lelah terburu-buru pergi bersamaku tadi.
Istirahatlah. Aku bangunkan jika sudah sampai.
Si-yeol.
Apa yang kukatakan tadi
bukan karena pengaruh alkohol.
Apa?
Aku bilang akan mengembalikan hidupmu, apa pun caranya.
Itu janji,
jadi, jangan khawatir.
Tidurlah. Kita pikirkan itu besok saja.
Si-yeol, bangun! Ayo!
Apaβ¦
Kau kenapa pagi-pagi begini?
Kemarin kita lihat kekuatan bertambah.
Kini kita tahu caranya, kita harus bergegas.
Benar. Kita harus berbuat baik.
Apa kau punya rencana?
Sebenarnya, ini bukan berbuat baik.
No comments yet. Be the first to leave one.