The first 144 lines.
SERIAL NETFLIX
Skadoosh!
Beberapa pekan silam,
mantan Master Naga Po, bersumpah melayani kesatria,
- yang bukan kesatria... - Hei!
...yang berniat menghentikan dua penyihir jahat.
Para musang cari empat senjata legendaris Tianshang,
menyatukannya dan membangkitkan pasukan mayat hidup!
Nasib dunia ada di pundak pasukan elite yang baru ini,
terdiri dari satu master kungfu.
Seorang kesatria, yang bukan kesatria.
Perlu terus diungkit?
Seorang pencuri sekaligus penipu berhati baik...
Salah. Aku ini kejam.
Dan ayah terhebat di dunia.
Dan?
Pembuat mi terenak?
Itu benar.
Kita harus temukan senjata lain sebelum Klaus dan Veruca,
atau dunia akan menjadi sarang...
Sarang...
Apa pengganti kata jahat? Aku terlalu sering memakainya.
Kejelekan.
Keburukan?
Keburukan!
Selamat datang di India.
Senang bisa pulang.
India itu indah.
Ini memang sudah ada di sini?
Dah, Cina.
Aku akan segera kembali!
Wah!
Namaku Luthera dari Landreth, Kesatria Inggris.
Dia bukan kesatria.
Semua itu bohong.
Pedang, lihat! Panda berhemat energi dengan berguling.
Ini asyik!
Sampai jumpa!
Dia sangat pandai berhemat energi.
Aku tak punya kesibukan.
Ha?
Wah!
Kau yakin dia tahu di mana senjata Tianshang berada?
Aku pun mulai ragu.
Aku dapat mendengarmu.
Pernah dengar tentang kalung ajaib Master Mastodon?
Tentu. Baca di kisah Masa Sebelum Masa.
Konon, jika memakai kalung,
kau akan diarahkan ke Storm Wheels.
Atau menghancurkanmu.
Keren!
- Kau memilikinya? - Tidak.
Rekanku yang punya.
Si pencuri jahat bermuka dua.
Namanya Diya.
Bertemu saat coba tipu Sultan Delhi.
Dia coba melemparku dari menara. Aku coba menenggelamkan dia.
Dia mengirimiku surat ini sebelum aku terjebak di batu raksasa itu.
Dia temukan kalung dan membawanya pulang.
- Hei! - Dengarkan.
Kotaku di atas bukit itu dan tak terlalu ramah bagi orang luar.
Penuh dengan pencuri, penipu, orang kejam.
Aku ratu mereka, tetapi kalian itu mangsa.
- Oh! - Ha?
Tetap menunduk sampai kita tiba di tempatku,
dan coba tampak berani.
Kau yakin ini tempatnya?
Eh, apa ini?
Di mana kafe-kafe kumuh itu? Di mana para pencopet?
Tempat kumuh ini kenapa?
Tempat ini sudah banyak berubah.
Tempat ini nyaman ditinggali.
Selamat datang. Mau berkeliling kota?
Jauhi kami. Kami orang jahat.
Oh!
Eh...
Wajahmu kenapa?
- Maksudmu? - Kau tampak gontai.
- Aku tak boleh begitu? - Boleh. Boleh saja.
Kau tak tampak seperti itu bagiku.
Kau mencium bau sesuatu?
- Jinten? - Kapulaga?
- Kunyit? - Eh, jahe?
Safron?
Semuanya, Po.
- Semuanya! - Semuanya!
Semuanya!
Hm...
Kau kenapa?
- Hidangan terlarismu. - Apa?
Ha?
Ha?
- Mm. - Hm.
Ha?
Satu samosa lagi.
Aku makan terlalu banyak.
Sedikit masalah.
Pemandu kita hilang.
Tak ada pencuri di kota ini, Bibi.
Mau bertaruh?
Nenek.
Aku sudah bilang kita sudah punya cukup gelas ukir.
- Ha? - Maaf, kami akan pergi.
Hm...
Tunggu. Tongkatmu.
Benda ini cukup menarik. Cukup kuno.
Tak begitu bernilai. Kubeli seharga dua perak.
- Ha! - Tiga.
Kami harus segera pergi.
Tujuh.
Tak akan kujual.
Tidak untuk tiga, tujuh perak, di sini, kepadamu, atau siapa pun.
- Lima puluh perak. - Terjual.
Apa? Tidak. Tidak, maaf.
Tidak dijual. Pergi dulu!
Hm...
Apa itu tadi?
Jangan menjual Cambuk Api Abadi!
Tenang. Aku akan menipu dia jika kau memperbolehkan.
Oh, lihat kain ini. Ini enak dipandang.
- Mm... - Kau kenapa?
Kau biasanya...
"Fokus". "Konsentrasi". "Jangan pegang air mancur cokelat."
Baik, maksudmu?
Jangan pegang air mancur cokelat itu!
Kita harus bersembunyi.
Oh, ya. Ini benar.
Ada di sini.
Tempat...
persembunyian kita.
Oh, jadi...
Saat kau pergi tak begini?
Ini permainan yang sangat kejam.
Aku harus mencari tahu niat Rukhmini.
Namun, Pedang mengalami sesuatu yang enggan dia katakan.
- Bisa bicara kepadanya? - Kami kini teman tapi musuh.
Kenapa dia mau memberitahuku?
Karena kau pendengar baik.
Maaf. Apa itu? Ada lagu yang terngiang di kepalaku.
Dia memindahkan anak-anak.
Terima kasih, Ayah.
Apa itu tadi?
- Cuma... - Akan kuletakkan.
Aku punya lubang rahasia tempat semua temuan berhargaku.
No comments yet. Be the first to leave one.