The first 200 lines.
DIVISI INVESTIGASI SATU
Ada korban kelima?
Benar.
Tampaknya modusnya juga sama.
Perluas area penyelidikan.
- Isshiki! - Siap!
- Kau boleh pulang dan tidur. - Apa?
Apa? Begadang dua kali bukanlah masalah!
Aku masih bisa!
Jangan salah paham, Totomaru Isshiki.
Orang tak berguna sepertimu hanya menghalangi.
Astaga, Amamiya...
BAGIAN UMUM
Sayang sekali.
Jika kau tak segera berkembang, kau akan dikeluarkan dari divisimu.
Menurutmu juga begitu, Kiku?
Pelakunya menipumu dan kabur dua kali, ya?
Tiga kali.
Kau menginterogasi di malam hari dan dilaporkan sebagai penguntit.
Tidak terpikir olehku...
Namun, sifatmu yang jujur dan impulsif membuatku menyukaimu.
Apa?
Namun, bukan sifat yang baik untuk polisi.
Ucapanmu sungguh menyakitiku.
Walaupun pembunuhan berantai membuat warga ketakutan,
aku hanya bisa duduk dan diam.
Sulit sekali berdiam diri.
Sangat tak mengenakkan.
Sudah ada lima korban.
Apa?
Penyelidikannya pun mentok.
Jika Divisi Investigasi Satu sampai kewalahan seperti ini,
mungkin hanya ada satu orang yang bisa memecahkan kasus ini.
Kau tahu siapa yang bisa?
Siapa orangnya?
Seorang detektif.
Detektif.
Namun, dia bukan detektif biasa.
Apa?
Di sini tempatnya.
Itu foto lamanya.
Dia tampan, 'kan?
Kepribadiannya juga sama hebatnya.
Dia juga penyelia gedung apartemen.
Coba cari dia di sana dahulu.
Kiku memang bilang padaku kalau ini satu-satunya cara.
Jika dia punya usaha sampingan,
bukankah berarti pekerjaan detektifnya sedang lesu?
Tidak apa-apakah melakukan ini?
Jangan berharap.
Apa?
Apa itu tadi?
Hanya bayanganku saja?
Lakukan sendiri.
Kau berbicara denganku?
Mungkinkah kau salah orang?
Kurasa begitu.
Seperti itukah caramu meminta bantuan orang lain?
Minta bantuan dari para dewa saja!
Dari mana kau tahu...
Pulanglah! Enyah.
"Enyah"?
Aku harus berbicara denganmu.
Kiku dari Kepolisian Metropolitan menyuruhku kemari...
Kiku?
Siapa kau?
Apa keperluanmu?
Kau Ron Kamonohashi?
Ya.
Orang berambut acak-acakan ini sungguh dia?
Dahulu kau begitu necis.
Matamu suram. Tidak ada cahaya!
Bahkan mata ikan mati memantulkan cahaya!
Haruskah kau mengucapkan semua yang terlintas di benakmu?
Maafkan aku!
Astaga. Kiku masih saja menggangguku.
Maaf, tapi apa hubunganmu dengan Kiku?
- Dia mati? - Dia sedang tidur.
Putra Kiku satu sekolah denganku. Dia yang mengurusku.
Dia mengantarkan aku ke sekolah.
Dia pikir aku hanya menangis seharian.
Dia juga tak salah.
Kau tak apa-apa?
Apa?
Ada bantalan di lantainya?
Ini disebut "lantai pemalas".
Lantai ini terbiasa akan hari-hari membosankan dan menyedihkanku.
Apartemenmu kosong.
- Aku tak punya TV dan internet. - Apa?
Kalau laptop? Ponsel?
Aku memblokir semua informasi dunia luar.
Tidak ada yang patut diketahui juga.
Patut diketahui?
Penderitaanku yang mendalam dapat kau pahami?
Kurang lebih begitu.
- Aku mendambakan penderitaan. - Suram sekali.
Namun, aku tak mau beri tahu alasannya.
Tidak perlu.
Orang ini sungguh merepotkan.
Aku hanyalah sampah yang terjebak dalam waktu.
Sebaiknya kau pergi. Sampaikan salamku pada Kiku.
Aku tak bisa!
- Aku mau berkonsultasi... - Tidak mau.
Aku masih belum...
Kau bukan yang pertama.
Apa?
Kiku mengirim banyak staf muda kemari,
para pemuda berbakat yang ingin dipromosi setelah bekerja denganku.
Aku membuat mereka sadar dan mengenyahkan mereka.
Kiku menginginkan aku kembali.
Walaupun dia sudah tahu kalau aku bukan detektif lagi.
Apa?
Kau bukan detektif?
Kau tak mendengarkanku, ya?
Namun, Kiku menyuruhku berkonsultasi padamu soal kasusnya...
Kau pasti tahu, 'kan?
Soal pembunuhan berantai...
Astaga.
Insiden di...
Insiden...
Ayolah! Aku sedang berbicara.
Sudah cukup. Kau menyebalkan.
Apa?
Sudah kubilang, aku bukan detektif lagi.
Aku tak mau dengar atau lihat apa pun soal kasus buntu.
Apa?
- Setidaknya dengarkan aku. - Tidak mau.
Nyawa banyak orang dipertaruhkan!
Kenapa aku harus peduli?
Ada apa dengannya?
Orang ini bahkan tak mampu membuat deduksi yang bagus.
Terserahlah.
Kiku pasti kecewa, tapi kau takkan kuandalkan.
Bagus. Orang sepertimu sebaiknya berdoa saja.
Benar. Dari mana kau tahu aku melakukannya?
Sudah jelas.
Serbuk pohon pinus di bahumu.
Di sekitar sini, hanya ada di jalan menuju Kuil Wakana.
Lalu ada kopi kalengan yang belum terbuka di kantong kirimu,
dan suara koin di kantong kananmu.
Kau pasti menukar uang kertas dengan koin untuk persembahan.
Kau benar...
Hebat.
Kau menyebalkan dan kejam, tapi kau benar.
Kecenderunganmu membicarakan apa pun yang kau pikirkan
merupakan sifat anak manja.
Melakukan sesuatu seperti berjalan di sisi jalan menuju kuil
adalah hal yang kau pelajari saat kecil.
Dari situ kusimpulkan kau dibesarkan oleh kakek-nenekmu.
Apa aku benar?
Dengan sifatmu itu,
kau mungkin hampir dimutasi
dan kemari agar bisa kuselamatkan?
Kau benar.
Namun, itu belum semuanya.
Begitukah?
Satu hal yang tak kupahami.
- Kiku tahu aku tak mau membantu. - Namun, Kiku benar.
- Kenapa dia menyuruh orang... - Mungkin dia bisa menemukan pembunuhnya.
Bodoh, kau mengucapkan isi pikiranmu lagi.
Aku takkan membantu, jadi, pergilah.
Tolong bantu aku, Ron Kamonohashi.
Tidak mau.
Mohon pertimbangkan!
Tidak mau.
Maka aku harus memaksanya mendengarkan aku.
Ini kasus pembunuh berantai yang tak bisa dipecahkan siapa pun!
Korban pertama dibunuh sembilan bulan lalu...
Apa?
Sumbat telinga?
Seberapa gila orang ini?
Tidak akan kubiarkan!
- Enyahlah. - Dengarkan aku!
- Hentikan. - Ini kasus yang mengerikan!
- Ini dari seniorku. - Jangan bahas pekerjaan di sini!
Ada korban keenam!
Apa?
Segera ke TKP, Isshiki!
Isshiki? Totomaru Isshiki!
Isshiki di sini.
Jasad ditemukan di Taman Kazahana di Shibuya.
Kaulah yang terdekat. Pergilah sekarang.
Baik.
Gawat.
Maaf, aku harus pergi.
Apa yang terjadi?
Sudah kubilang, jangan bahas!
Begitu aku dengar soal kasus, aku tak bisa mengendalikan perasaan ini.
Apa?
Tapi aku tak boleh menyelidikinya.
Aku sudah berusaha keras menjauhinya.
Tunggu, kau mau menyelidikinya?
Tentu saja aku mau!
Menyelesaikan teka-teki dan kasus merupakan tujuan hidupku satu-satunya.
Aku menjadi gila karena tak bisa melakukannya.
Jadi, itu sebabnya kau menderita...
Kau tak mau punya TV atau internet karena ini?
Bukan hanya itu.
Demi hidup terisolasi, aku menukar kegiatan siang dan malamku.
Aku berusaha keras menghindari semua kasus.
No comments yet. Be the first to leave one.