The first 200 lines.
Bom.
Apa katamu?
- Bom. - "Bom"?
Bukankah teman-temanmu memanggilmu begitu?
"Bom".
EPISODE 2
Hei.
Kita tak dekat untuk bicara.
Kau tahu?
Saat terburu-buru, orang bicara tanpa berpikir.
Orang tua Han-gyul saja tak hadir.
Itu karena Han-gyulβ¦
Maaf soal itu.
- Berikan ponselmu. - Apa?
Jika ada masalah, langsung bicara denganku.
Jika begitu di depan orang lain,
mereka akan bingung.
Kenapa tak mengumpat saja?
Dia terus bertingkah keren.
Sun Han-gyul.
Bukan.
Han-gyul Jahat.
Kaum Sofis
berkata tak ada standar moral universal,
yang berarti, moral itu relatif.
Di sisi lain,
ada yang berkata prinsip moral universal itu absolut.
- Siapa itu? - Sun Jae-gyu!
Bu, bisa tolong singkirkan "Sun Jae-gyu" ini?
Karena pot sial ini, papan tulisnya
tak kelihatan sama sekali.
Tidak. Karena "Sun Jae-gyu" ini, wajahmu tak terlihat.
Mataku sangat senang.
Diam.
Bagaimana kalian tahu nama pemberinya?
SUN JAE-GYU
Apa itu?
- Satu, dua. - Satu, dua.
Ini bukan hadiah, tetapi hukuman.
Bisakah taruh di sekolah saja, Pak?
Tak bisa.
Aku suka benda-benda kecil dan imut.
Ayo. Halte bus sudah dekat. Bertahanlah sedikit lagi.
Halo, Semua.
Maaf, bisa ambil lagi pot ini?
Kami kebingungan. Para guru kesulitan dan ini beratβ¦
Apa dia manusia?
Masuklah.
Hadiah tak boleh dibuang begitu saja.
- Kenapa melihatku? - Aku ketahuan?
- Aku tak melihat. - Kau lihat.
Aku ketahuan.
Aku melihat,
tetapi aku melihat GPS.
Kukira kau mengingatku.
Mengingatmu?
Kita pernah bertemu.
Belum pernah.
- Pernah. - Tak pernah.
Berarti aku salah.
Di mana kami bertemu?
Kami tak mungkin pernah berkencan.
Apa aku ambil pinjaman?
Apa aku diculik?
Atau aku dirampok olehnya?
Kenapa?
Kau begitu ingin mengingatku?
Aku berusaha mengingat karena kau bertanya.
Bukan karena ingin.
Pak Sun Jae-gyu.
Apa katamu?
Apa?
Kau baru menyebut namaku.
- "Pak Sun Jae-gyu"? - Ya, Bu Bom.
Kita panggil nama sekarang.
- Di sana. - Baiklah.
SUN JAE-GYU
Kenapa pamer namamu?
Ada masalah dengan namaku?
Aku tahu namamu.
Kau tak perlu terus mengingatkanβ¦
Kau tahu namaku. Jadi, panggil namaku.
Wah, pemandangannya mantap.
Pemandangan laut.
Hentikan, Bom.
Kenapa kau terus menatapnya?
Boleh aku minum kopi? Dengan es?
Kubawa sampai kemari, tetapi tak dapat kopi?
Begini orang Seoul menyambut tamu?
Maaf, kebetulan kopiku habis.
Lain kali saja.
Ya, lain kali.
Kapan kau senggang?
Setelah kupikirkan, sekarang saja.
Kau pasti sangat ingin minum kopi denganku.
Benar?
Baiklah, aku mengerti.
Apa? Dia pergi?
Dia benar-benar aneh.
GURU HONG JUNG-PYO
Hei, Bu Bom.
Kau tahu klub lingkungan yang kubimbing?
Aku berpikir untuk mengalihkannya kepadamu.
Kau guru sains. Kenapa harus aku?
Aku memang guru sains,
tetapi beban kerja guru kepala terlalu banyak.
Kepala Sekolah juga setuju. Ini sudah diputuskan.
Sampai nanti.
Tunggu, Pak Hong!
Hei!
Karena aku selalu diam, dia pikir aku penurut.
Aku tak paham energi hijau sama sekali. Bagaimana membimbingnya?
Halo?
Bom?
Kau mengangkat telepon Ayah.
Bom, bisa setidaknya dengarkan Ayah?
Ayah amat menyesal melihatmu pergi seperti itu.
Apa pun alasannya,
seorang ayah tak boleh berkata begitu.
Bom.
Bisakah beri tahu Ayah kau di mana, agar Ayah bisa jelaskan langsung?
Ayah sangat merindukan putri Ayah.
Ayah menyayangimu.
Bom, kau dengar?
Bom.
Siapa?
Katamu kopi habis. Ambil.
Tak usah repot-repotβ¦
BUBUK KOPI INSTAN
Kau menangis?
Saat sedang sedih, manisan obat terbaik.
Sampai jumpa.
Saat sedang sedih, manisan obat terbaik.
Aku pernah dengar suara itu.
JEONG NAN-HEE RUANG TUNGGU
Bedebah.
Kau buat forum penggemar untukku dan kau kembangkanβ¦
Kenapa cinta berubah?
Berubah?
Jika bisa,
aku ingin memilikimu yang dahulu untukku seorang.
Meski begitu, mencari orang untukku saja tak bisa?
Bu Jeong Nan-hee.
Sebagai ketua pendiri Catatan Sejarah Nan-hee,
aku rela datang malam hari jika kau panggil,
tetapi aku bukan detektif.
Katamu kau bisa mencari orang.
Kau juga mencari musuh bebuyutan atau semacamnya.
Kau mau lisensi advokatku dicabut?
Aku meminta dengan risiko kehilanganmu, penggemar terbesarku.
Siapa?
Siapa yang kau cari?
Putriku.
Putrimu?
PERINGATAN 30 TAHUN DEBUT
JUMPA PENGGEMAR DI SEOUL 2022 JEONG NAN-HEE
Ibu.
Kau tahu.
Kau pernah melihatnya.
Katamu dia persis sepertiku saat debut.
- Benar? - Ituβ¦
Dia bukan anak-anak.
Ke mana dia pergi?
Aku minta kau mencari karena aku tak tahu.
Entah mirip siapa, dia amat pemarah.
Kata-kataku agak keras
dan dia menghilang. Sejak itu, dia tidak ada kabarnya.
Memangnya apa yang kau katakan?
Pokoknya, tolong cari dia.
Atau aku berhenti mengikuti sosial mediamu
dan akan membalas dendam.
Ya, Sekretaris Oh.
Jika tidak kau cari,
ketua forum penggemar akan kuganti.
Ya.
Anak nakal.
Bagaimana, ya?
Pengadilan tak minta perbaikan.
Ya ampun. Kukira bisa menemukannya hari ini.
Mobil kucuci dua kali dan rambut kutata di Cheongdam.
Aku yakin ada kabar hari Senin. Tunggu saja.
Lalu kita akan tahu apakah Sun Jae-gyu masih hidup
dan di mana dia tinggal.
Apa kabar, Semua?
Hei, Petugas Lee.
Ya ampun.
Meja-meja diatur ulang.
Poster juga diganti.
Lampu-lampu LED baru ini terang dan bagus.
Tanamannya ke mana?
Mati lagi?
Sudah kuberi tahu, gading gajah tak boleh sering disiram.
Hentikan itu. Duduk.
Nama?
Sun Jae-gyu.
Usia?
Tiga puluh enam.
Kau tahu kenapa kau kemari?
Ya, aku tahu betul.
Kenapa kau sentuh?
No comments yet. Be the first to leave one.