Release info

Yellow Door 90s Lo-fi Film Club 2023 KOREAN WEBRip NF
A Commentary by tedi
Retail NF | 1h 24m Fix common errors

Tags

webrip
web
BRip
Published on: 2023-10-27
Downloads: 16
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Film itu...

LOOKING FOR PARADISE

Film berjudul Looking for Paradise...

yang berdurasi lima menit saja

adalah buatan murid. Saat itu, Sutradara Bong

belum menjadi seperti sekarang.

Kapan kau menonton filmnya?

Jika diukur sepanjang usia Yellow Door,

sepertinya di awal atau pertengahan.

Bukan akhir. Ya.

Suatu hari, Sutradara Bong...

Saat itu, dia dipanggil Joon Ho.

Dia mengajar les dan mendapat uang.

Mungkin dia bekerja satu atau dua bulan.

Uang yang diterimanya itu dia pakai untuk membeli kamera.

Dia menjadikan ruang tamunya sebagai latar belakang.

Dia membuat kisah tentang ulat yang mencari surga.

Dia membuat ulat kecil

dan membuat animasi gerak henti dengan memotret

dan memindahkan objek secara berulang.

Pada akhirnya, ulat bertengkar dengan boneka monyet di ruang tamu.

Lalu, dia pergi ke surga.

Film itu sangat luar biasa dan mengagumkan.

Aku amat terpukau.

Dia tidak seperti Joon Ho yang kukenal.

Filmnya lima menit, ya?

Aku yakin.

Durasinya 23 menit.

Selain itu, protagonis dan antagonisnya tertukar.

Oh, tertukar?

Ulat bukan protagonis?

Protagonisnya gorila.

PROTAGONIS

Aku mengira ulat protagonisnya.

Gorila, rupanya.

Aku mengerti.

Setelah sekitar 20 tahun,

aku menemukan kotak kayu paulowina.

Dulu, aku menyimpan macam-macam di kotak ini.

Sudah pasti ada ini.

Oh, film 8 mm?

Ini adalah rekaman lokakarya film 8 mm di Yellow Door.

Ini...

- Hei. - Semua ada di sini.

- Ada sebanyak ini. - Wah!

Ada macam-macam.

Aku lupa ini rekaman apa.

Kita merekam hal absurd.

Aku harap rekaman ini akan membantu

mengurai Efek Rashomon.

Kau masih menyimpan gorilanya?

Ya, gorila itu.

Masih aku simpan.

Tetapi, anggap saja sudah tidak ada.

Aku malu, jadi, aku lupa ada di mana.

'90S LO-FI FILM CLUB

BONG JOON HO

"Aku teringat karya debutku yang tak pernah kubahas di mana pun."

"Aku pernah membuat

animasi pendek Looking for Paradise sebelum membuat film pendek White Man ."

JU SUNG-CHUL, PENULIS THE DEBUT, ANTOLOGI WAWANCARA SUTRADARA KOREA

Aku mewawancarai Bong Joon Ho untuk The Debut .

Bak mata-mata yang mengungkap rahasianya,

ia bilang pernah membuat film ini.

Dia berkata sambil celingukan.

"Aku harus mengecualikannya."

"Ini mungkin membosankan."

Aku kira begitu, ternyata ceritanya seru sekali.

"Saat pesta natal Yellow Door, aku mengadakan pemutaran perdana pertamaku

dengan wajah merah padam yang dihadiri sekitar 20 penonton."

"Di seluruh dunia, hanya yang hadir pada saat itu

yang pernah menonton film animasiku."

Apa kau mendengarku, Jong-tae?

Halo!

- Kau bisa melihatku? - Ya, bisa.

Kau sibuk, ya?

- Ya. - Filmmu mau rilis.

- Ya, 'kan? - Ya.

Benar. Ini film kecil, jadi, lebih sibuk.

Aku harus menghasilkan sesuatu.

Se-bum mengecat rambut, ya?

Lama tak jumpa, Se-bum.

Se-bum, kau mengecat rambut?

Itu wajib.

Jika tidak, rambutku uban semua.

Kau seperti seorang menteri Agraria, Infrastruktur, dan Transportasi.

Penampilanmu seperti itu.

Byung-hoon.

Hei!

Ada Byung-hoon? Astaga.

- Kami terlihat, Byung-hoon? - Byung-hoon tak lihat kita?

- Kurasa begitu. - Terlihat.

- Byung-hoon. - Terdengar?

- Ya. - Baik.

Jam berapa di sana?

- Jam 12 lewat? - Sekarang hampir jam 11.

Jam 11 malam?

- Ya. - Oh.

Astaga.

Bahasa Korea-mu jadi terbata-bata.

Tunggu.

Haruskah kita berbahasa Inggris, Byung-hoon?

Kau bisa berbahasa Inggris?

- Halo. - Min-hyang.

Eun-sim!

- Hei. - Halo.

Hai!

- Astaga, siapa itu? - Ini foto kapan?

Ya ampun, siapa itu?

Kenapa fotonya buram?

Buruk sekali hasil fotoku dulu.

Kedoknya klub film.

Tetapi, fotonya buram.

Lucu sekali. Siapa yang memotretnya?

Cari pelakunya.

Bukan aku. Aku ada di foto.

- Aku juga. - Berarti, aku. Aku tak ada.

Apakah itu aku?

Kenapa kau terus memotret permen karet?

- Mengetes fokus. - Mengetes fokus.

Saat itu, kami belum mengerti cara pakai kamera.

Hal-hal dasar, seperti pencahayaan, bukaan...

- Benar. - Kecepatan rana, fokus, dan sebagainya.

Lokakarya ini untuk membiasakan kami dengan hal dasar itu.

Jadi, banyak foto yang diambil sembarangan dan tidak artistik.

Itu rumah Kim Hye-ja, 'kan?

Benar, itu rumah Bu Kim Hye-ja.

Itu di depan kantor.

Dari jendela kami, terlihat rumah Bu Hye-ja.

- Tamannya terlihat jelas. - Ya.

Ya, gerbangnya juga terlihat.

Dinding batunya indah, jadi, para anggota Yellow Door

sering berfoto di situ.

Pose Dae-yup seksi sekali.

Andai aku tahu ada klub di situ,

pasti aku akan mampir sekali.

Aku hanya berpikir rumahku terlihat dari lantai atas mereka.

Makanya, siapa sangka? Kita tak pernah tahu masa depan.

Hal paling berkesan bagiku tentang Joon Ho adalah

setelah Memories of Murder rilis, kau meneleponku lewat jam sembilan malam.

- Kau menelepon sekitar jam sepuluh malam. - Benar.

"Jong-tae, tebak aku di mana? Aku di depan Gedung Gyeongseo."

- Kau berkata begitu. - Ya.

Mungkin kau sedang senang karena filmmu sukses,

jadi, kau bernostalgia akan masa-masa sulitmu.

Gedung Gyeongseo.

Dulunya, ini pasti rumah pribadi.

- Kini, sudah berubah. - Benar.

Sudah 30 tahun berlalu.

Ini rute menuju Yellow Door.

Benar.

Sebenarnya, kami tak seperti datang ke Yellow Door untuk bekerja,

kami seperti datang piknik atau bermain, ya?

Kenapa di Gedung Gyeongseo?

Apa dulu Jong-tae punya kantor di sana?

Jong-tae cuti kuliah pascasarjana di Universitas Dongguk.

Dia menyewa kantor di sini untuk memulai bisnis

semacam agensi model bersama teman-temannya.

Aku...

Aku merasa sangat kecewa di hari pertama kuliah.

Pikirku, "Ini pascasarjana?"

CHOI JONG-TAE, PENDIRI YELLOW DOOR

Tak banyak yang aku pelajari.

Aku masih ingat.

Ada kamera 16 mm di kampus.

Aku ingin mereka mengajariku cara memakai kamera,

tetapi mereka hanya menunjukkan kameranya saja.

- Itu saja? - Ya, itu saja.

Kira-kira saat itu...

Dong-hoon.

Aku bertemu Lee Dong-hoon.

Saat itu, aku bekerja paruh waktu di Today's Books

di depan Universitas Yonsei.

Saat itu, belum ada ponsel maupun penyeranta.

Di papan pesan Today's Books,

kami menempelkan pesan kami di mana atau datang ke mana.

Aku minta dikenalkan ke orang di industri film.

Lalu, aku dikenalkan kepada Sutradara Choi Jong-tae

yang sedang cuti kuliah di Universitas Dongguk.

Aku disuruh membantunya belajar.

Aku menyetujuinya dan meminta dia datang.

Aku benar-benar takjub.

Jika itu sekarang,

aku pasti berpikir untuk apa aku mengajari orang asing?

Pada saat itu, budaya klub di universitas

masih ramai, jadi, itu sangat alami.

Jika tak ada permintaan untuk belajar film,

hidupku pasti sangat berbeda jauh.

Bisa berubah jadi lebih baik,

atau jauh lebih baik lagi.

Aku tak punya niat spesifik untuk menciptakan sesuatu.

Namun, aku sangat merepotkan.

Dong-hoon punya teman seorang senior

dan dia mengajaknya ikut. Aku senang hati menerima.

Aku tak bisa susah sendiri, jadi, aku mengajak Sutradara Bong.

Aku menyukai film sejak SD atau SMP.

Aku berangan-angan menjadi seorang sutradara.

Entah kenapa.

BONG JOON HO

Mungkin karena sering menonton televisi. Keluargaku tak beragenda.

Yellow Door: '90s Lo-fi Film Club subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left