The first 200 lines.
Cinta.
Halo.
Itu adalah alasan untuk hidup.
Alasan agar lebih baik, melakukan yang benar.
Agar berani.
Aku serigalamu.
Tapi Love membakarku habis.
Ya, Love dengan huruf L besar. Istri.
Kenapa kau tak cinta aku lagi?
Ibu dari anakku.
Kubunuh Natalie demi kau!
Aku sudah berusaha, tapi dia… Bukan "gila", tapi begitulah…
Kulakukan semua untuk menjadi pria, suami, dan ayah yang baik.
Aku selalu melakukan semua.
Aku tak punya rekam jejak romantis yang bagus.
Tapi niatku baik.
Love tak bisa paham,
tapi, Marienne, kau paham.
Kita sama,
ditakdirkan bersama untuk semua aspek.
- Dia membohongimu. - Maaf, apa?
Kau tahu Joe yang membunuh mantan suamimu?
Tidak, Ryan dirampok.
Kau harus lari. Menghilang.
Ryan hanyalah awal dari kemampuannya.
Lalu Love memengaruhimu untuk pergi.
Aku tak menyalahkanmu.
Kita tahu siapa yang salah.
Karena Love, duniaku terbakar dan aku…
Seperti yang dibaca orang
aku mati di tangan Love.
Untung aku kenal orang baik untuk merawat Henry.
Aku harus meninggalkannya.
Untuk sementara.
Hal tersulit yang pernah kulakukan.
Cinta menguji kita.
Aku yang paling diuji.
Diubah menjadi hantu.
Tak punya rumah dan nama, itu semua demi kau.
Akan kuakui…
saat aku mencarimu, aku membatin, ini yang terakhir kalinya.
Kau…
atau tidak.
Seperti seorang pria bermasalah yang mengutip seorang penyair,
"Hati punya keinginan."
Cinta memilih kita.
Yang bisa dikendalikan hanyalah perbuatan kita,
seberapa jauh langkah kita.
Dalam kisah Ted Chiang, "Hell is the Absence of God,"
Neil Fisk kehilangan cinta sejatinya.
Wanita itu baik.
Wanita itu di surga.
Agar merasakan cinta wanita itu lagi, dia juga pergi ke surga.
Tapi dia bukan tipe penduduk surga.
Dia mencari jalan ke penebusan.
Maaf, bukan.
Inti dari cerita itu hanyalah celana.
Aku tak setuju.
Ada bagian-bagian yang hampir mendalam sebagai karya fantasi.
- Maksudnya? - Itu nyaris bukan sastra.
Bukannya jangan masuk silabus, itu banyak ditulis orang Amerika.
Aku tak akan membantah.
Ini kelas Ikonoklas Amerika dalam Cerpen.
Rektor mungkin membayangkan Hemingway, tapi aku diterima mendadak.
Tadi kau bilang "celana".
Ya, kontroversi besar.
Jelaskan "celana" untuk orang Amerika ini.
Artinya jelek, sampah, tak bagus.
Tip menjadi profesor. Contoh:
- Teruskan. - Jadi…
penebusan bukan untuk alasan egois.
Pentingkah dia berbuat baik?
Chiang tak bilang penebusan tertinggi adalah berbuat baik.
Dia bilang itu cinta.
Tip menjadi profesor
kudapat saat bersama Ellie.
Provokasi mereka. Remaja akan berargumen untuk kedua sisi.
Dahulu kata "cinta" juga berarti hal mendalam.
Penuh dengan peradaban, agama, semua sastra.
- Hiperbola. - Mereka akan saling bunuh
atau menikah.
Itu ucapan orang tak kenal cinta.
Baik, cukup, ini ditunda.
Bacalah "The Tell-Tale Heart"
dan bersiaplah mendiskusikan pendapat Poe soal cinta.
Paham? Kelas selesai.
- Profesor Moore. - Masih canggung.
- Ada pertanyaan? - Tidak.
Tapi, ya.
Kenapa terus menugaskan karya seperti Chiang
alih-alih para pria kolot, rasialis, dan pemabuk seperti biasanya?
Yang memutuskan itu salah.
Yang menugaskan para penulis itu pemalas dan ini kelasku.
Aku salah meremehkanmu.
Karena aksenku, ya?
Maaf.
Aku hebat jadi profesor.
- Apa itu? - Rhys Montrose.
Apa? Dia tak terkenal di Amerika?
Semua ingin dia jadi wali kota
dan menyelamatkan Inggris
tapi standarnya terlalu rendah,
hingga menujukkan kemunafikan mendasar
menjadikan dia Kristus berjas.
Bacalah.
Kau mungkin suka.
Orang Inggris paling terpelajar di Bumi.
Orang-orang di sini membaca.
Bukan "membeli". Membaca. Sampai habis.
Rasa hormat tinggi.
Dia mungkin tak punya sisir, tapi apa dia menandai halaman?
Jika LA adalah penyucian dan pinggiran kota itu neraka,
London mungkin saat aku mencapai tempat bagus.
Aku masih merindukanmu, Marienne. Sangat.
Tapi ini seperti liburan ke Eropa yang amat kubutuhkan.
Tak menonjol itu penting.
Aku butuh uang dan mengajar di London solusinya.
Kota seni, teater, dan buku.
Jonathan!
Kadang orang menyebalkan.
- Si orang Amerika! - Pria ini.
- Profesor Harding, halo. - Malcolm saja!
Kapan kau mau kuajak melihat kota?
- Tak mau. - Segera.
- Bagaimana apartemenmu? - Bagus, terima kasih.
Kami bertemu setelah wawancaraku. Saat itu pukul 14,00, dia mungkin mabuk.
Sangat bersyukur, sekali lagi, terima kasih.
Sial. Sepertinya aku ada kelas.
Ya. Silakan.
Bangkitkan pikiran anak muda.
Katanya bonus pekerjaan.
Aku tak tahu.
Pasti.
Kita akan pergi minum.
Lebih baik aku minum cat.
Kampusnya jauh dari tempat tinggalku,
tapi di kota seperti London,
aku suka berjalan.
Dengan begitu, aku awet muda.
Entah kapan Gen Z berubah dewasa, tapi aku menyukainya.
Inilah gunanya kota. Kita bekerja agar setara.
Dalam beberapa hal mendasar, semua kota sama.
Hipster ada di mana-mana
seperti halnya penyuka kehidupan malam.
Mereka minum dari siang.
Waktu di pub dan akhir pekan dianggap suci.
Saat pertama melihat lingkunganku, aku membatin, "Ini film Hugh Grant."
Tak ada romansa seperti Notting Hill bagiku,
atau tepatnya South Kensington, tapi energi di sini bagus.
Tenang. Baiklah, membuat mengantuk.
Itu bagus.
Bahkan sempurna.
Aku banyak memikirkan Marienne berjalan-jalan di London.
Seperti kata penyair,
"Patah hati adalah guru terbesar dan jika benar,
terima kasih telah menjadikanku bijaksana."
Aku hanya bisa bilang tak akan pernah lagi.
Tanpa cinta.
Tanpa orang.
Hanya buku.
Aku suka tempat ini.
Rak buku menawan,
perapian di setiap sudut.
Jangan marah, jauh berbeda dari Williamsburg.
Tapi di gang di luar jendela belakangku
yang menarik perhatianku.
Malcolm tak tahu soal ini
saat merekomendasikan flat ini. Julukan baginya "monster pesta".
Siapa itu?
Kekasihnya?
Wanita macam apa… Tidak.
Aku tak tertarik.
Tanpa orang, tak tertarik.
Pria bernama Mooney pernah bilang, "Bukan sirkusku, bukan monyetku."
Aku tak mau tahu.
Cara terbaik untuk tak usil
adalah dengan mencari tahu.
Wanita itu sering bekerja.
Malcolm sering bermain.
Malcolm berpendidikan bagus, seperti ayah dan kakeknya.
Dia tak perlu bekerja, tapi suka menjadi akademisi
karena ada rasa hormat yang mematahkan asumsi
anak orang kaya dan kawin sedarah umumnya tak terlalu pandai.
Profesor lain menganggapnya tak berguna.
Namun menurut rumor, dia hebat di ranjang dengan ukuran…
Kelasku ada di perpustakaan.
Aku mendengar yang tak ingin kudengar.
Lalu bagaimana dengan si wanita?
Kate Galvin.
Sedikit informasi tentangnya.
Hanya ada informasi kerja di internet.
Pengelola galeri, pecinta seni, belum pernah menikah,
putri dari Greta Galvin,
model era 1990-an yang kini penata gaya spiritual di Ibiza.
Tebakanku dia kebalikan dari ibunya.
Fokus, ambisius, memiliki etos kerja orang Amerika.
Dugaanku tentang mereka benar.
Aku tak perlu mengenal mereka.
Sementara Malcolm mabuk di luar, Kate, sesuai dugaan, bekerja.
Kenapa dia amat fokus?
No comments yet. Be the first to leave one.