A Life Too Short: The Isabella Nardoni Case

A Life Too Short: The Isabella Nardoni Case

Isabella: o Caso Nardoni

Download Indonesian Subtitle

Release info

A Life Too Short The Isabella Nardoni Case 2023 PORTUGUESE WEBRip NF
A Commentary by tedi
Retail NF Fix common errors

Tags

webrip
web
BRip
Published on: 2023-08-17
Downloads: 14
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

- Polisi, ada keadaan darurat apa? - Astaga!

Ada perampok di gedung ini! Dia melempar anak dari atas sana!

Dari alamat, maksudku, ketinggiannya?

Dari lantai enam. Astaga! Dia melempar seorang anak.

Ada perampok di gedung ini. Astaga!

Ya Tuhan.

- Demi Tuhan! - Aku mencatat insiden itu.

- Kau bisa mendengarku? - Ya, bisa. Bantuan segera datang.

Anak itu ditemukan di halaman.

Jaring pengaman jendela kamar tidur Isabella

dipotong dengan pisau dan gunting.

Kami dahulu berpikir, "Itu anak kesayangan kami.

Mereka melempar anak kesayangan kami dari jendela."

...dengan harapan mendengar pernyataan ayah dan ibu tirinya.

Mereka ada di apartemen.

Polisi yakin akan hal itu.

Orang-orang membayangkan korban sebagai orang terkasih mereka.

Aku tak pernah melihat kasus yang memengaruhi opini publik sebesar ini.

Mereka menjadikannya tontonan.

Apa-apaan!

Keadilan!

Jadi, mereka tahu semuanya.

Tapi itu salah dalam kasus Isabella.

Kita tak tahu semuanya.

Itu tak biasa, tak seperti apa pun yang pernah dilihat polisi.

Ibunya meninggalkannya hidup-hidup dan menjemputnya dalam keadaan tewas.

Mereka mengarang fakta untuk menenangkan masyarakat.

Mana bukti kuatnya?

Siapa pembunuh Isabella?

Tak ada kejahatan sempurna meski itu direncanakan.

Kebohongan akan terungkap.

Permisi!

Sistem hukum kita belum siap untuk kasus sepenting itu.

Lalu, polisi mulai menyelidiki, berita mulai tersebar,

kejutan demi kejutan serta fakta-fakta yang mengejutkan terus muncul.

THE ISABELLA NARDONI CASE

- Ini cantik. - Banyak sekali fotomu.

- Lihat, Gi. Kalian berdua. - Festival St. John.

Aku sepupu Isabella. Empat bulan lebih tua darinya.

SEPUPU ISABELLA

Ini dia.

Kami selalu bersama.

Kami lahir saat orang tua kami masih muda,

jadi, kami hanya punya satu sama lain.

Aku jauh lebih tenang daripada dia.

Dia punya kepribadian yang lebih kuat.

Dia lebih...

- Gelisah. - Ya, tepat.

Aku lebih santai, lebih tenang.

Dia memperjuangkan keinginannya, sementara kau...

Aku lebih mudah menerima jawaban "tidak".

Usiaku 17 tahun saat hamil. Aku masih sekolah.

Kami terkejut.

- Kakakku, ayahnya... - Ayahku.

Pasangannya hamil beberapa bulan sebelumnya.

Aku sangat senang punya cucu perempuan. Atau laki-laki, saat itu aku tak tahu.

Saat itulah kami mendengar tentang Carolina.

Itu berbeda, karena Carolina baru berusia 17 tahun.

Kami bercerai saat usianya 11 bulan.

Selama empat tahun berikutnya, kami merasakan kebahagiaan dan kesulitan.

Awalnya, hubungan kami

seperti hubungan pasangan cerai biasa.

Kami akur, tapi itu makin sulit setelah dia bertemu Jatobá.

Kami tak banyak bicara,

tapi kulihat dia makin dewasa setelah punya anak sendiri.

Isabella sangat menyayangi saudara-saudaranya.

Dia senang bergaul dengan mereka.

Bagi ibu yang anaknya menghabiskan akhir pekan di rumah ayahnya,

mengetahui dia menyukai saudaranya itu baik.

Aku ingin dia menjadi bagian dari itu.

Mereka bagian dari hidupnya, jadi, dia harus merasakannya.

Kenangan terakhirku tentangnya...

Jumat itu, dia ke rumah ayahnya.

29 MARET 2008 BAGIAN UTARA SÃO PAULO

Hari kecelakaan itu

adalah hari yang biasa-biasa saja.

Itu hari Sabtu. Aku sedang bersama beberapa teman.

Kami ada di pesta barbeku dan ponselku berdering.

"Bu, Isa mengalami kecelakaan."

"Apa maksudmu?" "Dia jatuh dari gedung."

"Di mana?" "Dia di rumah Alexandre."

"Dia jatuh."

Ada kabut malam itu. Suasananya sepi.

Saat itulah kami mulai mendengar keributan di apartemen sebelah.

Saat kami tidur, kami mendengar pasangan bertengkar.

Itu argumen singkat, sekitar 15 sampai 20 menit,

lalu sunyi kembali.

Tepat setelah itu,

kami mendengar seseorang di lantai dasar.

Mereka berteriak,

"Dia melempar Isabella! Tolong! Dia melempar Isabella!"

Kubilang, "Ayo turun dan lihat apa kita bisa membantu."

Aku mendekati Isabella. Dia terbaring di rumput.

Pintu masuk berkaca gelap tepat di belakang kami.

Saat aku berjongkok untuk memeriksa denyut nadinya,

Alexandre Nardoni keluar lewat pintu itu.

Dia berkata, "Ada pria di apartemenku. Dia melemparnya ke luar jendela."

Katanya seseorang di apartemennya melempar anak itu dari jendela.

Dan katanya orang ini memakai kaus hitam.

Penjaga pintu berbaju hitam.

Kami berganti baju dan pergi.

Rasanya lama sekali baru kami tiba.

Jaraknya lima menit naik mobil, tapi rasanya seperti lima jam.

Kami berdoa dalam perjalanan ke sana,

karena kami tak bisa membayangkan apa yang terjadi.

Kami tak tahu apa yang terjadi.

Saat tiba, semuanya kacau. Banyak polisi dan semacamnya.

Suamiku mencoba masuk dengan mobil, tapi polisi melarang kami.

Aku keluar dari mobil dan berlari ke ujung jalan.

Aku ingat aku keluar dari mobil saat masih bergerak,

aku membuka pintu dan berlari masuk.

Saat aku tiba di sana, dia tergeletak di tanah.

Napasnya sangat lambat.

Aku bahkan tak mempertanyakan apa, kenapa, atau bagaimana itu terjadi.

Aku hanya ingin dia mendapat bantuan secepatnya.

Jadi, aku tak meninggalkannya sedetik pun.

Aku agak lega karena dia masih bernapas.

Alexandre Alves, 29 tahun, tiba di rumah bersama Isabella,

istrinya saat ini, anak tiga tahun, dan bayi berusia 11 bulan.

Mereka masuk lewat gerbang garasi ini. Malam itu dingin.

Tepat setelah dia parkir, menurut sumber kami,

dia membawa anak enam tahun itu ke apartemen

di lantai enam gedung ini.

Gedung baru ini aman dan punya jaring pengaman di setiap jendela.

Beberapa saat setelah itu, menurut sumber ini,

dia turun untuk menjemput anak-anak lain,

dan anak itu ditemukan di sini, di halaman.

Aku ingat aku mencoba masuk ke ambulans

untuk tetap menemaninya, tapi mereka tak mengizinkanku masuk ke belakang,

jadi, aku masuk ke depan.

Aku ingat berada di dalam ambulans

dan meninggalkan tempat kejadian.

Sejauh yang kami tahu, saat tiba di RS,

itu hanya kecelakaan.

Aku memeluk putriku

saat dokter datang untuk bicara dengan kami.

Tidak lama kemudian

mereka keluar untuk memberi tahu kami dia meninggal

dan kami bisa masuk ke kamar tidur.

Sayangnya, tak butuh waktu lama.

Sama sekali.

Lalu kami semua hancur.

Carolina merosot turun ke lantai.

Jadi, aku mendekati putriku dan memeluknya.

Dia menatapku dan berkata, "Bu, kenapa ini terjadi padaku?"

Aku tak bisa berkata-kata. Apa yang bisa kukatakan pada putriku?

Dia baru kehilangan putrinya.

Setelah beberapa saat, aku hanya bisa berkata, "Sayang, kita harus melepaskannya

agar dia bisa pergi."

Saat aku akhirnya sadar dia meninggal,

satu-satunya hal yang bisa kubisikkan ke telinganya adalah,

"Pergilah dengan tenang.

Ibu akan mengurus semuanya di sini."

Ini kata-kata terakhirku kepadanya.

Lalu, polisi mulai menyelidiki,

berita dan banyak perkembangan mulai keluar,

dan muncul kejutan demi kejutan, serta fakta-fakta mengejutkan.

POLISI

Di sini, di Polsek 9 Kepolisian São Paulo, sepanjang sore dan malam

ada banyak kesibukan.

Banyak wartawan menunggu dengan tak sabar

untuk mendengar pernyataan Alexandre dan Carolina.

Aku sedang bertugas

saat kami menerima kabar bahwa ada anak jatuh dari apartemen orang tua mereka.

Hanya itu informasi kami.

JURNALIS DAN PENULIS

Awalnya, semua orang tak yakin apakah itu kejahatan,

pembunuhan atau semacamnya,

atau apa itu kecelakaan.

Saat itu, ada banyak berita

tentang anak-anak yang saat ditinggal sendiri jatuh dari jendela.

ANAK LAIN JATUH DARI JENDELA

ANAK JATUH DARI JENDELA DAN MENDERITA LUKA DI KEPALA

ANAK JATUH DARI JENDELA GEDUNG DI PERDIZES

Mereka memintaku pergi ke kantor polsek 9

dan aku mendapat informasi

saat konferensi pers dengan Tuan Calixto Calil Filho

bahwa ada kecurigaan, termasuk terhadap keluarganya,

itu pembunuhan.

Anak lima tahun...

KEPALA POLISI

sekitar pukul 23:30 kemarin malam,

dilempar dari lantai enam gedung.

Itu bukan kecelakaan.

Seseorang memotong jaring pengaman jendela dan melemparnya dari sana.

Mustahil bagi anak berusia lima tahun untuk memotong jaring dan melompat

pada jam itu.

Terutama saat, menurut sang ayah, dia sedang tidur saat dibawa ke atas.

Dia sudah tidur di pangkuannya.

Jadi, ada kemungkinan itu pembunuhan

karena seseorang memotong jaring pengaman dan melemparnya keluar jendela.

Sebenarnya, saat itu,

kupikir itu kecelakaan, apa pun itu yang terjadi.

Tapi lalu mereka berkata kami harus ke kantor polisi.

Aku harus apa di kantor polisi?

Apa maksudmu, kantor polisi? Ayolah!

Jadi, kami masih harus melalui semua ini? Itu kecelakaan!

Itu kecelakaan.

POLSEK 9

Aku bertugas Sabtu malam itu.

A Life Too Short: The Isabella Nardoni Case subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left