The first 200 lines.
THE CLAUS FAMILY 3
Kenapa mereka lama sekali? Kereta akan segera berangkat.
- Aku akan cari mereka. - Kutemani. Kita lakukan semua bersama.
- Norah. - Apa?
Jules, Kakek. Kalian dari mana? Kereta akan segera berangkat.
Awal yang buruk, Noel. Padahal liburan belum dimulai.
- Kita akan pergi main ski! - Hei, berapa usiamu sebenarnya?
- Usiaku sepuluh tahun. - Lebih mirip lima tahun.
Jules, Norah, tetap di sini. Ke mana Joan?
Di peron 1, kereta Ski-Express pukul 11,34 ke Innsbruck akan berangkat...
Itu kereta kita. Jules, Norah, kita berangkat. Ayo.
- Baik. - Ayo. Hati-hati.
Semuanya, akhirnya kita berlibur bersama.
Bagus sekali.
- Sangat menyenangkan. - Luar biasa.
Joan?
Apa ada padamu?
Indahnya.
- Apa ini ide bagus? - Tentu saja, ini ide luar biasa.
Bukankah terlalu cepat? Untuk anak-anak?
Katamu anak-anak juga menganggap ini luar biasa.
Liburan ski ini juga peluang yang sempurna.
Itu sebabnya kami ikut.
Kini kita hanya perlu mencari momen yang pas untuk melamar.
Aku sudah bawa semua yang mungkin kubutuhkan.
Aku baru jatuh ke salju, kepala dahulu. Yang terlihat hanya papan ski.
- Pikirmu itu lucu? - Ya.
Baik, Felix, fokus. Ini jadwalmu hari ini.
Kalau mau menjadi juara ski, kau harus berlatih keras.
Kita akan mulai dengan...
Kau tak punya waktu untuk itu. Aku menyuruhmu fokus.
Hanya pelatihanmu yang penting. Hanya menang yang penting.
Kau mau itu, bukan? Sama seperti ayahmu.
Ya...
Kita mulai saat pagi dengan berlari 20 menit. Setelah itu...
- Kau akan main ski? - Aku? Naik papan ski kecil?
Tak akan pernah seumur hidup.
- Aku mau. Aku calon pemain ski terhebat. - Kurasa tidak.
Akan kupastikan.
- Ya? - Ya.
Baiklah.
- Pertama, kenakan piamamu. - Tidak, aku tak akan tidur.
Jika mau menjadi pemain ski terhebat, istirahatmu harus cukup.
- Pergilah. - Baiklah.
Baiklah.
- Namun, aku dapat ranjang atas. - Tidak.
Ya.
Memang seperti anak lima tahun.
Jules. Nanti, di kabinku?
- Baik, begitu Norah tidur. - Pastikan tak ada yang melihatmu.
Baik.
Norah?
- Hei, Kakek. - Hei, Jules.
- Norah sudah tidur? - Pulas seperti bayi.
- Waktunya untuk kado. - Jules, tunggu. Duduklah.
Kalau kita pakai bola kristal salju ajaib untuk pergi ke Kutub Utara sekarang juga
demi mengambil kado Natal anak-anak dan membawakannya,
lalu ingin kembali ke sini, maka kita tak akan kembali ke sini.
Kita akan kembali ke rumahku, tokoku di Belgia.
Sementara ibumu, Norah, dan yang lainnya di hotel di...
- Di Austria. - Ya.
Untuk saat ini, kita harus menunggu.
Kita perlu tunggu sampai punya kamar di hotel, lalu bisa...
- Reset tombol rumah bola kristal salju. - Tepat sekali.
Sementara itu, kita harus susun rencana untuk menjauh dari hotel
tanpa ada yang sadar.
Apa itu?
- Kau bawa apa saja ini? - Hanya syal-syal indah.
- Syal-syal indah? - Ya. Siapa tahu perlu.
Sudah pasti akan turun salju,
tetapi bisa juga cuacanya mendadak panas terik.
Kita tak pernah tahu.
- Ini. - Terima kasih.
Jadi, aku berkata jujur atau tidak?
Ella!
- Halo. - Hai.
- Bagaimana? - Aku juga mau saja bekerja di sini.
Mungkin dalam sepuluh tahun atau lebih.
- Mau kuantar ke kamar? - Ya.
- Apa kalian ikut? - Lewat sini!
Ya, aku yang pertama.
Bagus sekali.
Ini dia.
Kamar Jeff dan Suzanne.
Sampai nanti, Sayang.
- Kamar Joan. - Sampai nanti juga.
- Kau baik saja? - Ya.
- Ya? - Ya.
- Kau bisa masuk ke tiap kamar? - Itulah kelebihan pekerjaanku.
Ini dia, kamar Norah dan Jules.
- Kita satu kamar. - Ya.
- Ini kamar Noel. - Mari kubantu.
Tidak, tak perlu. Pergi saja melihat-lihat kamar kita.
- Agar bisa pilih ranjang terbaik, Kecil. - Aku tidak kecil.
Tentu saja tidak.
Akhirnya sendirian. Akan kureset bola kristal saljunya.
Tunggu sebentar.
Apa ini?
Apanya?
Aku jelas mendengar sesuatu.
Aku tak dengar apa pun.
Mungkin telingamu harus diperiksa, Kakek.
- Aduh, kau menduduki rambutku. - Aku tak bisa melihat.
- Kau di rambutku. - Maaf.
Sedikit cahaya pasti...
Holger...
- Idenya. - Ya.
Namun, pos kadonya di tangan yang tepat, Pak Claus.
- Ya? Di tangan siapa? - Ikka.
Serta Joel.
Joel?
Joel.
- Boneka beruang untuk Fleur. - Apa? Beruang?
Tidak, itu sudah kuno. Gadis mau boneka perempuan, bukan beruang.
Boneka perempuan saja.
AKU MAU LEGO POS DAMKAR
Pos damkar untuk Alejandra? Siapa yang dapat ide ini?
Biar kuberi tahu keinginan anak gadis.
Unicorn dengan bulu mata panjang, rambut palsu, dan...
pengilap bibir ungu.
Anak gadis suka pengilap bibir ungu.
Kenapa gadis tak boleh bermain dengan pos damkar?
- Apa? - Mereka juga bisa suka itu.
Bicaramu konyol, dasar sok tangguh.
Wah, melek.
- Jangan pecat kami. - Pak Claus tak mungkin begitu. Benar?
Benar, Pak Claus?
Ini sempurna untuk bulan madu kita.
Apa ini ranjang kami?
Apa pegasnya rusak?
- Ella. - Hai.
Aku lupa boneka binatangku di kamar Kakek.
Boleh minta kunci untuk mengambilnya?
- Tak bisa. Maaf. - Namun, aku sangat merindukannya.
- Kakek pun tak akan keberatan. - Aku akan menemanimu.
Tak usah. Kau sudah begitu sibuk.
Kau tak mau dipecat, bukan?
Cepatlah.
Minyak mandi.
Busa beraroma mawar. Juga sabun bom mandi.
Kenapa tak sabun batang sederhana saja?
- Apa mungkin itu pelayan? - Sayang...
Atau pencuri?
Holgy, mungkin saja pembunuh.
Aku belum mencoba bak air panas, sarapan di ranjang, ataupun pijat.
Apa akan menyakitkan?
Norah.
Apa itu bola kristal salju?
- Bernapas saja, Sayang. - Bernapas...
- Kakek? - Norah?
Siapa kau?
Kadang aku menanyakan hal sama kepada diriku.
Lalu apa ini?
Apa Kakek adalah Sinterklas?
Yang satu-satunya.
Setelah aku, tentunya.
Apa?
Keren. Jadi, kalian peri Natal kecil?
Kita sedang di Kutub Utara dengan semua kado, ya?
- Benar. - Benar.
Benar lagi.
Kakekmu tahu kau di sini?
Aku tak akan...
Tidak, tunggu.
Norah, jangan.
- Pak Claus tak akan suka ini. - Tidak.
- Joel, lakukan sesuatu. - Siapa, aku?
- Lihat betapa besarnya dia. - Kau tak bisa...
Gunna, Holger?
Kakek lupa dompetnya dan kami perlu sewa alat ski, jadi...
Jules?
- Ini bencana. - Apa yang bencana?
Jules!
- Jules! Norah ada di pondok. - Apa?
- Tepat sekali. - Ya.
Jules? Sedang apa di sini?
Aku harus tanyakan hal sama.
Bagaimana bisa kau dapat ini? Seharusnya kau tak tahu.
- Kenapa tidak? Kau juga tahu. - Itu berbeda.
- Kenapa? Itu tak adil. - Aku Sinterklas, paham?
Kau Sinterklas? Lantas Kakek?
- Kakek juga. Kami lakukan bersama. - Aku boleh ikut juga?
Tentu saja tidak.
- Kenapa tidak? - Kau terlalu kecil.
- Kecil? Usiaku sepuluh. - Lebih mirip lima.
- Itu tak benar. - Sungguh, Kecil?
"Kita akan main ski!"
Kurasa tidak.
Jika mau menaklukkan pegunungan itu, butuh sarapan lengkap, Kecil.
- Aku tidak kecil. - Norah, itu hanya bercanda.
Tidak suka pagi hari, sama seperti kenalanku yang lain.
- Kau juga tak suka. - Aku?
Hampir seindah Kutub Utara.
Jules, apa ada masalah?
Masalahnya bisa kuatasi.
Mau balapan?
- Ya. - Tunggu.
Ya! Aku menang. Konyol, bukan?
Jadi, kau sudah kirim semua kadonya?
Kau tak berpikir untuk memberitahuku
No comments yet. Be the first to leave one.