The first 187 lines.
MASA KINI
Kita semua memiliki daftar dalam hidup kita.
Daftar impian dan kebahagiaan sederhana.
Daftarku selalu penuh dengan perjalanan dan tempat baru.
Aku Preeti, dan satu perjalananku menuntunku ke Musafir Cafe.
Apa itu Musafir Cafe?
Tanyakan saja, jawabannya akan berbeda-beda.
Bagiku, itu rumah. Rumah Chander dan rumahku.
Matamu yang gelap dan indah
Melihat ke atas Dan bertemu dengan mataku
Embusan semilir angin Pemandangan yang berlalu
Semuanya berhenti
Hei! Hai!
Tunggu sebentar.
- Hai! - Malam ini kalian ikut, 'kan?
Tidak.
Rajvir malah akan mendaki bersama teman-temannya.
Aku jadi gagal ikut pesta malam ini.
Aku yakin kau akan menikmati pendakiannya!
- Begitu? - Ya! Kalian nikmatilah!
Oke. Dah.
Dah!
Sihir macam apa
Yang telah kau berikan padaku?
Katakan, benar, 'kan?
Bintang-bintang berjatuhan bagai melati Di atas atapku…
Bagi tiap pengembara, perjalanan sesungguhnya dimulai
saat menemukan pasangan sejati.
Terkadang, pasangan itu tetap mendampingi.
Terkadang, pergi setelah mengubahmu selamanya.
Sihir macam apa
Yang telah kau berikan padaku?
Katakan, benar, 'kan?
Hal yang sama terjadi padaku saat bertemu Chander.
Dan mungkin, hidupnya berubah dengan cara yang hampir sama
saat bertemu Sudha.
DARI BUKU MUSAFIR CAFE, DIVYA PRAKASH DUBEY
Turunkan ponsel Ibu sedikit. Ibu tak kelihatan.
- Sudah? - Ya, sudah.
- Sudah tiba? - Ya, sudah.
Lebih awal seperti biasa.
Tempat pilihanmu bagus?
- Dia yang pilih. Lihat, indah sekali. - Ya, indah.
Aku baru tahu ada tempat ini.
Pastinya.
- Kau sibuk kerja terus! - Ibu…
- Kututup, ya? - Tunggu.
Terima kasih.
- Ibu tahu bahwa di hatimu, kau masih… - Ibu.
Tolong jangan mulai lagi.
- Baiklah. - Aku tutup.
Sebentar lagi dia datang. Dah.
8 TAHUN LALU
- Kopinya dari mana? - Selatan, Pak.
Selatan mana? Tamil Nadu? Karnataka? Kerala? Yang mana?
- Pak, itu… - Campuran atau murni?
- Pak… - Oke, digiling kasar atau halus?
Halus, Pak.
Saya tahu itu, halus.
- Yakin? - Ya.
Begini, Mohan.
Ambilkan kopi,
air panas dengan suhu antara 90 dan 95 °C,
teko kosong, dan cangkir Amerikano. Tolong bawakan semuanya.
- Anda yakin mesin kopinya… - Tidak, aku tak mau itu.
Jangan khawatir, akan kubayar semuanya, dan kuberi tip juga.
Baik, Pak, saya bawakan.
Apa yang kalian para insinyur perangkat lunak pikirkan?
Pindah ke AS kini dianggap karier?
Tidak. Hanya selama dua tahun.
Kau akan ke Amerika dua tahun,
dan aku harus tinggalkan praktik dan ikut kau?
- Aku tak bisa sendiri. - Sendiri?
Ajak ibumu untuk mengurusmu!
Kenapa kau harus menikah?
Aku tak habis pikir!
Halo, aku mau bilang aku sudah tiba.
Ya, aku datang!
Kau lihat apa?
Kau akan pergi, atau butuh kartu hijau juga?
Mau kugelar karpet merah untukmu? Pergi sana!
Hai.
Maaf kau menunggu.
Aku Sudha.
Bicaramu bagus.
Aku Chander.
Kau menguping?
Tidak. Hanya saja aku bisa mendengarmu.
Semua juga dengar.
- Mau duduk? - Silakan.
- Bisa bawakan teh, Mohan? - Ya.
Seperti biasa.
Maaf, minta waktu sebentar, ya.
Kau ke sini untuk membuat kopi sendiri?
Aku agak pilih-pilih soal kopi.
Kafenya bagus. Kau sering ke sini?
Tapi aku tak minum kopi.
Aku pencinta chai.
Chai.
Dan bersama teh Minggu-ku,
aku juga dapat sampel dari situs perjodohan. Gratis!
Siapa yang membuatkan profilmu? Ibumu atau ayahmu?
Permisi. Astaga.
DIA DATANG? BAGAIMANA DIA?
Boleh tanya sesuatu?
Sudah ada kandidat lain setelah aku?
Maksudku, jika sudah, akan kupersingkat.
Agar tidak bersamaan lagi.
Jadi, kau pengacara?
Ya.
Bidang perceraian.
Biasanya keluargaku menutupi yang itu.
Menakuti calon.
Tapi aku suka pekerjaanku.
Kau senang menceraikan orang?
Tidak.
Jujur saja,
perceraian terjadi sebelum masuk persidangan.
Kami cuma membantu
membuatnya resmi dan
menyelesaikan pembukuan.
Silakan.
Terima kasih, Mohan.
Kau menangani perceraian dan masih ingin menikah?
Soal itu…
Aku tak mau menikah sekarang.
Aku bertemu calon agar kerabatku tak mendesak ibuku terus.
Aku selalu punya alasan untuk menolak.
Tolak saja insinyur perangkat lunak tanpa perlu bertemu.
- Kau juga insinyur perangkat lunak, 'kan? - Dulu.
Aku bosan.
Kini aku bekerja di DWD Logistics.
Aku mengatur pembayaran mereka.
- Kenapa pilih pekerjaan itu? - Jauh dari keluargaku.
Dari Delhi, itu alasannya.
Dan dari mantanmu juga.
- Tidak. - Tidak?
Bukan seperti itu.
Asumsimu begitu.
Keuntungan kecil menjadi pengacara.
Aku belajar membaca ekspresi wajah orang.
Bukankah logistik membosankan?
Lebih membosankan hidup.
Jadi, kau akan melakukan apa di hari Minggu ini?
Rencanaku adalah bertemu denganmu, lalu nonton di bioskop.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan di Bhopal,
tapi kau pilih gelap-gelapan dan nonton cerita orang?
Oke, lalu kau punya saran apa?
Mengunjungi Manav Sangrahalaya. Jalan-jalan menyusuri Van Vihar.
Atau yang terbaik, menikmati soda lemon yang menyegarkan di tepi danau.
Merasakan denyut Kota Bhopal.
- Ayo. - Ke mana?
Katamu ada banyak hal yang bisa dilakukan di Bhopal.
Kenapa meninggalkan Amerika?
Tidak cocok di hati.
Meskipun ramai, anehnya terasa sepi.
Dapat beberapa teman di kampus.
Aku belajar sedikit tentang diriku, dan waktu mengajarkan sisanya.
Apa yang kau pelajari di sana?
Apa pun yang terjadi dalam hidup, kita tidak boleh melupakan asal-usul kita.
- Dan… - Dan?
Dan sebagus apa pun kafenya, kita sebaiknya membuat kopi sendiri.
Setelah bosan dengan logistik,
kau harus membuka kafe sendiri.
Ibu berkunjung dari Ratlam tiap dua bulan.
Gargi bukan hanya teman sekamar. Dia intel terselubungnya.
Apa maksudmu?
Dia mata-mata ibuku.
Omong-omong, strategimu untuk memperlama kencan cukup cerdas.
Terima kasih, tapi itu bukan strategi.
- Bukan? - Bukan. Aku cuma mengikuti intuisi.
Bersulang.
Bersulang.
Sial.
Chander, aku harus kembali ke kafe.
Kenapa? Ada apa? Ada yang terlupa?
Calon nomor tiga!
- Apa? - Chander.
Cari alasan dan tolak aku, oke?
Terima kasih.
Kenapa aku?
Jika gadis menolak pria, ibunya akan makin sedih, 'kan?
Hei!
Kau itu apa, ya?
PERJALANAN KE LADAKH IMPIAN MASA KECILKU - VK
- Hai. - Halo.
JUMAT, 4 SEPTEMBER
No comments yet. Be the first to leave one.