The first 200 lines.
FILM INI TERINSPIRASI OLEH NARASI PERISTIWA
DALAM KEHIDUPAN MENDIANG TN. JASWANT SINGH GILL.
DALAM KENANGAN PENUH KASIH AYAHKU MENDIANG SHRI. LILARAM BHAGNANI
Selama 2000 tahun, Inggris memiliki tradisi lama penambangan batu bara.
Tapi Sir George Bruce
dari Skotlandia mengubah keadaan di tahun 1575.
Dia memiliki ide cemerlang, menghubungkan lubang 40 kaki
ke dua lubang lainnya,
membuat ventilasi dan drainase air jauh lebih efisien di pertambangan.
Teknik inovatif yang berasal dari Inggris ini,
masih digunakan di pertambangan di seluruh dunia saat ini.
Tambang batu bara pertama di India didirikan di Raniganj
oleh para pionir Inggris yang bekerja di Kongsi Dagang Hindia Timur,
John Sumner dan Suetonius Grant Heatly.
Jelas bahwa perdagangan batu bara di India
sangat dipengaruhi oleh sistem Inggris.
Aspek seperti kawasan Markatta, klub perwira, proses pertambangan,
bahkan Sekolah Pertambangan India yang bergengsi di Dhanbad
meniru Sekolah Pertambangan Kerajaan di London.
Meski jarak sejauh 6000 kilometer
memisahkan pertambangan di Inggris dan India,
ada kesamaan tantangan yang mereka hadapi.
Kecelakaan di dalam tambang.
LEDAKAN DI TAMBANG BATUBARA DHORI DEKAT DHANBAD DI BIHAR
MENYEBABKAN KEBAKARAN YANG MENEWASKAN 268 PENAMBANG
TRAGEDI DI CHASNALA
375 ORANG TERPERANGKAP DI DALAM AIR DAN RERUNTUHAN
14 TAHUN KEMUDIAN.
SABTU, 11 NOVEMBER 1989, TAMBANG TERBUKA (RANIGANJ)
DIREKTUR
Pak,
jika Anda terus bersembunyi di sana,
bagaimana masalah ini bisa selesai?
Bubarkan dulu orang-orangmu.
Mereka akan bersikap sopan. Buka saja pintunya.
Tidak, aku tidak percaya. Pulangkan mereka.
Pak!
Tidak ada yang pergi.
Aku ingin Anda menjamin Nandu Malla kembali bekerja.
- Bukan aku. Jaswant yang memecatnya. - Di mana dia?
Hei, dobrak pintunya.
Ayo.
Kalian mau mendobrak pintu?
- Jangan telepon polisi, Pak. - Ya.
Anda tak mau dengar permintaanku, 'kan? Lihat saja.
Buka atau kami akan merusaknya.
Masih belum terlambat. Buka pintunya.
- Dobrak. - Tuhan, tolong selamatkan aku.
- Tendang lebih kuat. - Oke.
Berhenti!
Kak.
Dia yang memerintahku.
JASWANT SINGH GILL GM PENAMBANGAN TERBUKA
Kak, semuanya baik-baik saja?
- Kau... - Pak, istri Anda menelepon.
Dasar bodoh!
Apa ini waktunya menerima telepon?
Maaf, Kak. Ini istriku. Biar kujawab teleponnya. Tolong.
Aku yakin kau paham.
Nirdosh.
Jaswant.
Kenapa lama sekali?
Aku sudah lama menunggumu.
Kau tahu jam berapa ini?
Aku tahu, jam enam sore.
Ada rekan seniorku.
Untuk pastikan dia tidak buat keputusan yang salah,
aku harus kembali ke kantor.
Sudah kau pikirkan hadiah untuk dibawa ke pernikahan?
Ada ide?
Set?
- Tn. Gupta sudah memberi itu. - Benarkah?
Kalau alat penggiling?
Bukannya bos memberi itu?
Bos memberinya itu.
Lalu apa yang harus kita beri?
Jangan khawatir.
Aku akan bicara dengan seniorku,
selesaikan masalah, dan pulang.
Baiklah.
Kenapa kau memecat Nandu?
Ya, karena dia mabuk saat bertugas.
Pekerjakan dia lagi.
Nandu, minta maaf padanya.
Maaf.
Ya.
- Tapi tidak kerja lagi. - Kenapa?
- Hei, kau kenal aku? - Tidak.
- Dasar, bodoh! - Kau...
Maaf. Kurasa pukulanku terlalu keras.
Tapi itu salahmu.
Turbanku.
- Arahkan ke dadaku kalau kau mau. - Senjataku!
- Yang kau lakukan salah. - Benar.
Tapi tadi saat kau bicara dengan istrimu,
kau memanggilku seniormu.
Atas rasa hormat itu, aku memaafkanmu.
Terima kasih.
- Tapi, Kak... - Diam!
Bodoh! Beraninya kau mabuk saat tugas!
Tolol! Keluar!
Ayo, pergi.
- Kau baik-baik saja? - Tidak apa. Aku baik-baik saja.
Ayo.
Ikut aku. Akan kutunjukkan.
- Diam! - Tapi dengarkan aku!
- Pak? - Ya.
Ini Jaswant.
Aman.
Buka pintunya, Pak.
Sore.
- Salam, Tuan. - Salam.
Sudah selesai semua masalahnya?
Apa yang kau lakukan, Nirdosh?
Kau sedang mengandung, bukan?
Ingat apa kata dokter?
- Santai saja. - Tidak ada yang perlu dicemaskan.
Dokter hanya menakuti kita.
Tidak ada yang bisa menang berdebat denganmu. Ayo.
Nirdosh, aku mau bilang...
kau tampak cantik.
Jangan mulai lagi.
Apa kita harus hadiri pesta pernikahan ini?
Ini dari pihak keluargamu.
- Kau yang putuskan. - Oh, ya, aku lupa.
Baiklah, ayo.
Seperti ini?
Ganti pakaianmu.
Untuk apa?
Semua orang akan memandangmu, bukan aku.
Mulai lagi. Bersiaplah.
Sana.
Sinar bulan menyambut di malam keriaan Saat bulan purnama bersinar terang
Danau pun diundang Bulan adalah tamu utama malam ini
Sinar bulan menyambut di malam keriaan Saat bulan purnama bersinar terang
Danau pun diundang Bulan adalah tamu utama malam ini
Cahaya bintang berkilauan...
Cahaya bintang berkilauan Dalam balutan gaun berwarna susu
Bawa semua bintang, pemandangan yang indah
Sinar bulan menyambut di malam keriaan Saat bulan purnama bersinar terang
Saatnya berpesta!
Saatnya berpesta!
Saatnya berpesta!
Aroma cinta tetap melekat Di seluruh tepi dusun
Pintu-pintu dari pohon cendana Dengan hiasan di ambang pintu
Aroma cinta tetap melekat Di seluruh tepi dusun
Pintu-pintu dari pohon cendana Dengan hiasan di ambang pintu
Di dalam ruang hati Ada pancaran cahaya cinta
Bersinar dan bercahaya Bagai cinta yang membara
Sinar bulan menyambut di malam keriaan Saat bulan purnama bersinar terang
Saatnya berpesta!
Saatnya berpesta!
Saatnya berpesta!
Kudengar azimatmu, benang hitam
Penuh dengan lagu cinta Wahai kekasih Sartaaj
Kudengar azimatmu, benang hitam
Penuh dengan lagu cinta Wahai kekasih Sartaaj
Jika cinta itu ada, semoga cinta sejati
Dalam tradisi cinta murni, baru dan suci
Sinar bulan menyambut di malam keriaan Saat bulan purnama bersinar terang
Danau pun diundang Bulan adalah tamu utama malam ini
Saatnya berpesta!
- Kau sudah selesai menari? - Ya.
- Sudah senang? - Ya.
- Bisa pulang sekarang? - Tidak, peluk dulu.
Saatnya berpesta!
Hei, TV-nya datang!
Kenapa jalannya seperti kura-kura?
Ini hampir pukul sembilan, Adik ipar.
- Tidak apa, Kakak ipar. - Sini, berikan itu.
- Hati-hati. - Kalian jangan cuma berdiri di sana!
- Bantu dia. - Akan kami lakukan.
Tolong cari Banke.
- Banke! Bankelal! - Tak tahu ke mana dia.
Kak, kalau aku jadi PNS,
- Bankelal! - aku akan beli TV seperti ini.
Oya?
Aku tak lihat tanda itu jadi kenyataan.
Ujian sudah dekat, dan kau tidak fokus ke pelajaran.
Biar kujelaskan, Birju.
Kau tak boleh ke tambang itu, dan itu final.
Oh, oke.
Kami jarang bertemu kau sejak putrimu lahir.
Daddan, aku juga sudah mengeluh soal itu.
Jangan dengarkan dia. Itu tidak benar.
Aku ingin seluruh permukaan bus ditutupi bunga,
jadi seluruh Raniganj terasa seperti karangan bunga.
Astaga! Kau berbuat dosa di hari yang baik.
- Takutlah! - Dewa juga minum. Ayo pergi.
Kau tidak bisa berubah.
Kenapa kau panggil aku ke sini, Banke?
Ada beberapa jenis bunga di sini, Sunita.
Pilih yang kau suka.
Aku akan tahu perasaanmu padaku.
Shakuni bermain sangat jahat di babak terakhir.
- Ayo. - Pengasingan Pandawa pastinya
akan terungkap hari ini.
Kenapa tidak duduk di pangkuanku saja?
Minggir!
Sudama.
No comments yet. Be the first to leave one.