The first 200 lines.
Tahun 1965
Sudah, sudah. Kalian sudah cantik.
Ayo siap-siap.
Nona, sudah cukup.
Jangan lupa sepatu kalian. Kalian di sini untuk latihan. Ayo cepat.
Mulai sekarang, aku adalah penari klub malam.
Asisten sutradara, boleh aku bertanya?
Apa latar belakangku sebagai penari klub malam?
- Apakah dia bahagia atau... - Kau dijual untuk jadi penari.
Dijual? Dijual berapa? Siapa yang menjualku?
- Tanya penulis skenario. - Penulis skenario?
Ball, kau mau ke mana?
- Aku mau mencari seseorang. - Ayo cepat.
- Studionya di sana. - Ayo cepat.
Kau mau ke mana? Ayo cepat. Sutradaranya sudah marah.
Siapa yang belum hadir?
Tunggu aku.
Sutradara sudah lama menunggu. Tempati posisi kalian.
Kamera... Action.
Cut.
Maaf.
Sutradara bilang kau bodoh seperti babi.
Penulis skenario yang menyuruhku berakting seperti ini.
Dia bilang, "Kau tidak tahu apa-apa. Ini penampilan pertamamu."
"Kau akan gugup dan bingung."
Tolong bantu aku nanti.
Baiklah. Kau tidak dibutuhkan lagi. Kau boleh pergi sekarang.
Nona, hati-hati kostummu.
Seharusnya aku tidak percaya padamu.
Aku hanya penulis skenario? Mana aku tahu apa kemauan sutradara?
Lalu kenapa kau menyuruhku begitu? Kau mau mempermalukanku?
Aku kira kau tidak serius.
Nona, namaku Chun Wei. Siapa namamu?
Bukan urusanmu.
Nama yang bagus sekali.
Kau ini sangat istimewa.
Kau figuran pertama yang bertanya padaku...
...tentang latar belakang karakternya.
Kurang ajar.
Tolong beri jalan.
Siapa... Kakak Sen.
Kakak Sen.
Kita syuting apa hari ini? Beritahu aku.
Kapan-kapan ayo kita bicara lagi.
Di adegan ini, ini hari pertamamu bekerja di klub malam.
Kau mencari uang untuk mengobati penyakit ginjal ibumu.
Untuk ibumu. Kau mengerti?
Jangan berisik.
Kakak Sen.
Kakak Sen.
Kasar sekali. Lihat-lihat kalau jalan.
Pergi sana.
Dia keterlaluan sekali.
Lupakan saja. Dia memang sombong.
Lupakan saja dia. Ayo kita ganti kostum.
Aku harus berakting bagaimana?
Apa ibunya sakit ginjal?
Nona, kau cantik, dan juga sangat terus terang.
Namaku Pak Kam-lung. Siapa namamu?
Bukan urusanmu.
Nama itu cocok sekali denganmu.
Mei-ball.
Kau kenal dengan Kakak Sen?
Dia membintangi skenario pertamaku saat aku mulai bekerja di Studio Wong.
Dia suka mendengarkan cerita-ceritaku yang menarik.
Kau pandai menundukkan kepala.
Kau juga pandai meludahi wajah orang.
Ada apa? Kenapa kau tidak mau menatapku?
Kau takut jatuh cinta padaku?
Bisakah kau mengatakan sesuatu yang tidak menjijikkan?
- Kau menghindari pertanyaanku? - Aku hanya tidak suka bau napasmu.
Napasku bau?
Aku rasa tidak.
Apa mungkin lubang hidungmu yang bau?
Jadi bagaimana?
- Apa? - Kau suka atau tidak?
Apa Kakak Sen membuatmu kesal?
Kau suka atau tidak?
Tidak.
Baguslah. Kalau tidak, aku tidak tahu harus bagaimana.
Kau tahu aku sibuk.
Cut.
Cut.
Hei, yang baju merah muda. Kau yang seksi. Ayo ke sini.
Dia memanggilmu, bukan?
Aku bagaimana?
Kau cantik.
Bukan urusanmu.
Sutradara, ini kurang bagus. Bagaimana kalau dia di belakang?
Tapi dia masuk di banyak adegan.
Tidak apa-apa.
Keterlaluan. Dia terang-terangan memanggilku seksi.
Itu keterlaluan.
Temanku memang seperti itu.
Bicaranya sering terlalu keras.
Seharusnya bicara pelan-pelan ke pemain figuran.
Scene 4, shot 3, take 1.
Bicara pelan-pelan.
Bicara pelan-pelan.
Kau dengar jantungmu berdebar kencang?
Itu normal. Jantungmu nanti juga akan berdebar kencang.
Kenapa?
Sulit dijelaskan. Kau akan tahu kalau sudah besar.
Kau bisa saja.
Nona, aktingmu serius sekali.
Tentu saja. Karena sutradara belum bilang "cut".
Kalau dia lupa bilang "cut", nanti bisa terjadi kecelakaan.
Bicara pelan-pelan.
Ayo makan semangkanya.
Jangan malu-malu. Mari makan.
Ayo kita makan dulu. Ini gratis.
Jangan makan. Itu sulit dicerna.
Ya. Kita tidak mau berhutang apapun padanya.
Dia berhutang pada kita di kehidupan sebelumnya.
Jadi sekarang dia harus membayar kita.
Ya, benar. Dia mengeluarkan uangnya untuk memberi kita makan.
Hei, di mana prinsipmu?
Prinsipku adalah membuat Lam Sen bangkrut.
Kakak Sen.
Sepotong semangka tidak cukup untuk membuatku senang.
Aku tidak peduli.
Kau memanggilku?
Kakak Sen, terima kasih. Semangkanya manis sekali.
Gadis Taiwan, hati-hati. Nanti kau bersendawa.
Bisa kita pergi sekarang?
Kakak Choi.
Cepat ganti baju. Jarimu kotor habis masuk mulut.
Rambutmu berantakan.
Ternyata begitu. Ada laki-laki di belakangnya.
Karena itu dia jadi sombong.
Sen, kami mau sarapan di Restoran Lui-yu.
- Kau mau ikut? - Sarapan sekarang?
Apa kau tidak perlu tidur?
Gawat.
Sampai jumpa.
Kasihan sekali. Kau sampai berkeringat.
Temui aku nanti di kamar rias.
Temui aku nanti.
Kau mau sarapan?
Kau pandai berakting jadi penari klub malam.
Sebelum ini Kakak Keith.
Sebelum itu Ko Lo-chuen.
Dan sekarang Lo Kim-choi.
Hati-hati dengan gosip.
Aku hanya mau berteman dengan mereka. Aku tidak akan digosipkan.
May, ini adalah profesi yang rumit.
Pria di bidang ini tidak pernah berkata jujur.
Maksudku bukan kau. Maaf.
Kau terlalu mudah percaya orang lain.
- Hati-hati dibohongi. - Kau bicara seperti ibuku.
Jangan seperti dia, mendahulukan laki-laki daripada teman.
Tentu saja tidak. Aku tidak seperti dia.
Kita pergi sekarang?
- Ya. - Tak terasa hari ini sudah berlalu.
Apa bunga ini untukku?
Aku mengambilnya di ruang properti. Aku mau membawanya pulang.
Sebetulnya aku suka sekali mawar.
Kenapa?
Warnanya bermacam-macam.
Ada yang kuning.
Ada yang ungu, merah muda. Tapi aku paling suka jingga.
Sebetulnya ini untukmu.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Mei-ball, kita berangkat setelah kau ganti baju.
Dia bilang pamannya tukang jahit. Dia bisa memberi kita diskon.
Apa benar?
Ya. hari ini Festival Musim Gugur. Ini hari yang romantis.
Kita bisa pergi minum teh setelah mengukur baju.
Tidak perlu. Antar saja kami ke asrama.
Terserah kau.
Tapi mobilku tempat duduknya hanya dua.
Kalau tidak keberatan kau naik mobil temanku saja.
Mobilnya lebih besar dan lebih nyaman.
Tidak, perl. Aku naik mobil temanmu. Aku suka mobil besar.
Bicara pelan-pelan...
90 centimeter.
Sungguh?
Aku yakin.
Tuan, apa bisa lebih murah?
Ini sudah sangat murah.
Bahan yang dipakai sangat sedikit, harganya bisa lebih murah.
Kau pasti salah ukur.
Aku hanya bercanda.
Karena bahan yang dipakai sedikit, biar aku belikan sebagai hadiah.
Tidak, kita bukan kerabat. Jangan buang-buang uangmu.
Ayo kita patungan membeli gaun ini.
Baiklah.
Tapi aku tidak yakin.
Ukuran kalian berdua berbeda. Bagaimana kalian nanti memakainya?
Itu bukan masalah.
Mau pakai ukuran yang mana?
Pakai ukurannya. Gaun ketat terlihat bagus.
Jangan. Pakai ukuranmu.
Kalau terlalu besar baginya sumpal saja dengan kapas.
Dia akan merasa hangat di musim dingin dan sejuk di musim panas.
Kau jahat sekali.
Kenapa kau selalu mengejekku?
Aku ingin menarik perhatianmu.
Apa katanya?
Dia bilang kau cantik.
No comments yet. Be the first to leave one.