The first 200 lines.
Ah-Yong.
Apa cakwenya sudah siap?
Terima kasih.
Harap tunggu pesanannya.
Silakan datang lagi.
Kak Ah-Sheng, mau cakwe?
Ada apa?
Apa kau terluka?
Maafkan aku, bagaimana kalian?
Kalian terluka?
Kau terluka?
Hanya tumpah ke sepatu.
Paman Ah-Yong, roti wijennya sudah siap.
Roti wijen? Baiklah.
Maaf.
Shuhan, pel lantainya.
Apa makananku sudah siap?
Sudah.
Ayah, bagaimana keadaanmu?
Halo, aku ingin mengambil pesanan nomor 41.
Baiklah, segera datang.
Terima kasih.
Aku akan naik dan membersihkannya.
Roti telur dan susu kedelai.
Maaf, ya.
-Baik. -Terima kasih.
Chunru, ayah makan apa untuk sarapan?
Apa dia lapar?
Chwee kueh buatan Liqi.
Pasti Liqi melakukan sesuatu.
Apa kau mencium sesuatu?
Bukannya baunya seperti makanan gosong?
Di dapur. Akan kuperiksa.
Apa terjadi sesuatu?
Sepertinya kakek lupa mematikan apinya.
Apa yang aku lakukan pagi-pagi begini?
Putri sulung, Xu Liyi.
Putraku, Xu Liqi.
Putri bungsu, Xu Lixin.
Nomor telepon rumah.
Nomor telepon toko.
Ayah baik-baik saja?
Kenapa lama sekali di toilet?
Ayah sudah tua, buang air jadi lama.
Ada apa? Tidak boleh?
Baiklah.
Menyuruh mereka untuk membersihkan ruangan dan mengepel?
Kau tega melakukannya?
Ayah, ponselnya berdering.
Ayah tahu.
Tidurlah lagi.
Kenapa baru sampai di sini?
Lambat sekali.
Cepatlah.
Kau bilang kapan bibimu sampai di Taiwan?
Belum pasti.
Sepertinya jadwal penerbangannya berubah.
Seharusnya dua hari lagi.
Ayah akan membereskan kamarmu hari ini.
Ayah yakin bibi akan kembali tinggal di rumah?
Kalau tidak, ke mana dia akan pergi?
Apa dia punya pacar?
Aku tidak bermaksud begitu.
Ayah sendiri tidak menanyakannya pada bibi?
Tidak perlu bertanya.
Jika dia ingin mengatakannya, dia akan memberitahu kita.
Xu Lixin adalah orang yang canggung sejak dia kecil.
Sudah tahu masih saja bertanya.
Siapa tahu hubungan kalian berdua lebih baik...
dan kau tahu lebih banyak hal yang Ayah tidak tahu.
Ayah sangat suka bergosip.
Apanya?
Tidak.
Baiklah.
Hampir lupa.
Baiklah.
Semangat belajarnya.
Sampai jumpa.
Selamat pagi, Bu Guru.
Sakit tidak?
Pagi ini Ayah tidak makan sampai kenyang, ya?
Bilang saja jika Ayah lapar.
Ayah bukan anak kecil lagi.
Chwee kueh yang dibuat Liqi pagi ini sungguh tidak enak.
Kulihat kau juga tidak makan banyak.
Namun, di toko ada banyak makanan yang bisa dimakan.
Lihat.
Obat luka bakarnya sudah habis.
Xu Liqi juga tidak membelinya.
Aku harus menyuruhnya baru dilakukan.
Jadi Ayah mau makan apa sekarang?
Aku akan mengambilkannya.
Tidak usah.
Ayah tidak lapar.
Kenapa mengambil susu kedelai jika tidak lapar?
Sampai melukai dirimu sendiri.
Aku selalu ada di toko.
Ayah mau makan apa pun...
cukup beri tahu aku.
Aku akan mengambilkannya.
Ayah, aku bilang padamu...
Liyi.
Liqi belum kembali.
Kau pergilah membantu di toko.
Ini serahkan saja padaku.
Paman Ah-Yong,
ayahku bisa memberitahuku jika dia ingin makan sesuatu.
Baiklah, aku mengerti.
Lalu, susu kedelai yang tumpah...
-aku akan membersihkannya. -Ya, aku mengerti.
Kau turunlah dan membantu.
Aku mengerti.
Lihatlah putrimu.
Kenapa Liyi sangat banyak bicara?
Dia mengkhawatirkanmu.
Bagaimana?
Bagaimana tanganmu?
Tidak apa-apa.
Kita biasa membuat roti wijen dan susu kedelai.
Ini bukan apa-apa.
Baguslah kalau tidak apa-apa.
Kak Ah-Sheng.
Kau mau ikut ke pasar untuk mengantarkan cakwe?
Kau mau minum kopi?
Tidak mau.
Aku tidak ingin merepotkanmu.
Kau bicara apa?
Aku tahu.
Apa kau ingin terus dimarahi oleh Liyi?
Ayo pergi.
Berikan padaku.
Selamat pagi.
Pak Xu.
Jangan cepat-cepat pergi.
Mari kita berbincang.
-Tunggu sebentar. -Kak Ah-Sheng.
Pagi.
Kak Ah-Sheng.
Pak Xu, kau mengantar cakwe?
Jalan pelan-pelan.
Tunggu aku.
-Tunggu aku. -Ah-Yong.
Halo.
Pak Lin, ini cakwenya.
Baik, terima kasih.
Kau mau makan semangkuk hari ini?
Boleh.
Oke, duduklah.
Segera kusajikan.
Kenapa kau sangat lambat hari ini?
Aku membuat sup kacang merah.
Aku bawakan semangkuk untukmu.
Tidak perlu.
Ambil saja.
Tidak sampai lima menit.
Aku tidak lapar.
Tidak apa-apa.
Tidak usah.
Huh.
Apa yang kau lakukan?
Marah.
Jangan seperti ini.
Ambil saja.
Jangan begini, oke?
Ini, Shuhan.
Meja nomor lima.
Ini obat luka bakar yang kau minta.
Sudah kehabisan...
baru kau beli obatnya.
Bantu aku mengambil cakwe untuk besok...
dan menggorengnya.
Ayah sedang keluar.
Kakek dan Kakek Ah-Yong pergi ke pasar mengantar roti wijen dan cakwe.
Bukannya dia terluka? Kenapa dia keluar?
Mungkin tidak apa-apa.
Kakak yang terlalu khawatir.
Chwee kueh yang kau buat tidak terlalu enak.
Ayah lapar jadi ingin mengambil susu kedelai dan roti telur,
tetapi malah melukai dirinya sendiri.
Tidak hanya roti telur, kembang tahu juga.
Jangan membuat chwee kueh lagi.
Aku takut memakannya.
Namun, jika aku tidak membuatnya,
bagaimana aku bisa membuat...
rasa makanan seperti buatan ibu dulu.
Memangnya bagaimana rasanya?
Apa seperti yang aku beli saat Tahun Baru Imlek?
Benar-benar berbeda.
Chwee kueh yang dijual saat Tahun Baru Imlek,
jauh berbeda dengan apa yang dibuat ibu.
Wanita yang menjual bakpao sayur di pasar bilang,
dia menggunakan beras ketan baru.
Lembut dan halus.
Aku rasa setengah beras ketan,
setengah beras biasa lebih baik.
Seperti ada lubang di atasnya.
Kau sangat aneh.
Kau makan diam-diam?
Itu sangat panas.
Kau lapar?
No comments yet. Be the first to leave one.