The first 200 lines.
Aku Cecilius Van Dijk,
opsir polisi Hindia Belanda
ingin mendapat pengakuan dari Tuan Tjokro
berdasarkan bukti-bukti yang telah terkumpul
atas peristiwa kerusuhan di Kota Garut, Jawa Barat.
Kami telah menemukan bukti bahwa kau,
Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin perkumpulan kaum Bumiputera,
Serikat Islam,
tidak saja bersaksi palsu,
tapi juga menjadi dalang kerusuhan.
Silakan, Tuan Tjokro.
Harap bersikap sopan.
Mohon balik badan
dan mendekat ke meja!
Aku bisa berjalan.
Bukankah kedatanganku ke sini atas kemauanku sendiri?
Jika tidak atas kehendakku,
maka serdadumu tidak akan mampu untuk mengalahkan umatku.
Aku tidak mau ada kekerasan di depan mataku.
Apa Tuan Tjokro mampu melakukan sebuah kekerasan?
Aku Oemar Said Tjokroaminoto.
Seorang muslim Bumiputera.
Ketua perkumpulan Serikat Islam, punya dua juta anggota.
Perkumpulan terbesar di Hindia Timur.
Paham akan hukum-hukum Tuhan.
Aku orang Jawa pertama yang menjadi anggota Volskraad.
Lulusan OSVIA.
Kakekku, Tjokronegoro I pernah menjabat sebagai bupati Ponorogo.
Kakekku dari pihak yang lain,
Kiai Kasan Besari,
adalah kiai terkenal
yang mengajarkanku tentang nilai hidup sebagai orang Jawa.
Sial!
Apa yang kau lakukan?
Kau tahu berapa harganya? Ayo pergi.
Ayo pergi!
Kakekmu dulu kami beli sebagai budak mahal
dari pasar budak di Batavia.
Budak terbaik penyadap karet.
Kini kau, kau pemalas!
Baru-baru ini, Hindia Belanda
menjadi pengekspor karet nomor dua di dunia.
Kini, akibat pemalas bodoh sepertimu,
ekonomi kerajaan mundur.
Cepat, jalan!
Lihat jejak kotor yang kau tinggalkan!
Kau pikir aku ingin ke negara ini?
Di negara ini, kami adalah orang gagal!
Kami orang yang terbuang!
Bertahun-tahun,
aku tidak merasakan dinginnya salju. Dan sekarang?
Aku dibakar panasnya mataharimu yang terkutuk!
Kerja keras,
mengirim karet,
gula, dan bermacam jenis kopi
untuk para penguasa politik
yang hanya duduk-duduk,
bersantai di kerajaan sana,
di kafe.
Dan pandai berbicara!
Tanpa pernah merasakan gigitan nyamuk.
Nyamuk!
- Hidungnya! - Hentikan!
- Hidungnya! - Hentikan!
- Hidungnya! Hidungnya! - Kenapa kalian butuh buku itu?
Hidungnya! Hidungnya!
Tjokro.
Kembali ke tempatmu.
Ini adalah benua Eropa.
Dan Belanda berada di sini.
Bagian ini adalah Asia Tengah.
Di sini Australia.
Dan ini seluruhnya adalah Hindia Belanda.
Bumi menjadi terasa sempit
dengan adanya kapal uap
dan dibukanya Terusan Suez.
Lalu, jika jarak tempuh antara benua Asia dan Eropa lebih cepat,
apa akibatnya?
Siapa tahu akibatnya?
- Siapa tahu? - Aku tahu akibatnya.
Orang-orang Eropa datang ke sini
untuk mencari apa yang tidak mereka punya.
- Karet, kopi, - Tutup mulutmu!
pala, cengkih, tembakau untuk pabrik mereka.
- Mereka juga mencari pelabuhan hangat - Diam!
untuk mengambil hasil kita sepanjang tahun.
Orang-orang Eropa di sini hanya menjadi raja sehari.
Kau banyak bicara.
Tuan Jansen yang tinggal di belakang sekolah itu.
Tutup mulutmu!
Tangannya panjang sekali,
- menyuruh orang seenaknya. - Tutup mulutmu!
Pembantunya ada 320 orang.
Ada 320 orang!
Tjokro, ingat.
Kata-kata penting dari Nabi Muhammad.
Hijrah.
Berpindah dari tempat buruk ke tempat lebih baik.
Jadilah seperti sumbu ini.
Membuat umat mencari jalan terang.
Kata kedua dari Nabi yang harus kau ingat.
Iqra. Baca.
Baca.
Malam ini, Bapak Tjokroamiseno menggelar hajat
mengundang Wayang Beber Tawangalun
untuk meruwat anak laki-lakinya yang lahir
bersamaan dengan meletusnya Gunung Krakatau.
Semoga dengan adanya ruwatan ini,
Tjokroaminoto menjadi Kesatria Piningit.
Pengantinnya lewat! Pengantinnya lewat!
Ya!
EKSPOR KARET DARI PONOROGO 345 TON
Berhenti!
Sudah
sering kukatakan.
Pakai sarung tangan.
Pegang! Jangan sampai lepas.
Pegang terus, agar bibit penyakit di tanganmu mati.
Berulang kali kukatakan,
tapi tidak pernah masuk ke otak kecil bodoh kalian.
Berhenti bekerja!
Berhenti!
Dengarkan baik-baik, semuanya.
Tangan kalian...
Tangan kalian penuh dengan penyakit menular.
Kalau kami sakit?
Apa yang kalian bisa kerjakan?
Mengerti?
Bodoh.
Kalian seperti monyet.
Karena itulah aku di sini.
Kalian semua dengarkan aku.
Setiap aturan yang ada...
Hentikan kegiatanmu!
Berhenti mengetik!
Dasar tidak tahu malu.
Seperti yang pernah kukatakan,
setiap aturan yang dilanggar,
akan mendapat hukuman.
Mau apa kau?
Mau apa?
Silakan duduk.
Apa?
Duduk.
Teh ini panas.
Tapi tanganku juga sudah terbiasa dengan panas matahari.
Teh ini ditanam di tanah mereka, dengan keringat mereka.
Tuan nikmati teh ini pagi dan sore.
Demi kesejahteraan negeri Tuan.
Pecat Tjokroaminoto!
Kerja!
Tjokro!
Tjokro!
Apa benar kau mau mundur dari pekerjaanmu?
Kalau itu benar, pergi dari rumah ini.
This is about honor.
Raja di Jawa
sudah hilang kekuasaannya.
Sudah tidak ada kekuasaan mutlak.
Kekuasaan mutlak sudah di tangan pemerintah Hindia Belanda.
Keluarga kita sudah diberi kedudukan yang enak.
Palungguhan.
Sudah kukatakan kepadamu,
rumah bukan sekadar kediaman.
Bukan rumah tapi juga tempat tinggal,
tempat kita menjaga martabat.
Dan sekarang martabat itu sudah kau hancurkan.
Kau paham?
Dasar bodoh.
Bodoh!
Kau mau pergi ke mana?
Aku selalu bercerita tentang darah yang menetes di atas kapas itu.
Kau juga mungkin sudah bosan melihatnya.
Aku tidak tahu.
Mau aku bawa ke mana suara ini?
Kata hijrah selalu mengiang di telingaku. Terus-menerus.
Sehingga aku gelisah.
Aku mengerti.
Tapi itu yang selalu kau bicarakan sejak pertama kita bertemu.
Kalau hijrah memang satu-satunya jalan
untuk menghentikan darah dan air mata yang terus memanggilmu,
aku tunggu.
Aku akan ikut hijrah di belakangmu.
Ini semua bukan semata-mata untuk kita.
Ini juga untuk dia.
Ini tidak patut. Jelas tidak patut.
Mana tanggung jawab laki-laki itu sebagai suami?
Bisanya hanya bepergian. Apa yang dilakukannya di luar?
Apa?
Apa?
Begini saja.
Malangnya, punya anak satu ini.
Jika sampai kau melahirkan
laki-laki itu tidak juga kembali...
Jangan bilang
bahwa dia mencintaimu.
Dan jangan bilang bahwa dia menghormati keluarga Mangoensoemo.
Jangan sekali-sekali.
Dengar perkataan ayah?
Kau dengar?
No comments yet. Be the first to leave one.