The first 166 lines.
Siapa yang melempar?
Apa yang terjadi?
Siapa pelakunya? Mengakulah!
Chen Hsin-tien!
Kembali!
Chen Hsin-tien!
Mari kita mulai.
Candy Online.
Chen Hsin-tien!
Chen Hsin-tien, kembali!
PERTAMA!
Melompati pagar terasa menyenangkan!
AKU HADIR.
Sekolah bodoh.
Bahkan orang-orang di sini bodoh.
KAU MELOMPATI PAGAR? KEREN.
Jembatan yang cantik
dan langit yang indah.
KAU PULANG?
Tebak aku mau ke mana.
Dia mengejek kita.
Kau tahu dia mau ke mana?
Mari kita berikan sambutan kepada para murid yang luar biasa ini.
Terima kasih kepada para tamu.
Silakan duduk.
Pei-wen.
Kau tahu apa maksudnya ini?
Bisakah tak menanyakan aku?
Jika tahu, katakan pada kami.
- Nenek! - Ya?
Kau sedang apa?
Siaran langsung.
"Siaran langsung"? Jangan.
Tak apa-apa.
Jangan!
- Aku tak terlihat cantik. - Nenek!
Kau sedang apa...
Kau begitu populer! Ada banyak penonton!
Hentikan!
Tak apa-apa. Kau sangat cantik!
- Hentikan! - Biar kurekam.
Kenapa kau melakukan ini?
- Ayolah, Nek! - Astaga.
Mendekatlah.
- Berhenti merekam. - Biar kurekam.
- Jangan rekam. - Ayo. Lihat penggemarku.
Kau siaran langsung saja sendiri.
Aku sudah tua. Jangan rekam aku.
Nenek, pura-pura jadi zombi bersamaku.
Kau saja sendiri.
- Jangan, aku... - Ayolah! Biar kurekam.
- Aku sudah tua. Jangan rekam. - Tidak, belum!
Aku jelek.
Kau...
- Jangan kabur. - Aku mau ke kebun.
Jangan ikuti aku.
- Kau cantik. - Aku tak pantas.
Kenapa masih merekam?
- Aku jelek. - Biar kurekam kau.
- Nenekku yang cantik. - Astaga!
Kau tahu Chen Hsin-tien melepas baju di siaran langsung?
Bu Huang, dia akan dikeluarkan?
Kami masih mempertimbangkan dan akan memutuskan pekan depan.
Kami juga ingin dengar pendapat murid lain.
Karena ada vandalisme terhadap kantor kepala sekolah,
ini menjadi masalah sensitif.
Kau tahu siapa pelempar batunya?
Pelakunya Chen Hsin-tien?
Aku tak tahu.
Kudengar ada dua murid yang menyukai Chen Hsin-tien.
Mungkinkah mereka berdua?
- Candy! - Candy!
- Candy! - Candy!
Candy, aku mencintaimu!
- Candy, aku juga mencintaimu! - Aku mau mengakui cintaku!
- Kalian mencintainya? - Ya!
- Candy, aku mencintaimu! - Candy!
- Candy! - Candy!
Mungkinkah mereka berdua pelakunya?
Walau Chien Chun-wei itu kakakmu,
semoga kau bisa jujur dengan kami, Pei-wen.
Itu bukan pengakuan cinta.
Melainkan perundungan.
Aku mau memberitahumu
Bahwa cinta kita sama
Jangan biarkan peraturan di masyarakat
Menjatuhkan dirimu
Aku akan memegang tanganmu
Bersikap berani untukmu
Inilah jalan cintaku
Pada malam yang indah ini
Karena yang kita cari
Adalah kebebasan sejati
Status dan identitas
Tidaklah penting
Setiap interaksi itu tulus...
Nona Fang, kapan ini disiarkan?
Sekitar sebulan lalu.
Karena video ini,
sebuah platform siaran langsung di Taipei menghubunginya
dan mengontraknya sebagai penyiar.
Aku sudah lihat akapelanya.
Hsin-tien manis.
Murid-murid lain juga menontonnya.
Pei-wen, kenapa kau bilang itu perundungan?
Karena mereka tak memanggilnya Hsin-tien.
Mereka memanggilnya Candy.
Aku bisa jelaskan itu.
Berarti, kita tak bisa menilai orang dari penampilan mereka.
Saat itulah kita gunakan idiom,
"Jangan menilai buku dari sampulnya."
Jika kita lihat kalimat ini, ini juga berarti jangan merendahkan orang.
Jika kita terjemahkan langsung,
bisa dikatakan, "Jangan menghakimi orang."
KATA IBUKU IBU CANDY WANITA JALANG
Lin Sheng-hao.
Kau sedang apa?
Berikan.
Kau bermain ponsel?
Para murid biasa memanggilnya Chen Hsin-tien.
Mereka baru mulai memanggilnya Candy.
Aku juga merasa mereka menghinanya.
Pei-wen, inikah yang kau maksud dari mereka merundungnya?
Ya.
Mereka membuat keributan.
- Candy, aku mencintaimu! - Hsin-tien jadi kesal.
Candy, aku mencintaimu!
Candy, aku mencintaimu!
Candy, aku mencintaimu!
- Aku mencintaimu! - Jangan pergi.
- Aku mencintaimu! - Chun-wei dicampakkan.
- Aku mencintaimu! - Candy kesal.
Aku mencintaimu!
Aku mencintaimu!
Chen Hsin-tien, kau sedang apa?
Itu berbahaya!
Jadi, bukan kakakmu dan Weng Chien-tung yang melempar batunya?
Kau tahu siapa pelakunya?
Aku tak tahu.
Baiklah, Pei-wen. Itu saja.
Kembalilah ke kelas.
LU REN
Pei-wen.
Kenapa belum berganti pakaian?
Pei-wen.
- Apa? - Ganti pakaian dan sarapan.
- Baik. - Kau bisa terlambat.
Pei-wen, jas ayahmu harus dibawa ke penatu.
Jangan dimasukkan ke mesin cuci.
Baik.
Jalan yang benar.
Kau minum terlalu banyak.
- Nona. - Ya?
Kenapa kau seperti tak menua.
Kau masih sangat cantik.
Itu memang benar.
Kau bisa bilang itu lagi saat kau sadar.
Aku tak mabuk.
Aku hanya minum sedikit terlalu banyak.
Ya, terlalu banyak.
- Nona. - Ya?
- Dah! - Dah!
LU REN
Ibunya mencuri suami orang.
Tentu saja anaknya juga begitu.
- Apa katamu, Jalang Gila? - Jaga ucapanmu!
No comments yet. Be the first to leave one.