The first 200 lines.
KANTOR OSIS
Kami kembali.
Selamat datang kembali. Terima kasih...
Kau membawa sesuatu yang bagus.
Imut, 'kan?
Ya, imut...
tapi kau tak berniat menaruhnya di sini, 'kan?
Boleh, ya?
Tidak. Jangan mendesakku.
Ini keperluan yang kami beli.
Mari kita lihat.
Ini hanya keperluan biasa.
Kuze, kau sangat membantu.
Jika Kujou sendiri, entah apa jadinya.
Kantor OSIS akan berubah menjadi istana boneka.
Bagaimana, Kuze?
Masih tak berminat ikut OSIS?
Itu...
Aku tak keberatan membantu sesekali.
Kalau begitu,
setidaknya masukkan namamu ke daftar anggota, ya?
Kau juga setuju, Kujou?
Tidak, memasukkan namaku...
Kalau dipikir, aku maklum kalau itu Yuki,
tapi Ketua, kenapa kau sangat ingin aku ikut?
Kenapa kau tak mau ikut OSIS?
Kurasa bekerja keras bukan satu-satunya alasan.
Karena aku
tak cocok menjadi anggota OSIS.
Tapi menurutku sebaliknya.
Lagi pula, bukankah kau banyak prestasi
sebagai wakil ketua OSIS SMP yang luar biasa?
Karena itulah aku tidak cocok.
Lagi pula,
aku memperjuangkan posisi itu bukan untuk tujuan besar.
Apa salahnya itu?
Apa?
Kau tahu?
Aku menjadi ketua demi mendapatkan gadis yang kusukai.
Bukankah motif ini lebih kotor daripada motifmu?
Begitukah?
Lihat ini.
Apa ini adikmu?
Ini saat aku kelas sembilan.
Apa?
Kau terkejut?
Ya.
Bagaimana, ya? Kau sudah banyak berubah.
Dua tahun lalu, aku seperti yang kau lihat.
Nilaiku buruk sekali.
Juga payah olahraga.
Sejujurnya, aku tak suka sekolah.
Tapi meski tak cocok,
aku suka salah satu dari dua gadis cantik
di kelas yang sama.
Maksudmu pacarmu, Ketua?
Ya. Wakil ketua saat ini,
Chisaki Sarashina.
Demi menjadi pria yang pantas untuknya,
aku berjuang mengubah diri.
Mengambil alih posisi ketua juga bagian dari rencanaku.
Bagaimana?
Kurang kotor?
Benar.
Itu sebabnya
hal-hal seperti motif itu tak penting.
Termasuk Kujou di sana,
dia ikut OSIS hanya karena Chisaki mengajaknya.
Begitukah?
Benar.
Aku juga tertarik ikut OSIS.
Kurasa apa pun motifmu,
tak masalah selama meninggalkan rekam jejak bagus.
Baik cinta atau persahabatan,
sebagai anggota OSIS,
selama bisa mengadakan berbagai kegiatan untuk SISWA,
tak masalah.
Begitukah?
Ya.
Kalau tidak,
hanya orang suci yang bisa menjadi politisi.
Itu benar juga.
Benar.
Sebagai wakil ketua, di SMP,
kau banyak berprestasi dengan Suou.
Tidak perlu malu
atau merasa bersalah.
PEMILIHAN OSIS SMP SEIREN
Kakak.
Tetaplah di sisiku selamanya.
Mustahil. Itu terlalu merepotkan.
Hei, bukankah kau kakakku?
Ikut OSIS demi menjadikan seseorang ketua
itu yang kubisa.
Aku, Chisaki, dan Kujou menyambutmu.
Tak ada yang akan mengkritikmu.
Aku akan memikirkannya.
Pikirkan baik-baik.
Khawatir adalah hak istimewa anak muda.
Kau juga masih muda, Ketua.
Sejujurnya, kau tak terlihat seperti anak kelas dua.
Banyak yang bilang.
Aku dikira mahasiswa S2 tempo hari.
- Menjadikan seseorang ketua? - Kau memang tampak berkarisma.
Begitukah?
Hei, di mana Alya?
Dia mengurus masalah antara klub bisbol dan sepak bola.
Masalah?
Di periode ini,
klub bisbol memakai lapangan untuk persiapan
kompetisi antarsekolah tahunan.
Tapi tahun ini, klub sepak bola masuk penyisihan regional.
Jadi, klub bisbol diminta menyerahkan hak memakai lapangan.
Jadi, Alya menengahi itu?
Ya.
Tak ada yang mau mengalah.
Tampaknya pencari bakat akan datang untuk klub bisbol.
Aku ingat,
aku pernah melihat kapten klub bisbol di TV.
Sebagai harapan klub bisbol, dia cukup terkenal.
Chisaki biasanya mengurus masalah klub seperti ini.
Tapi dia sibuk dengan klub kendo hari ini.
Kupikir akan menjadi pengalaman bagus, jadi, aku mengirim adik Kujou.
Namun, sepertinya tak semudah itu.
Aku permisi.
KANTOR OSIS
Aku hanya akan memastikan
apa mereka bertengkar.
Makanya,
lebih baik berlatih sepak bola di kandang.
Percuma bilang begitu.
Kami melakukannya setiap tahun.
Tempatnya sudah lama dipesan.
Pertandingan itu
seperti tanding persahabatan, 'kan?
Tidak!
Tolong tenanglah.
Saling mengkritik begini tak ada gunanya.
Kau punya solusi lain?
Bagaimana kalau gunakan
tepi sungai terdekat sebagai lapangan latihan lain?
Apa? Tepi sungai?
Ada lapangan bisbol di tepi sungai, 'kan?
Berarti beres.
Kalian bercanda?
Ada lapangan sepak bola juga, 'kan?
Kondisi lapangan sekolah lebih baik.
Kami juga berpikir begitu!
Ini pertandingan yang penting bagi masa depan kami!
Jangan hanya memikirkan diri sendiri!
Lagi pula,
anggota klub sepak bola lebih banyak dari kalian.
Karena tempatnya jauh, kalian harus segera pergi.
- Berhenti. Tolong tenang. - Jangan membual!
- Masa depan kami... - Tidak ada
- yang mendengarkanku. - Kami harus berlatih.
Aku
tak bisa menyentuh hati orang-orang.
Jika ini hasil
dari berharap pada seseorang,
lebih baik kulakukan sendiri.
Lagi pula,
tak ada yang mau mengikutiku.
Salahku karena meremehkan orang lain,
menjauhkan mereka,
dan menolak mendekati siapa pun.
Ini harga yang harus kubayar.
Siapa yang akan mendengarkan orang seperti ini?
Orang sepertiku yang selalu merendahkan
dan blak-blakan.
Aku selalu
sendirian.
Aku mengerti.
Semuanya.
Itu pilihanku sendiri.
Tapi...
Tapi...
Bantu aku.
Seseorang,
tolong bantu aku.
Halo.
Maaf mengganggu diskusi kalian.
Aku dari OSIS.
Aku petugas urusan umum,
Kuze Masachika.
Ini pertandingan yang penting bagi masa depan kami!
Jangan hanya memikirkan diri sendiri!
Lagi pula,
anggota klub sepak bola lebih banyak dari kalian.
Karena tempatnya jauh, kalian harus segera pergi.
Berhenti. Tolong tenanglah.
Percuma mengatakan itu, Alya.
Kedua pihak sedang marah.
Lebih baik memulai diskusi dari awal.
Aku kasihan padamu,
tapi itu pengalaman.
Semangat, Alya.
Bantu aku.
Seseorang,
tolong bantu aku.
No comments yet. Be the first to leave one.