The first 200 lines.
- Bu? - Ya?
Aku ambil kipasnya Ibu, ya?
Jangan lupa dikembalikan, ya.
Ini makin parah ya, Bu?
Di kamar, 'kan, Bu?
- Aku ambil ya. - Ya.
Hei, Lin.
Lagi buru-buru, Yah.
Eyang!
- Mau sekolah? - Ya.
Hati-hati.
- Bu? - Ya?
Kunci motor mana ya, Bu?
Itu, ada di belakangmu.
Di mana, Bu? Tidak ada.
Bu?
Itu.
- Tidak ada, Bu. - Ini, digantung di sini.
Dari kemarin di sini taruhnya.
Cucu Eyang Uti.
Kok ini belum dikancing, Nis?
Titip dulu ya, Bu, aku sambil menyalakan motor.
Kenapa, Kak?
Harus ambil data ulang.
Ini kok mati, Ca?
- Bu? - Ya?
Kok ini kipasnya mengadat?
Ini ditepuk-tepuk, Kak.
Tidak jadi, Bu. Bisa.
Bu.
Baju olahraga Asya di mana, ya?
Ada di belakang.
Tolong masukkan ke tas ya, Bu, bajunya?
- Asya sudah terlambat banget ini. - Ya.
Bu.
Motornya tidak bisa distarter.
Ayah mana, Bu?
Ayah masih di belakang sepertinya.
Masih saja kau menanyakan Ayah.
Anis.
Ya sudah, Bu, jalan dulu. Asalamualaikum.
- Alaikum salam, hati-hati ya. - Bareng, Kak.
- Ya sudah, ayo. - Pamit ya, Bu.
Semoga makin sukses, pintar.
Skripsinya cepat selesai.
Jadi dokter yang hebat.
Amin.
- Duluan ya, Bu. - Ya.
Bu, Asya berangkat ya.
- Asya, hati-hati ya. - Ya.
- Dadah. - Ibu tidak ke ruko?
Ibu harus ambil cucian dulu di belakang.
Bu, jalan dulu ya.
- Ya. - Asalamualaikum.
- Dah. - Alaikum salam.
- Pagi, Bu Wulan. - Pagi, Bu.
- Ini cuciannya. - Terima kasih, Bu.
Ya, sama-sama.
Bu Wulan, sarapan dulu, Bu!
Naik sepeda terus, nanti makin kurus, lo.
- Mari, Bu, duluan. - Mari.
Ayo, Sayang. Sini, hati-hati.
Belajar yang benar ya, Nak.
- Selamat pagi, Bu. - Pagi.
Pagi, Nando.
- Mari, Bu, aku antar. - Titip ya, Bu.
Ya.
Coba aku lihat.
Kau yakin ini datanya benar?
Kenapa berbeda dengan sampel sebelumnya?
Ini aku sedang coba cek ulang, Dok.
Tapi kalau memang ada yang tidak sesuai,
aku masih bisa ulang, 'kan, ya?
Tidak perlu.
Kau pastikan saja samplingmu valid.
Kalau datamu tidak konsisten,
skripsimu harus diulang.
SELASA, 22 JULI
Pak?
Ini kenapa aku juga ditinjau ulang ya, Pak?
Efisiensi kementerian.
Semua mahasiswa yang di jalur ini sedang dievaluasi ulang.
Kau tidak sendirian, banyak yang mengalami juga.
Ya, Pak, tapi kalau akuโฆ
Tapi aku tidak bisa apa-apa.
Sudah, pokoknya selama masa evaluasi, tidak usah aneh-aneh.
Banyak yang mau bertahan, persaingannya ketat.
Tapi aku lewat jalur tidak mampu, Pak.
Coba menghadap wakil dekan.
Bagaimana, Lin?
Disuruh menghadap wakil dekan.
Tapi tidak ada orangnya.
Aku tadi ke sana, katanya disuruh bersaing.
Persaingannya ketat.
Mau bersaing bagaimana?
Aku saja lewat jalur tidak mampu.
Mau bersaing sama siapa yang lebih miskin, apa?
Tapi kalau peninjauannya tak lolos,
bagaimana aku bisa kuliah ya?
Kalau tidak kuliahโฆ
Menikah mungkin?
Ya, 'kan?
Aku sangat ingin menikah dengan anak orang kaya,
tak perlu yang namanya belajar, belajar terus tiap hari.
Kau sudah kaya dari sananya.
Menikah itu tidak bisa menyelesaikan masalah.
Bisa.
Suami kerja, kita foya-foya.
- Jangan kasih jatah ya, sebelum nikah. - Benar, itu.
Aku rasa,
Irfan sudah tidak sabar menikahimu.
Ya. Lihat itu, senyam-senyum sendiri. Tampan pula.
Tampan dan berduit.
Kalian ini.
- Duluan, ya. - Dah.
Sudah, cepat sana menikah.
Dia hanya menunggumu.
Kenapa si Lulu?
Duluan ya.
Jalan dulu, Yah.
Hei, Nis.
Buatkan kopi dulu.
Buru-buru, Yah, ada interviu lagi.
Bikin kopi cuma sebentar.
Kau kemarin banyak interviu.
Apa tidak ada yang lolos?
Belum ada yang kasih jawaban.
Sebanyak itu?
Itu mereka yang salah,
atau kau yang tidak mampu?
Dulu Ayah tidak pernah pilih-pilih kalau kerja.
Apalagi zaman sekarang.
Zaman lagi susah.
Yang mencari saja susah,
bagaimana yang cuma duduk-duduk dan merokok?
Jangan lupa kunci pintu, Yah.
Asalamualaikum.
Kau kenapa tidak lanjut di kos saja sampai skripsimu selesai?
Bolak-balik Jakarta dan Bogor itu jauh.
Sayang uang kosnya.
Lagi pula, bolak-baliknya tidak setiap hari.
Tapi tidak apa-apa.
Aku jadi bisa ketemu ayahmu dan ibumu.
Kayak mereka mau saja ketemu sama kau.
Mau lah.
Terus bagaimana?
Kapan kau mau lihat rumahnya?
Sebelum akad.
Aku sudah oke.
Lokasinya bagus.
Ya sudah, kalau kau sudah suka.
Sini, Sayang.
Laluโฆ
Beasiswamu bagaimana?
Masih belum jelas.
Bagaimana mau ambil spesialis kalau seperti ini?
Kasihan Ibu kalau harus menanggung semuanya.
Sayang.
Kalau kau menikah denganku,
kau tidak perlu lagi jadi beban Ibu.
- Sudahlah. - Kau jadi tanggung jawabku, Sayang.
Kita sudah berpacaran lima tahun, Sayang.
Kalau kita mau menikah, ya sudah tinggal menikah.
Tidak "tinggal" kali, Fan.
Kak, tolong.
- Berat banget. - Ya, sebentar.
Aduh, itu bocor juga lagi.
- Aku mau bantu. - Nando, jangan, Nak.
- Di sini saja. - Mau ke mana?
Sudah, di sana saja.
Lo, mau ke mana kau?
Jangan lari-lari.
Licin di sana, Nak. Jangan di sana.
Nando, jangan ke mana-mana.
Aduh.
- Aduh. - Cepat!
Aduhโฆ
Nando di sini saja ya. Jangan ke mana-mana ya?
- Sini ya, Kak? - Aduhโฆ
- Ibu naik, ya. - Bu, masih hujan juga.
Itu TV tolong dicabut listriknya. Hati-hati.
Nando, jangan ke mana-mana ya?
Sudah, ayo, Ca.
Ca, Kakak bantu Ibu ya? Sebentar.
Nando, kau di sana saja.
Hati-hati, Bu.
- Asalamualaikum. - Asalamualaikum.
Bu?
Kak?
Kok bisa separah ini, Kak?
Ya, jebol.
- Kak, tolong. - Ca, aduh.
Bu?
Ibu sedang apa di sana?
Alin, jangan di sana.
Minggir, itu bahaya.
Ya.
Bu, hati-hati!
Kak Alin, bantu aku.
- Kak. - Ca.
No comments yet. Be the first to leave one.