The first 160 lines.
Aku ingin merasakan kekalahan.
Orang-orang mulai memanggilku Raja Iblis,
dan sahabat lamaku tak menganggapku sebagai manusia lagi.
Karena itu, aku mengharapkan kekalahan.
Jika aku kalah secara menyedihkan,
mungkin orang-orang akan menganggapku manusia.
Tapi
tak ada musuh yang mampu mengalahkanku
dan hidupku telah mencapai titik buntu.
Tapi di kehidupan selanjutnya, mungkin aku bisa menemui takdir lain.
Itu sebabnya aku bereinkarnasi.
Di hari ulang tahun putra kami, Ard Meteor.
Kami bersyukur atas anugerah leluhur utama,
Raja Iblis Varvatos dan Baginda Ratu.
Ard, selamat ulang tahun!
Ard, kau sudah berusia 10 tahun, ya?
Rasanya baru kemarin kau lahir.
Waktu cepat berlalu, ya?
Ibu senang karena kau menjadi putra kami, Ard.
Terima kasih banyak, Ayah, Ibu.
Wajah tampan putraku pasti karena keturunan Carla.
Astaga.
Ard bisa mahir di berbagai bidang karena dia adalah anakmu, Jack.
Aku yang dulunya dipanggil Raja Iblis
sekarang tinggal di desa pelosok biasa
dan bereinkarnasi sebagai putra tunggal
dari pasutri biasa yang akur.
Namaku Ard Meteor.
Baik atau buruknya,
level sihir dan pengetahuan di era ini
lebih rendah dari eraku dulu.
Lalu, karena aku diberkati
kesehatan, stamina, dan kemampuan fisik,
aku bisa menguasai teknik tempur tanpa bersusah payah.
- Jadi, Ard... - Apa yang ingin kau lakukan?
Setelah berusia 10 tahun, mungkin kau mau berontak melawan kami.
Dan mulai memikirkan masa depan atau impianmu, 'kan?
Impian, ya?
Benar!
Aku punya impian dan ambisi!
Sudah 10 tahun aku bereinkarnasi.
Dengan kemampuan mental dan fisik,
aku tumbuh menjadi manusia yang layak untuk berteman.
Aku akan mencari orang yang tak menatapku ketakutan
dan berteman dengannya secara setara!
Mantap, aku menang!
Itu curang!
Aku menang lagi!
Kenapa kau sekuat itu?
Bicaralah kepadaku!
Di kehidupan lamaku,
bicara secara langsung dengan Raja Iblis itu mustahil.
Tapi era telah berubah, dan aku hanya seorang Figuran A biasa.
Tak usah menahan diri! Ayolah! Aku akan meladeni kalian!
Hei, lihat itu!
Ada apa dengannya?
Dia terlihat seram.
- Ayo pergi! - Ya.
Padahal aku sudah menunggu tanpa menolak.
Kenapa? Kenapa mereka pergi?
Apa ada faktor keagungan yang tak bisa lepas dariku,
mereka merasakannya, dan itu membuat mereka menjauh?
Kalau begitu, aku akan maju saja dan bertindak tanpa harus menunggu.
Tekanan macam apa ini? Tidak mungkin!
Diriku yang tak takut
saat bertempur menghadapi para dewa
sakit perut karena terlalu gugup?
Sampai bisa menyudutkanku sejauh ini, sudah diduga.
Tapi aku dulu dipanggil Raja Iblis.
Dalam keadaan genting seperti ini, aku tak boleh mundur!
Kalian! Menghadaplah ke sini!
Terima kasih sudah mau menanggapiku.
Aku memuji kalian.
Kalian...
- Begini... - Apa?
Itu... Begini...
Jadilah temanku!
Kalian akan kuberi separuh dunia!
Aku berhasil! Aku berhasil mengatakannya!
Apa? Sebentar...
Aku adalah Raja Iblis Varvatos.
Aku menundukkan berbagai negeri,
menaklukkan para pahlawan, dan memusnahkan para dewa.
Akan tetapi, aku tak berkutik saat menghadapi anak-anak.
Kenapa? Kenapa kalian tak menanggapi perintahku?
Aku sudah menyapa kalian dan mengajukan kesepakatan!
Apa lagi yang kalian mau? Aku tidak mengerti!
Sebaiknya aku berhenti.
Ini bisa memengaruhi ekosistem.
Tapi apa lagi yang harus kulakukan?
Ada apa, Ard?
Kau terlihat murung.
Kau tak melupakan wajah kepala desa, 'kan?
Demang Olhyde?
Teman, ya?
Bagaimana aku bisa berteman dengan seseorang?
Aku telah melakukan semuanya
dan sudah kehabisan cara.
Aku akan memberitahumu sebuah cara sederhana.
Pakai mantra apa? Atau, strategi diplomatis rumit?
Bukan.
Di saat apa pun atau siapa pun yang kau hadapi,
kau harus selalu bersikap rendah hati dan lembut.
Dengan begitu, kau bisa berteman dengan seseorang secara alami.
Rendah hati? Lembut?
Begitu rupanya.
Demang Olhyde memang hebat.
Jadi, Ard... Kalau ingin cari teman, putriku...
Aku akan segera menerapkan saran Anda!
Putraku itu...
Aneh.
Lebih tepatnya punya banyak sisi misterius.
Omong-omong, Weiss. Soal yang tadi...
Ya. Berbeda dari urusan politik,
aku cukup bingung saat menghadapi hal seperti ini.
Aku merasa kurang mampu.
Aku memahami kekhawatiranmu. Kami juga sama.
Aku hanya Ard Meteor yang kurang beruntung,
tapi maukah kalian menjadi teman terdekatku?
Sikapku memang kurang sopan,
tapi aku akan merasa sangat beruntung jika gadis menawan
seperti kalian mau menjadi temanku...
Apa sebaiknya dunia ini kuhancurkan saja?
Tunggu, tenang! Aku harus tenang!
Kehancuran dan kekacauan tak ada gunanya, bukankah sudah kupelajari dulu?
Gawat. Aku melampiaskan amarah lagi.
Ya ampun!
Benci, benci, benci! Aku sangat benci!
Itu suara gadis muda!
Ada apa?
Datanglah gelora bara,
dengan kuasa amarah, bumi hanguskan semuanya!
Ada apa ini? Musuhnya hanya Ancient Wolf.
Padahal itu lawan yang mudah ditangani.
Itu cuma untuk melampiaskan diri?
Karena sering ditindas dan diejek,
dia jadi menutup diri.
Dia juga jarang bicara denganku, ayahnya.
Tapi aku memahami kenapa dia menutup diri.
Garis darah memang tak bisa ditentang.
Desa ini lebih sepi daripada di ibu kota.
Kembali ke sini keputusan yang tepat.
Kuharap begitu.
Kuasa halilintar dalam genggamanku!
Wahai gemuruh halilintar, sambar musuh di hadapanku!
Lydia?
Maaf. Aku tak bermaksud mengejutkanmu.
Apa maumu?
Aku...
Aku melihat pertarunganmu tadi.
Itu luar biasa.
Jarang ada orang seusiamu yang bisa sehebat dirimu, ya?
Gawat! Dia bukan tipe gadis yang suka pamer kekuatan?
Sanjungan seperti ini justru berdampak buruk.
Kalau begitu...
Maaf kalau aku salah bicara, tapi kekuatanmu masih kurang.
Kau masih bisa berkembang.
Celaka! Apa kata-kataku berlebihan?
Aku tak boleh memujinya.
Aku juga tak boleh meremehkannya. Aku harus apa?
No comments yet. Be the first to leave one.