The first 200 lines.
Biasanya, jika ada tetangga yang marah
karena pertengkaran kecil dalam sengketa properti,
itu perkara yang mudah.
Itu masalah perdata.
Setidaknya demikian, sampai berubah menjadi pembunuhan.
Aku sudah memohon bantuan!
Aku tidak bisa hidup begini lagi!
Ceritakan ada apa. Kau di mana?
Perbuatan wanita itu tidak bisa dibenarkan.
Jangan ganggu aku!
Tidak, dengar.
Bicaralah padaku.
Halo?
Pada Mei 2018, wajahku ditembak.
Peluru itu mengenai pipi kananku,
menembus ke hidungku, lalu keluar dari telingaku.
Aku beruntung masih bisa hidup hingga kini.
Aku dan suamiku, Dave, pindah ke Mount Sterling pada tahun 2002.
Kami dulu tinggal di Ohio.
Orang tuaku pensiun, lalu pindah ke Mount Sterling
karena keluarga mereka ada di sini.
Jadi, kami mengikuti.
SALAM DARI MOUNT STERLING "GERBANG MENUJU PERGUNUNGAN"
Mount Sterling adalah sebuah kota kecil.
Jaraknya sekitar 58 km dari Lexington.
Hampir semua orang saling mengenal,
dan semua orang di sini baik.
Mereka ramah.
Kami punya dunia sendiri di sini.
Sebagian besar keluarga ibuku berasal dari Kentucky.
Kakek dan nenekku tinggal di sini, begitu juga paman dan bibiku.
Shawna sudah seperti putriku.
Meski Shawna sudah dewasa,
aku masih ingin memastikan dia tetap terurus.
Keluarga Shawna itu… lumayan besar.
Semuanya tinggal berdekatan.
Jika kita mendaki dan menghitung rumah,
setengah keluarganya tinggal di tiap rumah di sana.
Anak-anak mendatangi tiap rumah anggota keluarga,
satu per satu, mengetuk pintu, dan meminta permen.
Orang tuaku tinggal di seberang jalan dari rumah kami.
Rasanya menyenangkan. Kami semua dekat dan bisa sering berkumpul,
apalagi ada kolam renang di halamanku.
Jadi, kami sering barbekuan dan makan malam bersama.
Aku dan Dave selalu tertawa, bercanda, dan tersenyum.
Dave tidak punya keluarga yang sangat dekat seperti kami.
Jadi, dia sangat senang bisa dikelilingi keluarga besar.
Ibuku dan Dave menjalin hubungan sejak usiaku sekitar dua tahun.
Aku selalu punya dua ayah. Aku sangat beruntung soal itu.
Dave menyaksikanku tumbuh dewasa,
dan dia selalu ada setiap kali aku berbuat salah atau baik,
dia selalu ada.
Aku sangat bersyukur atas itu.
Pada tahun 1995, aku tinggal di Franklin, Ohio.
Aku dulu bekerja di Badan Layanan Disabilitas Perkembangan Warren County.
Aku bekerja sebagai sopir bus.
Aku mengantar dan menjemput klien dari rumah setiap hari
agar mereka bisa bekerja.
David bekerja sebagai staf panti sosial itu.
Pertemuan pertamaku dengan David adalah saat hari pertama dia bekerja.
Kami berselisih pendapat.
Kami sering berdebat dan ribut. Dia pun mengeluh soal aku.
Tapi setiap hari, aku harus mengantar siswa berkebutuhan khusus,
jadi dia harus ikut denganku.
Maka, kami mulai mengobrol dan saling bersikap sopan.
Dia jadi menyukaiku, dan semuanya berlanjut dari situ.
Kami pun merasa cocok.
Kami akhirnya berpacaran dan tinggal bersama di rumahku
dengan putriku, Haley.
Salah satu kenangan pertamaku bersama Ibu dan Dave
adalah saat kami ke Tennessee.
Kami sedang berlibur di Gatlinburg.
Suatu pagi kami bangun, dan Dave bertanya, "Mau menikah hari ini?"
Dan jawabku, "Ya, tentu saja."
Kami tidak punya pakaian untuk menikah.
Kami memakai celana pendek. Aku memakai kaus merek bir.
Hanya Haley yang memakai pakaian imut
karena dia masih kecil dan kudandani dengan imut.
Mereka tahu ingin hidup bersama, jadi mereka menikah.
Lalu, ibuku tahu dia sedang mengandung adikku.
Aku hanya mencoba peruntungan dengan Dave, begitu pun sebaliknya.
Semua orang di lingkungan kami saling rukun.
Kami sangat akrab.
Aku tinggal di sana selama 14 tahun,
dan aku tak pernah bermasalah dengan tetangga mana pun.
Sampai Frances datang.
Kemudian, semuanya berubah.
Frances memang sudah lama mengenal keluarga kami di Mount Sterling.
Tapi sebenarnya dia lebih tua dariku.
Aku tak tahu banyak tentangnya selain dia dan sepupuku berteman baik.
Dia pernah tinggal bersama nenekku saat masih remaja
karena dia punya masalah keluarga.
Frances menjadi anggota keluarga kami saat usianya 15 atau 16 tahun.
Situasi keluarganya kurang baik.
Dia bercerita bahwa ibunya memperlakukannya dengan buruk,
tapi aku selalu merasa ragu.
Dia senang bergaul dengan keluargaku.
Dia sering mengunjungi kami.
Lama-kelamaan, kami selalu mengenalkannya sebagai keponakan kami.
Dia jadi dekat dengan kami. Kami semua menyayanginya.
Dia lucu. Menyenangkan bersamanya.
Entah apa yang terjadi padanya.
Aku sudah bertahun-tahun tak mendengar kabar tentang Frances
sampai suatu hari, dia tiba-tiba muncul.
Dia sudah bercerai, dan dia pulang ke rumah.
Dia ingin tinggal dan beli tanah dekat kami
karena dia sudah menjadi keluarga kami.
Saat pertama kali pulang, Frances punya banyak uang.
Dia bilang saat bercerai dari suaminya,
dia menerima kompensasi yang besar.
Frances membeli tanah tepat di seberang jalan dari rumah kami.
Dia ingin menaruh rumah portabel ganda barunya di sana.
Tapi di sana, ada rumah tua yang harus robohkan.
Halamannya pun harus dirapikan.
Jadi, dia izin menumpang di rumahku sampai rumahnya selesai.
Aku pun mengizinkannya.
Aku mudah bergaul dengan siapa pun, dan kupikir,
"Aku mau bantu dia."
Tujuanku hanyalah menemani dan memperlakukannya seperti keluarga.
Itulah yang ingin kulakukan.
Frances pindah ke rumah kami pada akhir November.
Aku sedang cuti sakit, tidak bisa bekerja.
Dave bekerja di pabrik Mount Sterling yang memproduksi suku cadang mobil.
Dia juga bekerja paruh waktu di Lapas Wilayah Montgomery County
sebagai wakil sipir penjara.
Dia pekerja keras. Dia selalu bekerja.
Kedua putriku sudah tak tinggal di rumah,
jadi kupikir akan menyenangkan jika Frances menemaniku di sana.
Aku dan Frances pergi berbelanja.
Kami makan di luar.
Kami pergi ke bioskop.
Kami mengadakan acara barbeku.
Kami sering ke klub di pusat kota dan berdansa.
Kami bersenang-senang.
Tapi kemudian, kami mulai mengalami masalah.
Terkadang dia kasar atau marah kepadaku.
Tapi aku mengabaikannya begitu saja.
Frances menjadi orang yang suka memerintah.
Semua harus sesuai keinginannya.
Seolah-olah dia ingin mengambil alih.
Orang yang mengenalku tahu aku suka berberes.
Aku sering berberes.
Suatu pagi, aku sedang menyedot debu.
Lalu, dia datang dan mencabut steker dari stopkontak dan bilang,
"Ini kepagian untuk menyedot debu."
Lalu responsku, "Hei, ini rumahku."
Aku makin sering melihat indikasi bahwa dia tidak cocok tinggal denganku.
Dia bercerita soal video yang dia bintangi.
Kami menontonnya di YouTube.
Kaum muslim mengikuti kitab setan yang sama.
Semuanya membaca halaman yang sama.
Begini, aku bahkan tidak menganggap Islam sebagai agama.
Itu kultus kematian. Kultus kematian yang diagungkan.
Hanya itu. Dan akan selalu begitu.
- Aku tak suka kau. - Kau tak suka aku? Kenapa?
- Karena kau muslim. - Kata siapa aku muslim?
Jika bukan, berarti kau pencinta muslim.
Aku belum bilang. Aku Yahudi.
Kurasa kau tak tertarik pada Yesus.
Itulah kebenarannya.
Kau Yahudi, muslim, atau ateis.
Apa kau homo juga?
Apa aku homo juga?
Ya.
Menurutku, videonya sedikit gila.
Tapi dia merasa keren karena dia ada di video protes ini.
Lalu, aku mulai membatin, "Dia mungkin sedikit rasis.
Ini takkan berjalan lancar."
David sama sekali tak menyukainya.
Katanya, Frances bermasalah sejak awal.
Dia bermulut besar dan haus perhatian.
David jago menilai orang.
OHIO MENYAMBUT ANDA MEMASUKI ASHTABULA COUNTY
Pada tahun 2016, aku tinggal di Ohio.
Aku sudah bertemu suamiku.
Putraku, Owen, lahir pada tahun 2013.
Jadi, aku sudah punya putra saat bertemu suamiku.
Aku mengunjungi orang tuaku hampir setiap dua minggu sekali.
Aku dan Dave sangat dekat dengan Owen.
Owen jadi puncak kebahagiaan hidupnya karena dia punya dua putri.
Dia ingin sekali punya putra di keluarga.
Saat Owen lahir,
Dave selalu ada setiap hari,
menidurkan, menggendong, dan menonton NASCAR bersamanya.
Orang pasti mengira mereka sudah bersahabat seumur hidup.
Owen segalanya bagi kami.
Rasanya berbeda saat punya cucu.
Haley membawa Owen berkunjung suatu akhir pekan.
Saat mereka masuk, Haley bertanya, "Siapa itu?"
Lalu kujawab, "Itu Frances, dia tinggal di sini."
Saat tahu Frances tinggal bersama orang tuaku,
rasanya sangat mengejutkan.
Aku tidak kenal wanita ini dan tidak tahu apa-apa tentangnya.
Saat pertama kali bertemu Frances,
dia terasa berbeda.
Dia sangat canggung saat kami masuk ke rumah.
Seolah kami tak pantas ada di sana. Dia membuat kami tidak nyaman.
Usia Owen tiga tahun saat Frances tinggal di sana.
Jadi, dia lumayan hiperaktif.
Dia…
No comments yet. Be the first to leave one.