Jendela Seribu Sungai

Jendela Seribu Sungai

Download Indonesian Subtitle

Release info

[π‚π¨πŸπŸπžπžππ«π’π¬π¨π§] 𝐉𝐄𝐍𝐃𝐄𝐋𝐀 π’π„π‘πˆππ” π’π”ππ†π€πˆ (πŸπŸŽπŸπŸ‘) πˆππƒπŽππ„π’πˆπ€π 𝐍𝐅 𝐖𝐄𝐁
A Commentary by Coffee_Prison
π‘«π’–π’“π’‚π’”π’Š : 𝟎𝟏:πŸ’πŸ:πŸŽπŸ’ || π‘Ίπ’–π’ƒπ’•π’Šπ’•π’π’† π‘Ήπ’†π’•π’‚π’Šπ’ 𝑡𝑬𝑻𝑭𝑳𝑰𝑿 || *ΰͺ‘ΰ±Ώα₯£Ι‘ოɑ𝗍 π–¬ΰ±Ώπ“£π—ˆπ“£π—π—ˆπ“£

Tags

webdl
Published on: 2026-02-06
Downloads: 63
Hearing Impaired: No
FPS: 25

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Sungai adalah ibu.

Darinya kisah bermula,

kepadanya kisah bermuara.

- Nah. - Nah.

Sejak aku lahir 20 tahun yang lalu,

dua hari paling penting dalam hidup kita

- adalah hari kita dilahirkan… - Mau kue apam, 'kan?

… dan hari kita mencari tahu mengapa.

Cucu Bu Haji sudah pasti perempuan.

- Tahu dari mana? - Tadi Arian maunya kue apam.

Suka sekali mendengar mitos-mitos zaman dulu itu.

Ya.

Jangan-jangan pulang dari sini, dia langsung berberes.

Takutnya kalau banjir bandang.

Apalagi nanti setelah melihat telur keong di tiang jukung yang dikaitkan.

Dasar orang kampung.

- Ya, kampung. - Kampung.

- Pulang saja, yuk. - Pulang saja.

Mengambek.

Sabar.

Tahan ya, Ma.

Sabar. Tahan dulu.

Aduh. Tahan dulu.

Aduh…

Nama adalah mantra terpendek di dunia

yang dilafalkan orang tua

sejak embusan napas pertama sang anak hadir di dunia.

Membawa impian dan harapan.

Banjir di mana-mana, mobil kita terendam!

Tahanlah.

Sabar ya. Tahan, Sayang.

Istigfar, Sayang.

Tahan. Ini sudah sampai.

Tahan, tahan.

- Asalamualaikum. Bidan. - Sedikit lagi.

- Alaikum salam. - Tahan.

- Ada yang mau melahirkan. - Apa? Mana?

Allahu Akbar.

- Aduh… - Sabar…

Wah, banyak! Sudah mau keluar!

Ayo, bersiap!

Yang kuat.

- Mengejan, ya. - Mengejan.

Kebahagiaan bisa datang tidak terduga.

Menyelinap di antara situasi paling sulit sekalipun.

Anaknya perempuan, Pak. Sehat.

Namun, apakah kelahiran sepenuhnya identik dengan kebahagiaan?

Kuat. Kuat, tiga kali! Mengejan!

Satu, dua…

Bapak!

Bapak!

Bapak!

Ibu?

Ibu, bangun!

Ibu!

Tidak.

Ibu!

Bangun, Ibu!

Ibu!

- Alhamdulillah! - Alhamdulillah!

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Ashadualla ilahailallah.

Alhamdulillah…

Ashadualla ilahailallah.

Asyhadu anna muhammadarrasulullah.

Asyhadu anna muhammadarrasulullah.

Bendera siap!

Hormat, gerak!

Stop, Bu. Stop, Pak.

Indonesia, tanah airku

Hei, Pak!

- Awas kau! Jangan di pinggir jalan! - Tunggu sebentar ya, Pak.

Aku akan berhenti setelah bendera dinaikkan.

Lama! Mau kutabrak kau?

Pak, silakan tunggu sebentar.

Lama! Aku ini mau buru-buru! Ada rapat.

- Awas! - Pak.

Sabar, Pak. Sabar!

Hei, kau sudah kecil, kepala botak, banyak bicara lagi! Kutabrak kau!

Awas! Aku sedang buru-buru! Awas!

Daripada Bapak marah-marah, lebih baik ikut hormat seperti yang lain.

- Kau ini! - Ya.

Negeriku yang kucinta

Indonesia raya Merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia raya

Indonesia raya Merdeka, merdeka

Tanahku, negeriku yang kucinta

Indonesia raya Merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia raya

Tegak, gerak!

Sudah. Maaf menunggu lama ya, Pak.

Mati lagi motor ini! Sudah, awas! Dasar kau! Botak!

Mari, Pak.

Oke, ayo.

Mari.

Siapa namamu, Nak?

- Arian Radjawani, Pak. - Namaku Ganang, Pak.

Aduh, luar biasa.

Aku salut melihat keberanianmu.

Tadi ada pengendara sepeda motor yang menekanmu,

tapi kau tetap melaksanakan tugas.

Terima kasih banyak, Pak. Aku ingat pesan Aba.

Manusia hanya boleh takut kepada Allah.

Sementara sama yang lebih tua, kita harus bersikap hormat.

Abamu ustaz?

- Aba seniman kuriding. - Kuriding.

Yang menjadi tenaga honorer di dinas pariwisata, Pak Ai.

Ya. Luar biasa.

Begini saja. Ini kartu namaku.

Kalau kau ada keperluan, kasih tahu aku.

Aku bisa bantu, mudah-mudahan.

Terima kasih banyak, Pak.

Ya, tetap semangat.

- Siap, Pak. - Luar biasa.

Ya, terima kasih.

- Ini, asli! - Lihat!

Keren!

Coba lihat.

Aduh.

Hati-hati larinya. Hati-hati.

Ini ruang kelas lima.

Di sana kita punya pondok baca.

Arian! Ganang!

Ada Bu Sheila!

Ayo masuk!

Aduh! Ayo, Arian!

Selamat pagi!

- Selamat pagi, Ibu Guru. - Selamat pagi, Ibu Guru.

Hari ini kita kedatangan murid baru.

Kejora.

Arian!

Kenapa basah kuyup?

Baung…

Baung.

Apa yang kau lakukan sampai basah begini?

Aku mencari sisik ikan baung, Bu.

Ikan baung tidak ada sisiknya, Bu Ai!

Makanya aku cari.

Sudah, sudah.

Ya sudah, kau ganti baju dulu biar tidak masuk angin.

Bawa baju olahraga, 'kan?

Ya, Bu.

Oke, kita lanjutkan, ya.

Kejora, ayo perkenalkan dirimu.

Namaku Kejora Mangindangdari. Pindahan dari SD Negeri Haratai.

Yang bangunannya habis terbakar saat kebakaran hutan di Loksado.

Perjalanan ke Loksado berapa lama?

Dari Banjarmasin naik mobil, lalu naik ojek sekitar empat jam.

Ya, Ganang?

Selamat pagi, Kejora.

Ya ampun, kau ini bisa sekali.

Sudah.

Kejora, kau duduk di sebelah Afika, ya.

Terima kasih, Bu.

Oke, Anak-anak.

Pagi ini kita mulai dengan pelajaran Matematika.

Buka bukunya masing-masing, ya.

Kita belajar mengubah pecahan desimal menjadi pecahan biasa.

- Sudah, Bu. - Ya, duduk, Arian. Buka bukumu.

Itu apa?

Ini namanya buah manau.

Kau belum pernah makan buah manau, ya?

Ini pemberian kakekku saat aku ranking satu.

Diambil sendiri di hutan Meratus.

Kau ranking satu hadiahnya buah manau?

Kenapa tidak minta sepeda?

Ujar Kakek, buah manau menandai perjuangan yang manis

setelah bertarung dengan duri di batangnya yang tajam.

Siapa bisa jawab?

Kejora, majulah!

Benar sekali, Kejora.

Duduk.

Ina, bagaimana? Bisa?

- Yang lain bisa? - Bisa.

Kejora, besok kau kumpulkan foto 3x4 dua lembar, ya.

Arian, kau juga.

Foto rapormu harus diganti karena rusak.

Ya, Bu. Kayaknya kena rembesan air.

Ya.

Kita lanjut ke soal berikut, ya.

Aku hanya punya ini.

Di mana bisa mencetaknya lagi?

Sini, sama abaku saja. Dia pasti tahu tempatnya.

Tapi tanggal 26 itu hari Sabtu.

Hari Sabtu. Berarti diundur menjadi tanggal 28 ya?

Ya, tanggal 28. Berarti sama kayak adikku juga.

Ya.

Kalau hari Senin, biasanya pelajaran apa?

Hari Senin biasanya belajar Tema sama BTA.

- Oh, masih Tema? - Ya.

- Aku kira Per-PEK. - Tidak.

Kejora.

- Kenapa? - Ya sudah, aku ke sana dulu, ya.

- Ya, dadah. - Ya.

Kenapa, Arian?

Rumahmu di mana?

Rumahku di Antasan Timur.

Kenapa memangnya?

Berarti rumahmu tak jauh dari rumahku!

Jendela Seribu Sungai subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle β€” sync, quality, typos.500 characters left