The first 102 lines.
Kasih sayang Yonaguni Sama seperti yang dikatakan
Mari kita saling menemani Selama kita masih hidup
Terima kasih.
SOS (DALAM KODE MORSE)
Kau dan aku begitu berbeda, tetapi juga sama.
Meski terlahir sebagai manusia, aku tak mengerti apa pun.
Aku penasaran apa diriku di masa depan
akan ingat bahwa aku tinggal di sini sekarang
dan sedang berbicara denganmu.
Sepertinya tidak.
Melupakan itu jauh lebih mudah daripada yang kita kira.
Namun, meski kita ingin menyimpan segalanya dalam ingatan kita,
berlalunya waktu hanya akan menyisakan sedikit kenangan.
Dewa Toyama Utaki, kami ada di hadapanmu
Tolong beri kami hujan
Pulau ini layu karena kekeringan
Tolong beri kami hujan
Rakyat kami di ambang kematian
Tolong beri kami hujan
Ini permintaanku malam ini
Tolong beri kami hujan
Ini permintaanku malam ini
Tolong beri kami hujan
Wahai Dewa Air yang dapat memberikan Panen melimpah
Selama-lamanya.
Mereka akan terbakar jika langsung ditaruh di kotak es setelah kau menangkapnya.
Apa yang terjadi jika kau mandi air dingin saat berkeringat sehabis berolahraga?
Bagian luar tubuhmu mendingin, tapi panas di dalam tetap ada, bukan?
Jadi, kau akan jatuh sakit.
Ikan memiliki panas sampai ke inti tubuh sementara bagian luar tubuhnya dingin.
Ikan akan terbakar jika didinginkan dengan cepat dari luar.
Perbedaan suhu antara panas di dalam dan luar tubuh ikan
membuat dagingnya hancur dan melepuh.
Jika kau ingin menjualnya lebih mahal satu, dua, atau sepuluh yen,
olah ikannya dengan benar.
Selain penangkapan, pemrosesan ikannya juga penting.
Karena untuk sasyimi, begini saja cukup.
Namun, ikan Marlin dan sejenisnya harus diproses lebih cepat dan efisien.
Kita berdua ini rapuh, bukan?
Aku ingin tahu apa kau akan mengingat kami.
Dahulu,
kaum elite dari Yaeyama
ditempatkan di kantor pemerintah setempat.
Mereka merundung dan menindas para petani di pulau kami.
Keluarga dengan lima atau enam anak...
Jika ada yang berusia 15 atau 16 tahun, harus membayar pajak pemungutan suara.
Mereka berutang tujuh atau delapan karung jerami per orang.
Keluarga yang tidak mampu membayar berjuang untuk bertahan hidup
dengan memindahkan setidaknya satu atau dua anak mereka ke keluarga lain.
Itu yang biasa diceritakan orang tua kami.
Wanita harus membayar pajak
dengan kain Kanai Irimono Guyufu.
Tiga gulungan per orang.
Mereka akan mendapat masalah jika kainnya tak diantarkan sesuai kesepakatan.
Karena tak punya lampu, mereka membuat obor dengan bambu
untuk terus memutar rami dan menenun kain sepanjang malam.
Sekali pun mereka tak bisa mengenakan kain mereka sendiri,
mereka tetap harus mengantarkannya atau mereka akan dihukum.
Ibuku bilang itu masa yang sangat sulit.
Pulau layu karena kekeringan
Rakyat kami berada di ambang kematian
Para tetua mendaki Gunung Urabu dengan tongkat seperti ini.
Karena itulah
jalan menuju sawah di sana disebut Nichikagan.
Jalan ini menuju Kantabaru, dan yang itu Nichikagan.
Jika mengikuti jalan itu, kau akan menemukan sungai kecil.
Kami mengambil nampan dan panci di sana,
memutar nampan berisi air,
dan berdoa.
Kami memohon hujan,
jika tidak, akan terjadi kekeringan dan beras tidak akan tumbuh.
Hujan membawa panen berlimpah.
Itu sebabnya kami bersatu dalam doa kepada Dewa Hujan.
Saat kami pergi ke Gunung Urabu untuk berdoa,
jalan ini berasal dari jalan dengan balai kota.
Seorang nenek yang tinggal di sana
mengisi nampan dengan air dan menyiram semua orang
dengan seikat jerami, sambil berkata, "Hujan turun!"
"Hujan turun!" Seperti ini?
Ya, artinya hujan sedang turun.
Pakaian semua orang akan basah saat dia memercikkan air,
sambil berkata, "Hujan turun!"
Itu bagus mengingat cuaca pada musim panas kala itu.
Jadi, semua orang berdoa dengan pakaian basah kuyup.
Jalan itu Nichikagan, dan jalan itu Haikagan.
Kakekmu mengenal mereka.
Omong-omong, di mana sumur yang disebutkan di sini?
"Sumur yang dipakai mengumpulkan air saat berdoa meminta hujan."
Aku penasaran di mana itu.
Kau tak tahu?
Tidak, aku tak tahu.
Itu pasti sumur yang digunakan untuk berdoa memanggil hujan.
Di sana, kita berdoa kepada Dewa Air.
Artinya, "Dewa, tolong bantu kami karena kami manusia tak tahu apa-apa.
Tolong bantu kami dengan curah hujan. Kami butuh makanan sebagai manusia."
Kita bisa menanam padi dan sayuran, tapi takkan bisa panen tanpa hujan.
Hujan yang mewujudkan hal itu.
Tradisi Yonaguni akan berubah mulai sekarang.
Ada yang masih melanjutkan ritual, ada juga yang tidak.
Makin banyak orang melupakannya belakangan ini.
Kami sulit melakukannya saat sudah tua. Saat masih muda, semua bisa kami lakukan.
Sulit untuk berjalan saat sudah tua.
No comments yet. Be the first to leave one.