The first 200 lines.
UNTUK ORANG TUA KAMI TERSAYANG, SRI HIROO DAN SMT. VINITA BHARWANI
Kita tidak akan pernah bisa lepas dari masa lalu.
Jejak di belakang menghasilkan apa yang terjadi sekarang.
Dan menentukan langkah manusia ke depan.
Sekalipun sekarang teknologi digital memudahkan semua orang
untuk menekuni fotografi,
tapi metode manual, mulai dari menangkap gambar, memproses,
dan kemudian mencetaknya sendiri,
adalah pengetahuan yang autentik
dan genuine yang harus kita kuasai.
Lalu kita keringkan. Kita jemur.
Dan inilah hasilnya.
Paham semua, ya?
Urutannya nggak boleh salah, ya?
Nah, kemampuan itu akan membuat kita menjadi seorang fotografer
yang punya nilai lebih.
Jadi, fotografi itu bukan hanya sekadar
menangkap momen, menangkap objek, gambar, landscape,
terus di-upload di media sosial. Bukan cuma itu.
Foto itu harus punyaโฆ
Harus ada nyawanya. Harus ada rasanya.
Foto harus menjadi sebuah karya seni yang bernilai.
- Paham, ya? - Paham.
Seperti itu.
Jadi, kita semua, saya, kalian,
itu adalah senimannya.
Satu, dua, tiga!
Ye!
- Gitu, dong. Bagus nih. - Awas ya kalau jelek ye.
- Martha ini, Mas. - Thank you, Semua. Makasih banyak.
Gua tiap kali udah minum gini ya, bawaannya tuh pengen
Sange?
Taik!
Goblok ye.
Makanya, lu nikah kayak gua.
Caileh! Gua aja sampe detik ini belum percaya lu nikah.
Bro! Makanya jangan buang dalem.
- Kayak Darwin, dong! - Kok gua?
- Kayak Darwin? Apa maksudnya? - Sudah, nggak usah didengerin.
- Ini pada mabuk semua. - Ya, enggak. Tapi aku kepo.
Ale!
Eh, Pi. Tenang, Pi. Darwin yang sekarang ini udah green flag.
Oh, bentar, bentar, bentar, bentar, bentar.
Berarti, kalau sekarang green flag, dulunya red flag.
Kamu orang udah pada mabuk dipancing terus.
- Pia! - Gua kasih tahu.
- Woy. - Apa?
Dulu kan Darwin nih kumbang kampus, nihโฆ
Ini cewek-cewek nih dari yang gila sampai normal nih nempel sama dia.
Lu mau gua gampar?
Untung ada kita-kita dulu ya, kalau enggak, stres beneran dia.
- Stres? Siapa sih? Kamu ngapain, sih? - Siapa sih yang stres?
Nih yang stres berdua nih. Udah pada mabuk nih.
Stres?
- Congrats. - Tio, ya? Gara-gara nikah sama gue?
Enggak.
Justru kita bangga sama Tio.
Tio itu dari dulu selalu pembuka jalan.
- Buka jalan! - Cheers.
Buat Tio dan baby- nya!
Aduh.
Aku pengen banget tahu tentang si cewek yang katanya stres.
- Siapa? - Yang tadi.
Katanya akhirnya stres, kan?
Ngapain sih dibahas?
Tapi kan aku cuma mau tahu kayak bedanya apa sama aku.
Nggak, nggak. Aku tahu Ujung-ujungnya pasti ke sini. Nggak.
Oke. Berarti aku sama dia beda.
- Aku kurang ya? - Kurang apa sih?
- Aku kurang. - Aduh!
- Aku kurang tergila-gila ya sama kamu? - Apa sih?
- Aku kurang? - Sakit nih. Aduh.
- Sayang, sayangโฆ - Akuโฆ Aku kurang stres?
Sayang!
Gimana nih? Dia mati nggak sih, Win?
Dia mati apa nggak sih, Win?
Itu udah jelas lah, Pi.
- Udah, kita harus pergi sekarang. - Nggak.
- Mumpung nggak ada yang lihat. - Aku harus turun!
- Tinggalin aja! - Tapi aku harus bawa dia ke RS.
Nanti panjang urusannya. Udah, jalan.
- Aku yang nyetir, harus tanggung jawab. - Udah jalan. Percaya sama aku.
- Aku harus tanggung jawab. - Udah, buruan.
- Terserah. Gua yang bawa deh. - Nggak. Aku aja.
Mundur! Cepet!
Buruan jalan!
Saya memilih Mas Darwin
untuk mengabadikan bangunan aula yang penuh sejarah ini
sebelum direnovasi jadi aula baru.
Bukan karena almarhum ayahnya, Bapak Ismet Aksara,
yang dulu memang pernah berjasa ikut membangun aula ini.
Tapi karena Mas Darwin adalah salah satu alumni
kampus Ekanusa yang membanggakan.
Dikenal di mana-mana, berseni, berkelas,
dan tentu saja mahal.
- Pak. - Darwin.
- Silakan. - Ya.
Terima kasih, Pak Yunus.
Ya. Hmmโฆ
Jadi, kalau kita berbicara tentang kampus Ekanusa,
kampus ini bukan hanya sekadar tempat
bagi saya untuk menimba ilmu komunikasi.
Tapi lebih jauh dari itu.
Di sini saya belajar
untuk menjadi makhluk sosial yang fungsional.
Yang bermanfaat buat orang banyak.
Di almamater tercinta kita ini,
saya juga belajar mencintai banyak hal.
Mulai dari fotografi,
kehidupan seni,
persahabatan,
Dan juga percintaan.
KELUAR
Senyum, ya. Semuanya, ya.
Eh, ibu yang paling pinggir boleh lebih ke dalam lagi?
Iya, terima kasih.
Sebentarโฆ
Mas Darwin, udah belum?
Keburu kering ini gigi kita semua
Oke, Pak Yunus.
Win.
Iya, iya, iya. Sebentar, sebentar.
Kaget aku. Kamu? Kirain siapa.
Kok kamu bisa sih normal-normal aja gitu?
Normal gimana maksud kamu?
Ya, kayak gini.
Kayak, "Udah, balik kerja aja." Kayak nggak ada apa-apa.
Aku aja beneran ampe susah banget buat tidur.
Mau kuliah aja aku nggak konsen.
Ya gara-gara aku masih kepikiran sama orang yang aku tabrak kemarin.
Piโฆ
Aku udah ngecek semuanya. Nggak ada satu pun berita
tentang kecelakaan kemarin di tempat itu.
Udah, kamu tenang aja deh.
Kamu tuh nggak ngerti sih apa yang kurasain.
Masalahnya kemarin yang nabrak itu aku, Win.
Bukan kamu. Aku yang nabrak!
Kamera lu bagus!
Lensanya tergores kali. Coba lu cek, Mas.
Jadi, kalau gua motret yaโฆ
Kayak adaโฆ
Bayangan gitu. Kayak kabutnya gitu.
Aman, lensa lu kok.
- Yakin lu? - Iya. Aman.
Kenapa gini hasilnya?
Kayak ada bayangannya gitu.
Lu motret setan ini.
Hah? Serius lu, Mas?
Sok tahu.
Orang-orang takhayul
bilangnya gitu.
Kalau gua bilang ini distorsi.
Ada cahaya waktu lu motret.
Lagian, kalau foto komersil tuh pake digital.
Nggak ada risiko.
Jangan pake yang analog, pake film gini.
Boro-boro komersil, Mas.
Ini tuh buat proyek amal.
Penggalangan dana renovasi kampus kita.
- Aula. Lu lihat dong itu. - Aduh!
Jejak-jejak dosa gua ilang dong?
Ini tempat paling aman buat ngisep ganja!
Tempat maksiat juga ini, Win!
Maksiat gimana maksud lu?
Yah. Nggak tahu lu?
Anak-anak tuh pada ngewe di situ.
- Anjir. - Daripada di hotel?
- Lebih irit di sini, pakai tikar doang. - Udah deh.
Gua cabut ye? Rusak gua kalau lama-lama di sini!
Thank you, Mas!
Haduh!
Ati-ati ketemu setan lo!
Tiada!
Darwin!
Win! Bukain dong, Win!
Darwin!
Darwin! Darwin!
Mimpi kamu?
Ini air kamu, ya? Minum biar tenang dulu.
Makanya jangan tidur siang-siang dong.
Kamu tuh emang dari mana aja sih?
Aku dari tempatnya Mas Roy.
Malah dia bilangโฆ Tahu, nggak?
Emang berengsek si Roy satu itu.
Aku motret setan katanya.
Ada-ada aja.
Win, kayaknya kita harus balik lagi deh ke tempat itu.
Beneran. Aku nggak bisa banget sih kayak gini.
Pi, udah dong. Iniโฆ Kanโฆ Kan semua udah tenang nih ya.
Udah, kita nggak usah bahas soal itu lagi. Udah.
Ya, tapi, at least, kita ke sana sekali aja.
Buat make sure kalau emang nggak ada korban.
Aku beneran nggak tenang banget!
Please?
Tapi janji ya, kalau misalnya di sana udah nggak ada apa-apaโฆ
Nggak boleh mikir soal ini lagi ya? Nggak usah bahas soal ini lagi.
- Makasih, Mas. - Sama-sama.
Iya, Za.
Lo cek aja dulu semuanya.
Iya, iya. Oke, oke. Thank you.
No comments yet. Be the first to leave one.