The first 200 lines.
Hei.
Ayo makan.
Maaf, aku harus pergi.
Baiklah. Lupakan saja.
Aku ingin mencoba kedai ramen baru itu.
Itu tidak terlalu enak.
Begitu.
Kalau begitu, aku akan pulang.
- Menemui kakakmu? - Ya.
Aku harus meminjam uang.
Ternyata ini sudah akhir bulan.
Aku merasa musim panas akan berlangsung sangat lama.
Musim berikutnya tampak tidak akan datang bahkan setelah September.
AND YOUR BIRD CAN SING
- Aku pergi. - Sampai jumpa.
Mau minum nanti?
Aku punya rencana lain.
Lain kali saja.
Terima kasih sudah menggantikan.
Sama sekali tidak masalah.
Tapi ini sudah waktunya dia dipecat.
Dia tidak bertanggung jawab karena tidak datang.
Kau mungkin benar.
Aku melihat arlojimu di majalah.
Itu keren.
Sampai jumpa.
Mizuki, mau minum malam ini?
Maaf, aku ada kencan.
- Lain kali saja. - Maaf.
Sampai jumpa, Bos.
Terima kasih, Semuanya.
Hei.
Selamat malam.
Apa yang kau lakukan?
Apa?
Kenapa kau bolos kerja?
Begini...
Sif pagi besok?
Ya.
Sebaiknya kau datang.
Selamat malam.
Apa?
Satu, dua, tiga, empat,
lima, enam, tujuh, delapan,
sembilan, sepuluh.
11, 12, 13, 14,
15, 16, 17...
Aku tidak pernah menunggu gadis yang tidak kukenal baik.
Aku bisa saja salah paham,
jadi, aku memutuskan untuk pergi pada hitungan ke-120.
Aku hanya perlu mengambil risiko.
...34, 35, 36, 37,
38, 39, 40, 41,
42, 43, 44, 45,
46, 47, 48, 49...
113, 114,
115, 116, 117...
Berhasil.
Kau membaca pikiranku.
Apa yang kau lakukan?
Aku baru keluar dari bioskop.
Ajak aku lain kali.
Ya, baiklah.
Di mana bos?
Jangan cemaskan dia. Itu tidak penting.
Baiklah.
Punya pemantik? Kau merokok?
Ini.
Bagaimana kalau kita pergi minum?
Soal itu...
Di mana tempatmu?
Kau tahu pub Suginoko?
Kurang lebih.
Aku harus pulang lebih dahulu, jadi, temui aku di sana.
- Pukul berapa? - Mari kita lihat...
Mungkin sekitar pukul 22.00. Aku akan mengirimimu pesan.
- Kau punya nomorku? - Tidak.
Berikan.
- Apa? - Bukan apa-apa.
Ini.
Aku akan kirim pesan.
- Janji? - Ya.
Aku pulang.
Kau punya uang?
- Uang? - Ya.
Kau tak dapat hal itu?
- Apa? - Hal itu! Kau pasti tahu.
- Tunjangan pengangguran? - Itu dia.
Sudah dihentikan.
Itu buruk sekali.
Ibu ingin meminjam sedikit.
Mintalah ke putra Ibu yang lain.
Omong-omong,
jika ibu pikun,
ibu tak mau kau merawat ibu.
Ibu ingin aku membunuh Ibu?
Kurang lebih. Bunuh ibu.
Baik.
Astaga. Begitu saja, ya?
Tapi ibu rasa kau tidak bisa.
Apa maksud Ibu?
Berhenti menggoyangkan kakimu.
Berhentilah mengomeliku.
Apa?
Apa?
Ibu minum terlalu banyak. Ibu bisa benar-benar pikun.
Apa kau khawatir?
Kau manis sekali, Shizuo.
Ibu menyayangimu.
Hei.
- Hei. - Kau kembali.
Sial.
Baiklah.
Aku berbohong tadi.
Apa?
Aku tidak menemui kakakku, tapi aku bertemu ibuku di pub.
Baiklah. Tapi bukankah dia di rumah sakit?
Dia sudah keluar dan tinggal di rumah kakakku.
Itu bagus.
Entahlah.
Itu tidak mudah.
Hei, menjijikkan!
Kemarikan.
Mendekatlah dan berdiri di sini.
Rasakan ini!
Hei!
Cium aromanya.
Ini bunga asli!
Aromanya enak.
Yang ini tidak.
Kenapa ada di sini?
Kau mau membawanya?
Kau menjatuhkan satu daun.
Tunggu, kau akan jatuh.
Angkat ini dengan lurus...
Lihat? Aku bisa.
Kau berhasil.
Hei, itu menakutkan!
Ini terlihat seperti berjalan, ya?
Ini makin berat.
Bagus.
Ini kembalian dan tanda terimanya.
Terima kasih. Berikutnya.
Anjing?
Terima kasih.
Hai.
Baumu seperti alkohol.
Apa ini gaya hipster yang sedang tren?
Tidak juga.
Setidaknya belilah sepasang sepatu kulit.
Hei. Bukankah ada yang ingin kau katakan?
Apa?
Sikap mangkirmu menyebabkan masalah bagi orang lain.
Aku tidak enak badan, jadi, aku tidur seharian.
Astaga.
Kau pembohong.
Terima kasih untuk ini.
Simpan saja.
Selamat makan.
Kau pergi ke pub itu?
Ya, tentu saja.
Kau bicara dengan Motoko?
Ya.
Itu pub yang bagus.
Aku suka pemiliknya.
Kami menjelek-jelekkanmu.
Apa?
Menjelek-jelekkanku?
Kau melanggar janjimu.
Begini...
Aku tertidur.
Lalu?
Aku bangun dan minum sampai subuh.
Kau kesal?
Tidak.
Hanya terkejut.
Maaf.
Kau benar-benar tidak tulus.
- Tidak tulus? - Ya.
Tidak tulus, ya?
Kau minum sendirian?
Tidak, dengan seseorang yang tinggal denganku.
Ternyata kau punya pacar.
Teman pria.
Lebih murah membagi biaya sewa.
Seperti apa hidupmu?
Aku hanya pekerja paruh waktu di toko buku.
Hei.
Ada sesuatu di wajahmu.
Menjijikkan.
Ini, pakai ini.
Terima kasih.
- Kau mau ini? - Bolehkah?
Ya.
Terima kasih.
Baik, terima kasih.
Aku tidak bisa menyimpan ini.
Tidak apa-apa.
- Kau tidak butuh? - Tidak.
Benarkah?
No comments yet. Be the first to leave one.