Wasiat Warisan

Wasiat Warisan

Download Indonesian Subtitle

Release info

[๐—–๐—ผ๐—ณ๐—ณ๐—ฒ๐—ฒ๐—ฃ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐—ผ๐—ป] ๐—ช๐—”๐—ฆ๐—œ๐—”๐—ง ๐—ช๐—”๐—ฅ๐—œ๐—ฆ๐—”๐—ก (๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฑ) ๐—ก๐—™๐—ซ ๐—ช๐—˜๐—•
A Commentary by Coffee_Prison
๐‘ซ๐’–๐’“๐’‚๐’”๐’Š : ๐ŸŽ๐Ÿ:๐Ÿ“๐Ÿ“:๐ŸŽ๐Ÿ‘ || ๐‘บ๐’–๐’ƒ๐’•๐’Š๐’•๐’๐’† ๐‘น๐’†๐’•๐’‚๐’Š๐’ ๐‘ต๐‘ฌ๐‘ป๐‘ญ๐‘ณ๐‘ฐ๐‘ฟ || *เชกเฑฟแฅฃษ‘แƒษ‘๐— ๐–ฌเฑฟ๐“ฃ๐—ˆ๐“ฃ๐—๐—ˆ๐“ฃ

Tags

webdl
Published on: 2026-04-09
Downloads: 179
Hearing Impaired: No
FPS: 25

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

MEMPERSEMBAHKAN

- Horas! - Horas!

- Selamat datang di Hotel Pariban. - Ya.

Kakak sudah ada reservasi sebelumnya?

Sudah reservasi atas nama keluarga Gultom untuk tiga kamar ya.

- Gultom, tiga kamar. Sebentar, ya, Kak. - Ya.

Ada.

Kamar nomor berapa?

22, 23, 24, Inang.

- Biar Inang yang ambil. - Ya, siap, Inang.

Sebentar, ya, Kak.

Ini kuncinya.

Terima kasih, Inang.

Marlon, Herbert! Cepat.

Kalian bawakan dulu koper-koper tamu-tamu itu ke kamarnya.

- Oh, ya. - Ya.

Angkat koper kayak begini, sudah kenyang kali aku ini, Bang.

Ayo.

Berat, ya, Bang.

Beratnya.

Apa isinya ini? Kelapa sawit?

Kelapa sawit kepala bapak kau?

Longor kali, ini 'kan ada roda.

Roda ini, 'kan? Biar bisa kau sorong dia.

Barang tamu ini harus kita jaga.

- Begitu? - Dorong.

- Oke, Bang. - Ya. Sorong!

Terima kasih sudah menginap di Hotel Pariban.

- Horas. - Horas!

Selamat datang di Hotel Pariban.

Pemandangan matahari terbenam terbaik di Toba.

Horas, Lae.

Aku agen travel dari sini.

Aku bawa tamu banyak ini.

- Ada kamar yang siap, 'kan? - Ada, Bang.

Tapi karena ini baru jam lapor keluar,

paling tunggu kamar dibersihkan dulu, Bang.

Biasanya jam pendaftaran untuk menginap biasanya pukul 14.00.

Kelamaan itu, Lae. Ini tamuku sudah mau istirahat.

Sudah mau patah-patah ini pinggangnya.

- Untuk berapa kamar, Bang? - Rombongan butuh tujuh kamar.

Ada!

Kalau cuma tujuh kamar, ada itu.

Siap pakai.

Tapi kata Lae ini tadi jam 14.00. Enggak jadi lah.

Bisa-bisanya moncongmu saja.

Pergi kau sekarang, siapkan tujuh kamar dalam sepuluh menit.

- Ayo, cepat. - Ya, Inang!

- Sepuluh menit ya, Inang? - Ya.

Turunlah. Turun yang lain. Ayo turun.

Ayo, kamar sudah siap.

Horas!

Marlon! Herbert! Lina! Bapak!

Bapak!

Ayo kumpul, kalian semua!

Bapak!

Ya ampun.

Berisik sekali Mama ini?

Tahiku saja masih antre.

Air ember juga belum habis.

Berisik banget.

Lina, kau bantu dulu aku?

Apa? Enggak kau lihat aku lagi rekap?

Rekap apa kau rupanya? Lama sekali. Rekap togel?

Lina, kau bantu dulu mereka siapkan kamar.

Ada tamu rombongan baru datang.

Uang itu.

Siap, Inang.

Nanti pembukuan biar Inang yang urus. Ayo, cepat! Cepat.

Siap, Inang.

Ya, Inang. Tadi panggil kami, ada apa, Inang?

Marlon, Herbert, ada tamu rombongan baru datang.

Kalian siapkan tujuh kamar dalam sepuluh menit.

Cepat.

- Sepuluh menit, Inang? - Ya.

Tapi itu bukan kamar domba kambing lo, Inang.

Mengeluh saja mulut kau, Bert!

Tapi 30 menit lah, Inang. Sepuluh menit tak terkejar.

Sekarang waktu kalian tinggal delapan menit.

Cepat!

Ayo!

Ada apa?

Aku baru selesai BAB.

Belum lagi aku merokok. Smoking. Macam mana?

Alah, Pak, biasanya kau BAB sambil merokok sebatang.

Aku tahu.

Ada tamu rombongan baru datang.

Bapak bantu dulu anak-anak itu siapkan kamar.

Cepat, Pak. Ayo.

- Ya. - Cepatlah.

Siaga!

Enggak sia-sia hotel ini direnovasi.

Makin ramai lagi tamu.

TUHAN SELALU BAIK

Ma.

Tumben kau telepon duluan, Amang.

Sehat kau, Amang?

Sehat, Ma.

Ma, Togar keterima kerja di Jakarta.

Puji Tuhan!

Paten sekali anak Mama!

Baru saja wisuda, sudah dapat kerja.

Tapi nanti makin jarang kau pulang ke kampung.

Kalau Mama rindu, kayak mana?

Yah, kalau ada cuti, pasti pulang, Ma.

Atau Mama saja kuterbangkan ke sini. Kok susah?

Hotel kayak gimana, Ma? Ramai?

Puji Tuhan. Ramai terus, Amang.

Mama dan Bapak sibuk tiap hari mengurus hotel.

'Kan ada Kak Tari dan Kak Mona. Suruh juga lah mereka bantu-bantu.

Kalau mereka berdua yang urus, yah mereka cekcok saja.

Kayak enggak tahu kau dua kakakmu itu.

Mama dan Bapak pun masih kuat.

Sudah, ya, Amang. Mama mau pergi.

Mau ke mana, Ma? Sama Bapak?

Ya, ada urusan sedikit.

Ya sudah, hati-hati ya, Ma.

Salam sama Bapak.

Bilang Togar sudah punya kerjaan di Jakarta.

Kau juga, jaga diri baik-baik, ya.

Siap, Ma.

Ma, cepat sedikit lah, lama sekali.

Sudah siap ini.

Bapak, tadi si bungsu, Togar, menelepon.

Sudah dapat kerja di Jakarta.

Terus terang saja kubilang sama Mama.

Si Togar itu enggak pernah menelepon aku.

Tanya kabar aku.

Kayak, "Apa kabar, Bapak?" Enggak ada itu.

Boro-boro kirim pulsa.

Jangan-jangan nomorku sudah diblokir sama dia.

Bapak pun merajuk pula. Sudah.

Pergi kita.

Susah sekali Tarida dan Ramona ditelepon.

Entah ke mana pula mereka.

Malam, Amang, Inang.

Maria.

Bawa apa kau?

Ini, Inang, Maria bawa mi gomak, kesukaan Amang sama Inang.

- Pasti Amang dan Inang belum makan, 'kan? - Pas sekali kau datang, Maria.

- Belum makan kami. Lapar ya, Pak? - Lapar.

Ke mana saja kau, Tarida?

Dari tadi Mama telepon.

Kurang enak badan aku, Ma.

Ini baru minum obat.

Tarida besok saja ya ke rumah Mama, ya?

Masih pusing sekali ini kepalaku.

Macam mana, Ma?

Si Tarida sama Ramona jadi datang?

Enggak jadi kayaknya, Pak.

Susah sekali disuruh ke sini saja.

Ya sudahlah, lagian sudah malam.

Barangkali mereka punya kesibukan.

Besok baru aku suruh mereka kemari.

Yang penting, mi gomak ini dulu kita mainkan.

- Makan kita, ayo. - Ya.

Ini, Bapak.

- Ayo. Ya. - Wahโ€ฆ

- Mau beli ikan? - Ya.

Ya sudah, ayo.

Eda Dame.

Sebentar dulu ya.

Ini, Eda, ada undangan.

Anakku, si Charles, menikah minggu depan.

- Datang ya. - Dadakan sekali, Eda.

Yah enggak lah, Eda.

Charles di bawah si Togar 'kan umurnya?

Betul, Eda.

Entah ada apa-apanya.

Begitu kali mulutnya Eda ini.

Yah, enggak lah, Eda.

Memang Tuhan kasih dia cepat jodoh, Eda.

Suruh saja juga si Togar cepat menikah. Sudah pas itu.

Kalau itu, mau sekali aku.

Tapi, yah, tergantung sama calonnya ini.

- Entah masih ragu pun dia. - Ya.

Eda, si Togar sudah dapat kerja di Jakarta.

- Oh, ya? - Jadi orang hebat dia.

Besar sekali gajinya.

Tapi, Eda, jangan seperti Laenya, si Johan.

Utangnya di mana-mana.

- Serius kau, Eda? - Betul, Eda!

Dia main judi,

mabuk-mabukan,

pinjam uang di sana-sini.

Kasihan si Mona itu, Eda.

Horas, Bapak!

Asyik sekali tampaknya mancingnya.

Horas.

- Ada yang dapat? - Dapat ini lima ekor.

Mana? Tidak ada. Bapak ini.

Mana Mama?

Tadi Mama sama si Maria pergi ke pasar.

Mama kau bilang sebentar, tapi sampai sekarang belum juga datang.

Aku tahu pasti lagi makan mi mereka itu.

- Mi gomak? - Mi gomak?

- Siapa, Pak? - Mana si Tarida?

Kakak?

Masih kurang sehat dia, Pak. Jadi, istirahat di rumah.

Aduh.

Wasiat Warisan subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle โ€” sync, quality, typos.500 characters left