The first 195 lines.
Banyak yang bilang
Kalau orang Minang itu culas, keras kepala, & susah ditebak.
Semua itu tergantung sudut pandang.
Niat orang Minang akan selalu baik.
Segala hal yang dilakukan, sampai setiap nafas yang ditarik,
itu dilakukan demi adat,
demi kampung,
demi keluarga.
Jika tiga hal tersebut dilanggar,
siapa yang tak akan berjuang melawannya.
Karena menjunjung adat itulah,
orang Minang selalu main halus.
Kadang saking halusnya,
hingga tak terbaca.
Tiba-tiba kalah saja lawan kami.
Kalau tak percaya, dengarkan cerita saya yang satu ini.
Cerita tentang kecintaan terhadap kampung
dan keluarga
sambil teguh memegang adat
di atas segalanya.
Bismillahiirrahmanirrahim.
Bapak tua ini Ridwan namanya.
Namun semua orang di desa memanggilnya...
Angku Wan.
Angku Wan ini dulu seorang guru.
Kepala Sekolah SD di kampung kami.
Orangnya keras kepala,
dan tidak bisa dikasih tahu.
Namun kami semua tahu bahwa niatnya selalu baik.
Dan kecintaannya terhadap desa kami tidak ada yang menandingi.
Kecintaannya terhadap desa adalah...
alasan kenapa dia menduda.
Istrinya meninggalkan dia
sejak 20 tahun yang lalu
dan membawa anak mereka
untuk mengejar masa depan lebih cerah di Jakarta.
Angku Wan menolak pindah.
Dan sejak itu beliau tinggal sendiri.
Ini lipstik siapa?
Assalamualaikum.
- Waalaikumsalam! - Dinda! Kamu mau ke mana?
Dinda?
Assalamu'alaikum!
- Waalaikumsalam! - Eh, Afdhal.
Angku.
- Sehat kamu, Dhal? - Sehat Angku, silakan duduk.
Iya, lah.
Sudah mulai, Am?
Belum.
Gantilah!
Aku menunggu harta karun!
Dhal! Ubahlah salurannya ke acara nyanyi-nyanyi itu.
Di situ pengumumannya!
Mau minum apa, Angku?
Apa yang tersedia, Ta?
Kalau ada gula merah dan telur bebek,
teh telur satu.
Banyakin tehnya ya!
Iya.
Ini masih ada gulai asam durian kalau mau.
Sebenarnya saya mau,
tapi tadi siang datang orang-orang
membawa perkedel rinuak dan sambal lado limau.
Enak sekali makan saya.
Iya, lah.
Sejak itu, aku dan keluargaku
sudah seperti menjadi keluarga pengganti baginya.
Beliau memang sudah lama seperti ayah bagiku.
Apalagi sejak ayahku meninggal waktu aku umur 16 tahun.
Kedekatanku dengannya sudah dimaklumi oleh keluargaku,
yang juga sudah menerima beliau sebagai anggota keluarga
meski beliau cenderung keras.
Apa kabar, sehat Angku?
Alhamdulillah sehat, kamu gimana?
Alhamdulillah.
Ini pengumuman yang mana lagi, Angku?
Sabun cuci!
Oh.. Sabun Cuci Gemilang itu ya!
Iya.
Aku belum pernah ikut sayembara sebesar ini.
Dua milyar!
Ya, semoga dapat ya Angku!
- Semoga. - Berapa Angku kirim bungkus sabunnya?
Tiga puluh dua!
Untung kamu bantu simpankan.
Daripada jadi sampah, bagus lah ada gunanya.
Kalau menang kami kebagian dong, Angku?
Satu Sigiran kebagian!
Desa ini ketinggalan!
Setiap kali belerang naik dari dasar danau dan ikan mati semua.
Semua pasrah seperti kehabisan akal.
Kita buat sumber penghasilan lain.
Diminum, Angku.
Wah, terima kasih, Ta.
- Diminum ya. - Iya, Ta.
Sudah mulai! Besarkan suaranya sedikit!
Tiba saatnya untuk pengumuman Sayembara Megah 2 Milyar Rupiah
dari Sabun Gemilang!
- Oh, diundi ya, Angku? - Iya.
Dan pemenang dari sayembara senilai dua milyar rupiah
dari Sabun Gemilang adalah...
Ridwan Sutan Pangeran
Dari Sigiran, Sumatera Barat!
Onde Mande!
Alhamdulillah !
Majulah desa ini.
Dua milyar!
Dua milyar, Angku!
Iya. Iya.
Besok antar aku ke Padang ya.
Siap! Besok pagi, Angku!
Jam 7 boleh, Angku?
Kutunggu, aku pulang ya.
Besok perjalanan jauh.
Istirahat, Angku!
Iya.
Assalamualaikum !
Waalaikumsalam !
Kok bisa ya?
Rezeki orang sabar.
Bertahun-tahun dia ikut sayembara-sayembara itu.
Rezeki orang kepala batu.
Uang itu akan banyak membantu desa ini.
Kalau itu harus direnovasi.
Terlalu kecil.
Sudah tidak layak sekali.
Lahan itu bisa dibuka jadi kebun gambir
atau dibuat ladang petai.
Agar bermanfaat bagi masyarakat.
Ini yang lebih parah.
Itu harus dibuat baru semua.
Kalau diterpa angin kencang,
rasanya mau runtuh.
- Sudah semua? - Iya.
Di mana dia?
Assalamualaikum .
Astaghfirullah , Angku!
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
RIDWAN SUTAN PANGERAN BIN ZAHAR
Sudah lah, Bang.
Ikhlaskanlah Angku Wan.
Nanti arwah Almarhum berat ke akhirat.
Iya. Abang ikhlas.
Abang cuma sedih.
Teringat mimpi terakhir Angku Wan
yang belum kesampaian.
Padahal hampir saja terkabulkan niat dia memperbaiki kampung kita.
Namun sepertinya Allah punya rencana lain buat Angku.
Tapi mungkin ke depannya akan terlihat hikmahnya.
Tapi...
Tapi kenapa, Ta?
Perusahaan sabun itu 'kan, belum tahu Angku Wan meninggal?
Tentu belum.
Belum dua jam Angku meninggal.
Dan mereka belum pernah bertemu Angku Wan.
Ya kan baru diumumkan semalam.
Dengar suaranya pun belum.
Kayaknya aku mengerti apa yang kamu maksud.
Ya kita kan membicarakan mimpi terakhir Angku Wan.
Dan sepertinya kesempatannya belum sepenuhnya tertutup.
Kalau seperti itu 'kan harusnya lurus jalan kita?
Tapi bagaimana caranya?
Ya dipikirkanlah.
Pagi.
- Assalamualaikum. - Assalamualaikum.
Assalamualaikum , Bu.
Ta.
Ada apa, Bang?
Mungkin lebih baik kita ikhlaskan saja hadiah sayembara dua milyar itu.
Kenapa?
Kita pikirkan hidup kita saja lah.
Nambah pikiran lagi kalau kita jadi harus memperjuangkan uang itu.
Tapi, Bang. Aku sudah keburu minta Afdhal.
Kumpulkan ninik-mamak kampung kita.
Untuk bantu kita pikirkan rencana siang ini.
Kenapa tiba-tiba jadi mundur kita.
Aduh, aduh, kok kamu nggak bilang aku dulu?
Aku kan paling kenal abang.
Otak abang itu jalannya paling lancar kalau di situasi dadakan.
Bisa aja kamu.
Tapi,
kira-kira mereka setuju nggak ya, Ta?
Kita bicarakan dulu saja sebagai keluarga.
Mudah-mudahan semua dukung.
Dan aku pastikan abang nggak akan berjuang sendirian!
Amin.
Dhal, mandilah!
Selepas itu, kamu pergi ke kantor desa.
Kamu bilang sama Da Nas dan Da Dodi
kalau Ayah minta mereka untuk ke sini nanti selepas Ashar.
Ada yang mau dibicarakan menyangkut masa depan desa.
Berat sekali kedengarannya, Mak.
Hush! ini penting!
Selepas itu, kamu ke rumah Haji Ilyas.
Dan bilang hal yang sama.
No comments yet. Be the first to leave one.