The first 200 lines.
Sekolah Negeri 173
Queens, Kota New York 1980
Baiklah, ayo.
Baiklah. Baiklah, harap tenang, Semuanya.
Baiklah, selamat datang di hari pertama sekolah.
Aku Pak Turkeltaub.
Pak Turkeltaub.
Kini kalian kelas enam...
Artinya kalian semua punya tanggung jawab tambahan.
Jadi, setiap hari di papan ini...
Aku akan menuliskan PR dan tugas kalian...
Dan tanggal tenggat waktunya.
Kalian yang bertanggung jawab karena kalian pemimpin sekolah ini.
Baiklah.
Absen daftar hadir.
Jennifer Ashkenazi.
Hadir.
Keith Breslow.
Hadir.
Michelle Chen.
Hadir.
Sharon Cohen.
Hadir.
Baiklah. Hei.
Baiklah, berikan kepadaku sekarang.
Kau. Ya.
Siapa pelakunya?
Siapa pelakunya?
Jika tidak ada yang mengaku...
Tidak ada olahraga.
Satu...
Dua...
Sudah kuduga kau pelakunya.
Siapa namamu?
Paul Graff.
Dan menurutmu ini sopan?
Aku bertanya kepadamu.
Aku ingin membuat semuanya tertawa.
Komedian, ya?
Kau ingin jadi Tuan Populer, ya?
Baiklah, berdiri di depan.
Ayo.
Joanne Dersch.
Hadir.
Jonathan Davis.
Namanya Bond.
James Bond.
Jonathan Davis!
Jonathan Davis, ke sini sekarang juga.
Tahun ini harus ada ketertiban di kelas ini.
Kau kembali ibarat memberi pertunjukan ulang.
Pantas saja kau mengulang kelas enam bersamaku...
Karena kau bodoh.
Lihat siapa guruku.
Nakal.
Selamat pagi, Murid-murid.
Ini Kepsek Sebell.
Mohon kalian semua bangkit...
Tukarkan satu sepuluh untuk sepuluh satuan.
Kelas, tukar...
Satu sepuluh untuk sepuluh satuan.
Itu cara mengurangi jumlah besar, 'kan?
Pengurangan. Ya.
- Pak Turkeytaub, aku tidak paham... - Turkeltaub.
Aku baru saja jelaskan kepadamu, Tuan...
- Edgar Romanelli. - Tuan Romanelli, kau tidak menyimak?
Baiklah, ulangi untuk dirimu sendiri.
Kau akan mempelajarinya.
Aku punya mata di belakang kepalaku, Tuan Davis.
Aku tidak melakukan apa-apa.
Aku tidak akan menoleransi omong kosong.
Hentikan atau kau pergi ke kantor Kepsek Sebell.
Sial.
Baiklah. Sekarang, kelas.
- Tukar satu sepuluh... - Tukar satu sepuluh...
Baiklah, saatnya bersiap untuk gimnasium.
Baiklah, tapi pertama-tama...
Kalian harus kumpulkan surat izin, ya?
Untuk karyawisata minggu depan ke Museum Guggenheim.
Baiklah. Sekarang, Semuanya...
Berbaris di dinding, dari terpendek hingga tertinggi.
Ayo. Kalian tidak boleh.
Kalian dua pembuat onar.
Gimnasium itu privilese.
Terutama tidak kau, Tuan Pengganggu.
Duduklah lagi.
Jangan bergerak.
Lanjutkan.
Dan jangan bergerak.
Lanjutkan.
Johnny?
Ya?
Aku akan katakan sesuatu jika kau terlibat masalah besar.
Lupakan, Graff.
Turkey bersikap seakan dia bisa melihat di belakangnya.
Seakan dia punya kekuatan super dan sebagainya.
Tapi dia tidak pernah melakukan apa-apa.
Apa yang kau lihat?
Stiker emblem misi Apollo.
Itu keren sekali.
Aku punya satu set.
Pemberian kakak tiriku.
Dia anggota Angkatan Udara di Florida.
Tepat dekat NASA.
Turkey masih memainkan lagu disko itu?
Aku tahu.
Disko benar-benar menyebalkan.
Kau tahu Kurtis Blow?
Atau Sugarhill Gang?
Tidak, tapi aku punya banyak piringan hitam di rumah.
Kau punya apa?
Ada album The Beatles, The Red and Blue ...
Intinya lagu-lagu terbaik mereka.
Kudengar mereka mungkin segera kembali bersama.
Jika mau, kau boleh meminjamnya.
- Aku suka sekali stikermu. - Terima kasih.
Boleh kulihat?
Aku harus hati-hati dengan stiker ini.
Jangan sampai Turkey mengambilnya, seperti gambarmu.
Aku tahu. Tapi ibuku ketua POMG.
Dia bisa membuat Turkey mendapat masalah.
Aku ingin melihat itu.
Turkey yang ketakutan pasti terlihat luar biasa.
Kau ikut karyawisata?
Entahlah. Biayanya mahal.
Aku mungkin bisa dapatkan uang untukmu.
Keluargaku kaya sekali.
Kami pergi ke Big Ben di Inggris tahun lalu dengan kakekku.
Keren.
Jadi, jika ibumu mau tandatangan...
Pasti asyik sekali.
Sebenarnya, aku tinggal bersama nenekku.
Dan dia pelupa sekali.
Kadang dia bahkan tidak ingat aku.
Itu aneh sekali.
- Di mana rumahmu? - Hollis.
Aku harus naik bus.
- Senang mengobrol denganmu, Graff. - Ya. Dah.
Sampai besok. Hormat!
Dah.
Sudah lihat celana jin Sasson itu?
Ted?
Ibu?
Ayah?
Hei, Turkey.
Hei, Turkey, aku juara dunia kelas berat.
Aku yang terhebat.
Aku yang terhebat.
Pandangan X-ray.
Halo?
Kakek.
- Anak muda. - Kakek.
Hugga-mugga.
Tambalalaika-tumba.
- Apa kabar? Baik? Bagus. - Baik.
Jadi, lihat ini.
Apa itu? Yang baru?
Ya, Kapten Persatuan.
Aku membuat pahlawan super sendiri.
Hei, ini bagus.
Terbang tinggi di atas kota.
Hei, kau hebat.
Ini bagus sekali. Kau tahu?
- Terima kasih, Tuan yang baik. - Bagus untukmu.
Ini bagus sekali.
Omong-omong, kakek belikan permen jeli.
Suka?
Ibu bilang aku tidak boleh makan ini.
- Buruk untuk gigiku. - Yang benar saja.
Kakek makan permen jeli seumur hidup.
Dan lihat gigi Kakek. Sempurna.
- Kakek. - Apa?
Kurasa aku ingin jadi artis terkenal saat dewasa nanti.
Bagus.
Kau ingin jadi terkenal, bisa lakukan sesukamu.
Tapi jika ingin jadi terkenal, harus tandatangani gambarnya dulu.
Semua seniman hebat menandatangani karyanya. Lakukanlah.
Ya, aku lupa.
Ya.
Kakek dengar...
Ini hari pertama sekolahmu. Benarkah?
Ya, benar.
Aku mengobrol dengan Johnny temanku.
Dan minggu depan kami akan pergi ke Museum Guggenheim.
Gigglyheim.
Baiklah, bagus. Sangat bagus.
Kakek baru ingat kita membicarakan sesuatu...
Apa itu? Kita bicarakan... Kau ingat?
Ya. Kakek ingat.
Kami bicarakan tentang hadiah untuk kembali ke sekolah, ya?
Lihatlah ke tas itu.
Astaga.
Roket. Kakek membelinya.
- Kau suka? - Bagus sekali!
- Bisa kita membuatnya? - Ya.
Kita pergi ke Flushing Meadow, dan kita luncurkan.
Langkah pertama dulu.
Mereka akan datang makan malam...
Jadi jangan beri tahu ibumu. Ini proyek rahasia kita, ya?
Baik, Kakek.
No comments yet. Be the first to leave one.