The first 200 lines.
Mozart, ayahmu meninggal.
Sebelumnya
Kurasa akan membantu jika berita ini disampaikan dengan wajah ramahku.
Apa kau seperti itu?
Figur jahat di panggung itu adalah ayahnya sendiri.
Dan pecinta wanita yang malang itu adalah Mozart sendiri.
Dan aku tahu, tepatnya di mana, pada saatnya nanti
Untuk melakukan tusukan terakhir.
Berapa lama lagi waktuku?
Kalau aku jadi kau, aku tidak akan berkeliaran.
Suasana hati berubah-ubah.
Kau sudah kehabisan waktu.
Aku menikmati operanya.
Kurasa itu agak... menyenangkan.
Kurasa semua itu agak hambar sejauh ini.
Perhatianmu jadi teralih! Kau harus fokus pada musiknya!
Itu membuatku sadar bahwa semua hal yang kuketahui tentangmu
Harus kupelajari melalui karakter-karaktermu.
Dan aku ragu apakah kau...
Apakah kau bisa terbuka padaku?
Kau tidak boleh tinggal bersamaku.
Keadaan di sini tidak baik.
Selalu ada pembalasan.
Kau yang menyuruhku melakukannya.
Ini tidak boleh terjadi lagi.
Itu idemu, Mozart.
Dia lemah, hancur dan sendirian.
Jadi
Kami pergi menuju kegelapan.
Enam bulan setelah kematian Salieri
Nyonya Mozart?
Ya.
Syukurlah. Namaku Alexander Pushkin.
Aku mencarimu.
Aku sudah bertanya ke mana-mana.
Kafe, bar, balai konser.
Lalu akhirnya, kucoba bertanya ke kantor pos.
Entah kenapa tadinya aku tidak memulai di sana.
Tapi di sinilah kita.
Apa keperluanmu, Tuan Pushkin?
Apa keperluanku? Ya.
Aku seorang penulis. Kau mungkin pernah mendengar tentang aku.
Atau kau mungkin tidak pernah dengar. Bagaimanapun juga, aku penulis opera.
Atau berharap bisa menulis opera.
Kau berkeliling ke rumah semua orang untuk menceritakan langsung hal itu?
Tidak.
Aku datang mencarimu karena aku berharap
Untuk menulis tentang suamimu.
Yang mana?
Kurasa kau tahu yang mana.
Dan apa yang kau harapkan dengan menulis tentang dia?
Aku... Aku ingin menulis tentang kematiannya.
Dia meninggal karena demam.
Mereka pikir musiknya seharusnya bisa menamengi dia.
Tapi dia terdiri dari darah dan daging seperti kita semua.
Dia sakit.
Aku mendengar hal yang berbeda.
Apa yang kau dengar?
Kudengar itu pembunuhan.
- Kau dengar itu? - Ya.
Dari siapa?
Dari Hofkapellmeister tua, Salieri.
Dia akhirnya masuk rumah sakit jiwa, kau tahu itu?
Aku tahu.
Dan agaknya kau sudah dengar dia meninggal tahun lalu.
Ya.
Dan mereka bilang, dia berteriak-teriak dan mengoceh.
Berteriak seperti bayi sampai akhir kematiannya.
Dan mereka bilang beberapa pekan sebelum kematiannya
Mayoritas ocehannya tidak bisa dipahami. Kebanyakan omong kosong.
Kecuali satu hal.
Satu hal yang terus dikatakannya.
Dia bilang pada mereka
Bahwa dia yang membunuh suamimu.
Tampaknya, kata mereka dia mengaku.
Dan tampaknya dia mengaku kepadamu.
Apa pendapatmu tentang itu?
Karena aku bisa memberitahumu tentang pemikiranku.
Kupikir
Itu bisa menjadi kisah yang cukup bagus.
"Aku menyatakan fakta sebenarnya bahwa aku
Pada tanggal 5 Desember 1791, membunuh Wolfgang Amadeus Mozart."
Enam bulan menjelang kematian salieri
Apa pentingnya aku tahu semua ini, Antonio?
Kau masih tidak percaya padaku?
- Tidak, itu kurang sesuatu. - Apa?
Ketegasan.
Bagaimana caramu melakukannya? Racun? Mencekik?
Kau ingin tahu detailnya.
Kau sudah memberiku setiap detail dari aspek kehidupanmu sejauh ini.
Maafkan aku. Kurasa tadi aku memberikan konteksnya.
Kalau begitu, langsung saja, ucapkan pengakuanmu.
Kau ingin aku memberi tahu dunia bahwa kau membunuh suamiku.
Aku perlu tahu caranya
Dan aku harus yakin.
Enam hari menjelang kematian Mozart
Kau mau pergi ke mana?
Aku biasanya lebih yakin tentang ketidakbijaksanaan dirimu.
Kau ingin pergi melampiaskan nafsu birahimu malam ini?
Kau menyakiti hatiku, tapi masih bisa kutahan.
Tapi kau mau menyelinap keluar dari rumahku. Ini harus kuanggap apa?
Aku sudah tahu, Antonio.
Aku sudah tahu semuanya.
Dan dulunya setiap kali aku melihatmu
Kulihat manusia rusak yang bisa berbuat salah, yang membuatku sedih.
Kini aku tidak melihat seorang manusia sama sekali.
Dosa perzinahan setidaknya dilakukan manusia.
Tapi dosa apa yang kau cari saat kau menyelinap keluar dari sini?
Akan kukunci pintu kamar tidur kita malam ini.
Dan kuharap kau tidak berpikir untuk mencariku saat kau kembali.
Demam melanda Vienna.
Membunuh mereka yang tidak kuat menahannya.
Jadi, malam demi malam, aku kembali untuk lebih melemahkan dirinya.
Semangatnya
Tubuhnya
Dan pikirannya.
Kumainkan permainan kecil itu.
Terinspirasi dari Don Giovanni.
Aku berdiri di luar jendelanya tiap malam selama sepekan.
Pria bertopeng. Datang untuk menyeretnya ke neraka.
Sungguh menakjubkan.
Betapa rapuhnya pikiran.
Betapa cepatnya hal itu terungkap.
Ya, itulah dia.
Terungkap.
Tidak yakin.
Dan sendirian.
Lima hari menjelang kematian Mozart
Mozart?
Apa aku boleh masuk?
Silakan.
Maaf telah mampir mengunjungimu larut malam seperti ini.
Aku cemas.
Kau punya komisi baru?
Kau sudah bicara dengan Persaudaraan Mason soal Suling Ajaib ?
Sudah.
Sayangnya, mereka menanggapinya dengan agak buruk.
Simbol-simbol itu kumaksudkan sebagai penghormatan.
Aku tahu. Sudah kujelaskan pada mereka.
Harus kuakui, aku terkejut dengan kuatnya perasaan mereka tentang itu.
Jangan cemas. Mereka akan tenang pada waktunya nanti.
Aku tidak yakin diriku masih punya waktu.
Kau tampak kurang sehat, Maestro.
Aku tidak bisa tidur.
Sudah kucoba, tapi aku tidak bisa.
Kenapa tidak bisa?
Kau percaya dengan neraka, Antonio?
Ya, aku percaya.
Kau percaya?
Aku ingat
Saat aku tinggal di London sewaktu masih kecil
Ayahku jatuh sakit
Istirahat di ranjang beberapa pekan.
Pada suatu malam, demamnya makin parah.
Dan aku bisa mendengar sesuatu di jalanan luar rumah.
Semacam nyanyian.
Kurasa mungkin itu para malaikat yang datang untuk membawanya pergi.
Atau kalau bukan malaikat, maka sesautu yang lebih buruk.
Itu pertama kalinya aku bisa ingat mengalami perasaan ini.
Seolah aku diperlihatkan...
Kematian?
Aku bisa merasakan kematianku sudah dekat, Antonio.
Aku menulis Requiem.
Kau hanya perlu makan, Mozart.
Memenuhi gizimu dengan sesuatu selain anggur.
Akan kuambilkan makanan untukmu.
Aku segera kembali.
Wadah-Mu lemah.
Kesunyian akan datang.
Mari kita lihat apa Kau bisa bicara tanpa lidah.
Aku bisa menghentikannya. Aku bisa. Aku bisa menghentikannya.
Izinkan aku melakukannya.
Jangan keras kepala, Tuhan.
Beri aku tanda.
Akan kuakhiri semua ini.
Baiklah.
Apa ini yang Kau inginkan?
Kumohon, menyerahlah. Kumohon.
Bicaralah melalui aku sekali lagi.
Biarkan aku berhenti.
Biarkan aku berhenti.
Biarkan aku berhenti.
Halo?
Kumohon, kumohon.
Ayah, kumohon.
Jangan ganggu aku!
Dan apa yang kau inginkan dariku?
Aku ingin tahu kebenarannya. Apa benar-benar ada pengakuan?
Jika aku mau menulisnya, mengutuk seseorang, bahkan yang sudah mati
Aku ingin tahu apa dia bersalah melakukan kejahatan yang kutuduhkan.
Aku tidak ingin dituntut.
Terima kasih.
Apa Kapellmeister bicara denganmu tentang kematian suamimu?
Tidak.
Dan kapan terakhir kali kau melihatnya?
Salieri?
Setelah meninggalnya suamiku.
Dia mengadakan konser untuk mengenangnya.
Apa ini?
Surat-surat tua.
No comments yet. Be the first to leave one.