The first 200 lines.
Sabtu 14 Desember 2002
Memproses data, mohon tunggu...
Saldo rekening 98,20 dolar
Sebentar lagi.
- Jangan bergerak! - Baik.
Uang!
Kau mau aku atau uang?
Kubilang uang!
Jangan sentuh wajahku, aku mencari nafkah dengan itu.
- Berikan uangmu! - Baik.
Berapa PIN-nya? Beri aku 50.000 dolar!
Aku hanya punya 98,2 dolar!
Lima puluh ribu dolar di ekonomi buruk seperti sekarang?
Apa kau gila?
- Kau baru mengosongkan rekeningmu? - Tidak.
Hanya 98,2 dolar? Pecundang macam apa kau?
Dengar, kau punya dua dolar di rekeningmu?
Transferlah dua dolar ke rekeningku.
Lalu kau akan punya 100 dolar untuk tarik tunai.
PIN-nya 691234.
Lakukan sendiri.
Astaga, kau masuk kamera.
Habislah kau. Senyumlah saat kau dapat uangnya.
Kau mau uang, 'kan? Ambil 100 dolar dan larilah.
Bersenang-senanglah.
Apa ini? Apa yang kau lakukan?
Kenapa kau mengunci pintunya?
Pemadaman listrik.
- Kenapa ini terjadi? - Mana kutahu?
Pasti karena badai.
Bagaimana sekarang?
Aku akan menelepon nomor darurat.
Untuk apa?
Apa yang bisa dilakukan polisi dengan pemadaman listrik?
Hei, mundur. Jangan sentuh apa pun.
Aku akan menelepon pemadam kebakaran.
- Untuk apa... - Agar mereka membuka pintu.
Tapi polisi akan datang juga!
Lalu kenapa? Lagi pula, wajahmu sudah terekam di video.
Berikan pisau itu.
Kau menggertak. Tak ada listrik untuk merekam video.
Listriknya menyala saat kita masuk, Bodoh.
Berikan pisaunya sekarang sebelum kau melakukan kesalahan.
Kembalikan! Kembalikan sekarang juga!
Tenang saja.
Aku tak akan menelepon siapa pun.
Tetaplah tenang dan kita berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Kau tidak merampokku, dan aku tidak dirampok.
Kita tunggu saja, lalu kita pergi, ya?
Kemarilah.
- Apa ini? - Ini milikku.
Minumlah, ayo.
Ayo, minumlah denganku.
Malam ini akan panjang.
Mari berteman dan mengobrol sedikit.
Aku bisa menceritakan banyak kisah.
Aku sedang tidak ingin dengar.
Tapi kisahnya lucu.
Tidak ada yang lucu.
Aku sudah tiga tahun tak tertawa.
Kau akan tertawa...
Tunggu sampai kau dengar apa pekerjaanku.
Apa pekerjaanmu?
Aku pelacur.
Pelacur yang pernah hidup lebih baik.
Aku perlu pelacur.
Maaf, salah apartemen lagi.
Ini flat D, bukan B, tampan.
Berbaliklah.
Lurus saja.
Terus.
Lewati kamera.
Di sebelah kananmu. Maju.
Terus.
Itu tempatnya.
Aku butuh pelacur.
Kau kemari bukan untuk potong rambut, bukan?
- Astaga. Detergen? - Bukan, ini sabun mandi.
Botol aslinya pecah.
Kau akan memanggilku dengan panggilan selagi kita melakukannya?
Tentu, tambah 20 dolar untuk "Sayang" dan 30 dolar untuk "Suamiku".
Ada kata lain?
Harganya sama, panggilan apa pun 20 dolar.
Boleh kucium bibirmu?
Itu tambah 100 dolar.
Aku sudah lama tak berciuman sejak pacarku mencampakkanku.
- Sungguh? - Aku sangat merindukannya.
Maukah kau melakukannya seperti dia?
Tentu, katakan saja seperti apa.
Kau senang?
Pacarku, kau senang?
Ibu bilang dia merindukanmu...
Maukah kau mengunjunginya kapan-kapan?
Setelah ini, kita kunjungi wanita tua itu.
Kau akan terus menemuiku dan mengunjungi ibuku juga, ya?
Baik.
Baiklah.
Dengar, katakan ini.
Astaga, tapi aku malu.
Kau harus mengantarku kepadanya.
Kau selalu malu.
Satu gigitan untuk Babi Putihku.
Babi Putih.
Babi Putihku, kini panggil namaku.
Aku harus memanggilmu apa?
Babi Putih memanggilku...
Kemaluan Baja.
Kemaluan Baja?
Babi Putih...
- Cakar punggungku, Babi Putih. - Apa?
Cakar punggungku.
Lebih keras. Kini gigit bahuku.
Ya. Lebih keras.
Gigit aku.
Dan pencet jerawat di punggungku.
- Lakukanlah. - Pencet?
Babi Putih.
Apa lagi sekarang?
Ekspresi wajahmu salah.
Dia tampak jauh lebih manis.
Lebih manis.
Teruslah mendesah untukku.
Mendesahlah.
Kemaluan Baja.
Kemaluan Bajaku.
Aku mencintaimu, Babi Putih!
Itu favoritku sepanjang masa.
Kenapa kau tak tertawa?
Itu seharusnya membuatmu tertawa.
Tak ada yang lucu tentang itu.
Hidupmu menyedihkan.
Pernah dengar lagu Tragedy of Blood ?
Sangat tragis, itu sangat tragis
Pendarahannya sangat tragis
Apa yang tragis soal itu?
Aku sudah bertemu banyak orang menarik.
Dan aku sangat bersenang-senang.
Aku harus menceritakan ini.
Selagi di panti pijat, tebak siapa yang kulihat.
Siapa?
Aku melihat...
Halo.
Halo.
Pelan-pelan, jangan terlalu kuat.
Baik.
Tuan, apa aku pernah melayanimu?
Aku ingin tidur.
Baik.
Santai saja.
Baik. Mau kubalur dengan minyak?
Apa yang kau lakukan di sana?
Maaf.
Andy!
Andy, aku penggemar setiamu!
Aku tahu semua lagu dan filmmu di luar kepala!
Sejak kapan kau memotong rambutmu?
Aku butuh tidur siang.
- Pijat kepalaku saja. - Baik.
Ini, pakai bantalnya.
Andy...
Kau aslinya lebih ramping.
Kau sangat berbulu.
Iklan minuman ini dibintangi oleh Andy.
Cari kehidupan, bernyanyi...
Cukup. Hentikan.
Kau punya imajinasi yang kuat, ya?
Semua yang kuceritakan benar.
Aku sudah menjadi pelacur sejak usiaku 15 tahun.
Jadi pelacur di usia 15 tahun?
Selalu lebih baik memulai lebih awal.
Semuanya dimulai di akhir tahun '70-an.
Aku naik kereta bawah tanah pertama untuk bekerja di "kedai bakso ikan".
Putri Alexandra tiba di Stasiun Pusat hari ini...
Untuk upacara pembukaan Moda Raya Terpadu.
Kereta pertama tiba di peron dan memotong pita.
MRT mulai melayani rakyat Hong Kong.
"Bakso ikan" artinya payudara remaja yang belum tumbuh.
Para pria mesum pada masa itu bersenang-senang di kedai bakso ikan.
Ada pepatah...
"Ikuti kemaluanmu, bakso ikan adalah triknya."
Astaga, Chow Yun-Fat menciumnya.
- Memangnya kenapa? - Aku tak percaya ini.
Kau masih punya aku, aku lebih jago mencium daripada Chow.
Jangan halangi aku. Aku sedang menonton.
- Kau nakal, sangat nakal. - Namamu Kum?
Benar.
Payudaramu indah untuk gadis seusiamu.
Yang kau pegang itu bokongku.
Berapa usiamu?
Lima belas tahun. Kau puas?
- Ya. - Kalau begitu, ayo mulai.
Kau nakal sekali, tapi aku sangat menyukaimu.
Bekerja dalam gelap berdampak buruk bagimu.
Kini matamu terlalu sensitif terhadap cahaya.
Pertama, kau pusing.
Lalu kau mungkin menjadi buta.
Apa sebenarnya pekerjaanmu?
Aku bekerja di kamar gelap ayahku.
Nenek, aku tidak akan datang ke kedai bakso ikan lagi.
Aku berhenti.
No comments yet. Be the first to leave one.