The first 200 lines.
Bukan begitu, Kizaki.
Garismu terlalu kaku.
Perahunya harus mengapung.
Itu dia, sedikit lebih dekat.
Lihat?
Terima kasih.
Bentuknya akan muncul. Yang penting adalah perasaannya.
Baik.
Kalian seperti anak kecil!
Masih menggambar, Saku? Kenapa tak kau selesaikan saja?
Kau mau apa?
Saibara!
Saku!
Kau baik-baik saja?
- Kizaki! - Kau baik-baik saja, Kizaki?
Klasik.
Mungkin bagimu.
Saibara.
Dia merasa dirinya lebih baik dari semua orang.
Beberapa dari kita bahkan tak mengincar perguruan tinggi seni.
Ya, kurasa begitu.
Kurasa aku akan berhenti.
Bagaimana menurutmu?
Itu keputusanmu.
Sudah kuduga.
Ada apa, Bu Taguchi?
Seorang reporter lokal ingin mewawancarai Saibara untuk sebuah artikel,
tapi sepertinya dia sama sekali tidak tertarik.
Tak terbayang olehku.
Aku penasaran apa rencananya setelah lulus.
Kau belum mendengar apa pun, Kizaki?
Apa?
Dia belum mengisi sekolah pilihannya.
Ibu mau aku melakukan apa?
Hanya kau dan Saibara yang belum.
Maaf soal itu.
- Segera serahkan, ya? - Baik.
Lihat? Kau terlalu plin-plan.
Punyamu sudah?
Ya. Sekolah kecantikan. Orang tuaku memberiku izin.
Tak masalah bagi sebagian orang.
Bicara saja dengan mereka. Kau mungkin terkejut.
Saku!
Aku melihat Hadiah Khusus Jurimu.
Selamat!
Yang benar saja!
Sampai jumpa.
Sampai nanti.
Hei.
Katakan sesuatu.
Tunggu, jangan...
Saibara!
Ada apa?
Bukan apa-apa.
Kau sebut dirimu orang dewasa?
Mereka bekerja keras!
Kita akan menang penyisihan?
Sayang tim kita payah.
Aku tidak tahu.
Kau harus melihatnya. Endo pasti senang.
Apa maksudnya?
Kau tidak menyadarinya?
Dia selalu menanyakanmu.
Menanyakan apa?
Hal-hal seperti, "Apa dia menyukai seseorang?"
Astaga.
Kau tidak senang?
Apa yang salah darinya?
Aku hanya tak terlalu tertarik dengan itu.
Kau selalu bilang begitu.
Terkadang kau sangat membosankan.
Maaf.
Endo! Bermalas-malasan lagi?
Andai saja! Salah menyelusur.
- Bagus. - Ini, pegang ini.
Hei, aku...
Aku lihat lukisanmu. Selamat.
Bukan aku yang melukisnya.
Aku tak pernah melihatmu begitu bertekad. Cocok denganmu.
Hei. Masih ada sedikit di wajahmu.
- Apa? - Di sini dan di sini.
- Di mana? - Naik sedikit. Itu dia.
Ini, pakai ini.
Tidak perlu.
Saku.
Kau akan pindah ke dekat sekolah, 'kan?
Seharusnya kau lihat wajahnya saat mendengar soal itu.
Aku terkejut, itu saja.
Tampaknya cukup mendadak.
Tanggalnya dimajukan.
Ayahku sangat bahagia sejak pernikahan itu.
Begitu rupanya.
Omong-omong, kau punya masalah sendiri.
Baiklah, istirahat selesai. Kalahkan mereka.
Tak ada gunanya.
Ini di luar kemampuan kami.
Selanjutnya kami melawan favorit kejuaraan.
Kami tak punya kesempatan.
Ada apa denganmu?
Kau sadar perkataanmu barusan?
Lupakan saja.
Hei, tunggu.
Hei.
Kau baik-baik saja?
Ya.
Maaf.
Aku menyukainya.
Aku tahu itu tak berbalas.
Tontonlah pertandingannya untuknya.
Apa?
Dia butuh dorongan, itu saja.
Dia akan berusaha lebih keras jika kau menonton.
Tidak tertarik?
Emi.
Kau menganggapku bodoh.
Seorang gadis kecil selalu patah hati.
Aku sudah tahu itu.
Tapi apa aku gila karena ingin dia bahagia?
Kau akan melakukan apa pun, 'kan?
Aku merasa tidak mengenalmu.
Maaf membuatmu menunggu.
Kenapa lama sekali?
Ada apa?
Masalah cinta.
- Tidak mungkin! Siapa orangnya? - Tidak akan kuberi tahu!
PEMBERITAHUAN PENYESUAIAN TANAH
Aku pulang.
Saku, kau sudah pulang.
Hai, Satomi.
Maaf. Aku merasa kami mendesakmu.
Tidak.
Terima kasih.
Jika kau butuh bantuan berkemas, beri tahu aku.
Baiklah.
Tinggalkan barang yang mau kau buang, ya.
Satomi.
Biar aku saja.
Terima kasih.
Aku pulang.
Itu dia!
Pengepakan berjalan lancar.
Makan malam akan segera siap.
Kalau begitu, aku akan mandi dahulu.
Aku belum menyalakan airnya.
Tidak apa-apa, aku bisa!
- Tapi... - Biar aku saja!
Tunggu.
Ayah mau mandi.
Sampai nanti.
Terima kasih banyak.
- Hei. - Selamat pagi.
Dengar, aku...
- Emi! - Selamat pagi!
Sebenarnya, lupakan saja.
Selamat pagi, Anak-Anak!
Mampirlah setelah upacara besok, ya?
Wawancara Saibara akan dilanjutkan.
Ibu ingin semua orang hadir.
Sampai jumpa.
Bu Guru.
Ada apa?
Aku berpikir untuk keluar dari klub...
Karena ada ujian.
Tapi ibu kira kau mengincar universitas seni.
Aku? Aku tidak akan pernah diterima.
Itukah alasanmu tidak mengikuti kontes itu?
Begitulah.
Kizaki.
Menggambar sesuatu seperti yang kau lihat bukan keahlianmu.
Kau tampak membeku setiap kali garisnya tidak muncul sesuai harapanmu.
Tapi lihatlah evolusi, atau kemajuan ilmiah.
Semua butuh percobaan, 'kan?
Ya.
Dengar. Jika kau tidak pernah menyelesaikan sesuatu,
kau tidak bisa melanjutkan apa pun nanti.
Bagaimana jika membuat satu karya terakhir untuk festival sekolah?
Pikirkan dengan tanganmu, lalu putuskan. Ya?
Kau berhenti?
Pernah diberi tahu kau tak percaya diri?
Aku tak perlu diberi tahu.
Jadilah modelku.
Apa?
Untuk karyaku berikutnya.
Berhenti mengejekku.
Aku serius.
Aku sudah cukup menderita.
Menderita?
Apa lukisannya seburuk itu?
Aku mengatakan sebaliknya.
Menurutku itu luar biasa.
Lebih baik daripada alasan menyedihkanku untuk kapal bodoh.
Kau memilih subjek yang menarik bagimu, 'kan?
Sama denganku.
Pikirkanlah.
Apa maksudnya?
Aku tak mau menjadi modelmu.
Kenapa tidak?
Karena itu memalukan.
Lebih baik kita memindahkan barang beberapa kali.
Karena kita meninggalkan banyak hal,
No comments yet. Be the first to leave one.