The first 200 lines.
Enam! Tujuh! Sembilan!
Sepuluh! Tiga! Empat!
Enam! Tujuh! Delapan!
Sembilan! Satu! Enam!
Itu anakku. Tampan, ya?
Dia berlatih bela diri Tionghoa sungguhan.
Ada apa?
Berhenti.
Tersenyumlah. Ada apa?
Fokuslah.
Konsentrasi!
Selamat tahun baru.
- Ada apa? - Kita akan bicara nanti.
Sudah kuduga ada sesuatu. Apa?
Baaba!
Ada pencopet!
Pencopet! Dia mencopet wanita itu!
Pencopet. Yang pakai topeng itu.
- Apa? - Lihat!
Dia mencuri dompet wanita itu!
Kejar dia!
- Tunggu di sini. - Ayo!
- Ada apa? - Tunggu sebentar.
Baik, aku pergi!
Baaba!
Aku datang!
Sial, dia lagi.
Ayo sini!
Jangan buat aku mengejarmu!
Minggir!
Sial, licin!
Aku di sini.
Baiklah. Kubilang apa tadi?
Jangan coba-coba.
- Ayo pegang! - Tak mau.
Kena kau!
Baik. Siapa di balik topeng ini?
Kau lagi?
Aku muak melihatmu.
Kita harus hentikan, Bung.
Sudahilah.
Berkelahi di luar!
Aku akan telepon polisi!
Tenang saja, aku polisi.
- Polisi. - Tak nampak seperti polisi.
Polisi, mundur!
- Di sana kau rupanya. - Sedang menyamar, Keita?
Ini kamuflase.
Kau tak tahu, Duval? Aku sedang menyamar.
Aku akan menelepon ambulans.
Kau terluka.
Tolong telepon ambulans.
Pikirkan kembali kariermu.
Ayo. Mainkan musiknya.
Lukanya serius?
Hanya beberapa jahitan. Sepekan juga sudah sembuh.
Bagimu istirahat sepekan. Bagiku, kacau sepekan.
Kita sudah kekurangan staf.
Aku tak ingin cuti, Pak Kepala, tak mau.
Apalagi sepekan dengan ibuku.
Lepas perbannya dalam sepekan.
Di rumah bersama ibumu setelah ditikam...
Kau tak kenal dia.
Tujuh hari, atau kau dapat peringatan.
- Tetapi... - Paham?
Tiga hari.
- Tanpa gaji. - Sepekan!
Baik, aku mengerti.
Pak Kepala?
Ada kabar soal kenaikan gajiku?
Kita makan siang dan bahas itu.
Terima kasih.
Selamat tahun baru.
- Kau orang baru. - Ya.
Sejak kapan?
- Seminggu. - Aku belum pernah melihatmu.
Bagaimana?
Baik, Sayang?
Tenang saja. Hanya lecet.
Pacarmu ini tangguh.
Habis telan buku manual?
Setidaknya aku menghormatinya.
Kau sedang tak bertugas!
Tak bisa kubiarkan copet kambuhan yang tertangkap basah kabur.
Benar, kau suka pencopet.
Baiklah.
Aku minta maaf soal kemarin.
Dua jam di agensi itu.
Kenapa tak meneleponku? Kau ada di daftar kontak favoritku.
Nada dering khusus dengan fotomu.
Menurutmu semua apartemen terlalu berisik, gelap, kecil...
Itu harus sempurna.
Apartemen harus terasa seperti di rumah.
Kita tak memilih. Apartemen yang memilih kita.
Apartemen memilih kita.
- Jujur sajalah. - Apa?
Kau ketakutan.
Hentikan. Kita akan menemukan apartemen.
Aku janji.
Sumpah atas nama ibumu?
Kau berlebihan.
Dia tak tahu.
Apa?
Kau belum beri tahu dia.
Aku akan beri tahu. Sumpah.
Kau bilang dia setuju!
Aku mengantisipasi sedikit.
Ini masalah waktu.
Aku bingung.
Sumpah, akan kuberi tahu.
Sial, tunggu sebentar.
Jangan ke mana-mana. Ada apa, Bu?
Apanya ada apa? Di mana kau?
Aku sedang bicara dengan Lin.
Ini penting. Jangan pergi.
Aku tutup teleponnya, Lin!
Aku tutup teleponnya! Jangan tutup teleponnya, Bu.
Ibu tak bisa menunggu. Pulsa Ibu hampir habis.
Kita akan tetap berkunjung besok. Setuju?
Aku akan perbaiki kesanku...
Soal apartemen.
- Ada apa, Bu? - Ada apa?
Bagaimana pencopet itu?
Aku menangkapnya.
Bagus, Nak.
Kita berdua tim yang hebat. Akuilah.
Bu, sudahlah.
Ibu bukan rekanku, mengerti?
Dasar tak tahu terima kasih!
Kau tangkap pencopet itu berkat Ibu.
Selalu begitu.
Ingat bagaimana Ibu menemukan "petunduk" soal penjahat itu?
Apa?
Bagaimana Ibu bisa menemukan petunjuk, dengan kata yang salah?
Ayo, sebutkan satu. Ayo tertawa.
Miami, Florida
Keparat! Berengsek! Sial!
Bajingan! Akan kutangkap kau.
Baik.
Akan kutangkap kau. Ya. Menepilah.
Keterlaluan.
Baik, kau takkan bisa lolos dariku dengan cara ini.
Baik, aku tepat di belakangmu.
Bukan begini caraku memulai hari. Sungguh mengesalkan!
Awas, Semuanya!
Kau lihat? Lihat ini, kau membuatku melanggar hukum!
Baik, kau menepi. Ini dia. Baik.
Baik.
Kepolisian Miami-Dade.
Apa salahku, Opsir?
Aku sedang terburu-buru. Ada janji.
Itu harus menunggu.
Kau nyaris membuatku mati tadi.
Mengirim pesan sambil mengebut dan mengemudi. Tidak.
Maaf, aku tak melihatmu.
Matikan musiknya.
Tenanglah. Kau tak suka musik Afrika?
Matikan musiknya!
Baiklah, begini. Namaku Iman Tour? Orang Afrika.
Suamiku seorang diplomat. Dia orang penting.
Itu tak mempan di sini.
Keluar dari mobil.
Kau mencari masalah, Opsir.
Apa? Apa katamu?
- Ayolah. - Aku mencari masalah?
Kita bisa atur ini.
Tidak, Bu. Bu, dengarkan aku.
Ini Amerika. Bukan begitu caranya di sini, Bu.
Keluar dari mobil. Ayo, keluar.
Ayo, ke sini.
Bukan begini aku ingin memulai hari.
- Apa maumu? - Ke sini. Berbalik.
Balik badan. Ayo.
- Apa? - Kau lakukan apa sebenarnya?
Baaba.
Narkoba kembali beredar di lingkungan kita.
Mulai lagi.
Bagaimana Ibu tahu?
Ibu tahu karena Ibu tahu.
Ibu selidiki. Ibu tanya orang-orang.
Intelijen lingkungan yang mendalam.
Ibu tahu itu dari Kojak.
Kojak, pria botak itu.
Ibu belajar menyelidiki dengannya.
Dia polisi sejati.
Polisi sekarang, kerjanya apa?
Apa kalian tidur?
Aku mengerti.
- Bagus. - Aku mengerti.
Narkoba akan menimbulkan keributan.
- Akan kuselidiki. - Benarkah?
Tentu saja tidak.
Aku tak akan menyelidiki masalah Ibu dengan para tetangga.
Ibu bisa mencium bau narkoba.
Ibu mengendusnya dengan hidung besar Ibu.
- Ini aku. - Sial.
- Roland! - Baaba, apa kabar?
- Senang bertemu denganmu. - Roland, sayangku.
Apa kabar?
Baik, Bibi.
No comments yet. Be the first to leave one.