The first 200 lines.
Lagi-lagi hujan.
Padahal menurut ramalan cuaca musim hujannya berakhir hari ini.
Payungku... Yah, enggak bawa.
Hei, Nishikata.
Ya, Takagi?
Ada apa?
Bukan apa-apa, kok.
Hujan, ya?
Untung saja aku bawa payung lipatku untuk jaga-jaga.
Apa kamu bawa payung, Nishikata?
E-Eh, i-itu...
Enggak bawa, ya?
Eng-Enggak apa-apa, kok. Paling nanti siang juga reda.
Kalau enggak reda?
Ya, lihat saja nanti.
Terus?
Tung-Tunggu...
Ta-Takagi?
Kamu terlalu dekat!
Nishikata.
Ini gambar apa, hayo?
I-Itu kan...
Tanda sepayung berdua!
A-Apa maksudnya...
Takagi mengajakku sepayung berdua dengannya?
Bagaimana ini?
Demi mendapat penghargaan sebagai murid yang tak pernah absen,
aku enggak boleh kehujanan supaya enggak jatuh sakit!
Apa kuterima ajakannya saja, ya?
Takagi, eng, soal payungnya...
Lah?
Jawabannya, ini adalah gambar...
tulang ikan.
Lo, Nishikata,
memang kamu pikir ini gambar apa?
Hujannya sudah berhenti.
Iya.
Sayang sekali.
Padahal aku ingin sepayung berdua lagi sama kamu.
Ternyata dia cuma mau menjailiku dengan mengajakku sepayung berdua!
Syukurlah.
Karena langitnya cerah, kamu bisa menantangku sepulang sekolah nanti.
Kita kan enggak bisa main suit Glico sambil sepayung berdua.
Iya.
Ja-Jadi, mau pulang sama-sama?
Boleh.
Nishikata,
musim panas sudah dimulai, ya.
Co-ke-lat.
- Batu, kertas, gunting! - Batu, kertas, gunting!
Gli-co.
Tinggal sekali lagi dan aku akan finis.
Begitu juga denganku, Takagi.
Tapi, tak kusangka kalau dari tadi kamu cuma mengeluarkan gunting.
Bagaimana, Takagi?
Rencanaku mengagumkan, bukan?
Takagi hanya bisa mengalahkan guntingku dengan batu, jadi langkahnya cuma sedikit.
Takagi cuma bisa ambil tiga langkah, sedangkan aku enam langkah.
Asal menang sekali dari tiga kali suit, aku tetap akan menang.
Kalau mengeluarkan batu, Takagi pasti akan menang. Tapi sebenarnya...
Aku sengaja enggak mengeluarkan kertas atau batu untuk mempermainkannya.
Kasihan sekali kamu, Takagi.
Permainan dengan perang psikologi seberat ini pasti membuatmu kelelahan.
Berkat kamu, mainnya jadi lebih gampang.
Eh, karena tinggal sekali lagi, bagaimana kalau sekarang...
kita tentukan hukumannya?
O-Oh, boleh saja.
"Jadi lebih gampang," katamu?
Dasar sok kuat.
Percuma saja kalau kamu mau mengacaukan rencanaku.
Iya! Dia pasti cuma pura-pura!
Kalau mengeluarkan kertas dan kalah, harus belikan minuman.
Kalau mengeluarkan batu dan kalah, dahinya disentil.
Bagaimana?
Oke.
Terus, kalau mengeluarkan gunting dan kalah?
Cium.
Eh?
- Kita mulai ya. Batu, kertas, - Eh? Apa? Tung-Tunggu dulu!
- gun... - Ba-Bagaimana ini?
Kalau mengeluarkan gunting,
kok malah kayak aku yang ingin menciumnya, ya?
Tapi dari tadi aku mengeluarkan gunting, masa tiba-tiba ganti? Enggak!
Tapi, tapi kan...
- Sial! - ...ting!
Oh, berarti aku yang menang, ya?
Co-ke-lat!
Hampir saja.
Akhirnya aku mengerti.
Kupikir kali ini aku akan menang.
Malah aku...
yang dipermainkan.
Ya sudah, kita pergi beli minum, yuk!
Baik.
- Nih. - Terima kasih.
Dasar Takagi!
Kapan-kapan lagi, ya.
I-Iya.
Tunggu pembalasanku!
Nanti kalau pemenangnya pakai gunting, dia yang harus cium, ya!
Apa?
Dasar Takagi!
Sebagai ganti karena hari itu dijaili sama Takagi, push-up tiga kali!
Hari ini pun aku dijaili habis-habisan.
Apalagi, "tabungan dijaili" yang baru kubuat ini...
sudah mulai membebani keuanganku.
Meski begitu,
ini adalah hukumanku karena keseringan dijaili Takagi.
Ini supaya aku makin fokus agar selanjutnya bisa menang!
Celengan Dinosaur milikku pun turut menyemangatiku!
Nanti kalau pemenangnya pakai gunting,
dia yang harus cium, ya!
Pi-Pikiranku barusan juga termasuk dijaili!
Push-up tiga kali lagi!
Satu, dua, tiga!
Sip! Sekarang lihat ke kamera.
Begini?
Oh, mantap banget!
Sedang apa kalian di tempat dudukku?
Ah, kami adalah anggota panitia buku tahunan,
jadi aku lagi memotret suasana kelas sehari-hari.
Betul!
Keseharianku yang lagi iseng di tempat duduknya Nakai.
Nishikata, Nakai, kalian lihat juga, nih!
Siapa ini?
Itu aku, kok.
Diedit sama Takao pakai aplikasi.
Jauh banget sama aslinya!
- Hei, coba lihat yang lain juga! - Hei, coba lihat yang lain juga!
Lihat, lihat!
Dasar.
Suasana sehari-hari apanya, coba?
Hm?
Mukaku kok jadi aneh begini?
Kayak foto penampakan saja.
Duh, maaf, ya!
Nanti kuhapus, deh!
Jangan marah, Mas Nishikata. Nanti kubuat kamu jadi gagah, deh!
Fotonya tidak boleh diedit!
Takao! Kimura!
Dengar baik-baik!
Foto-foto yang kalian ambil akan dimasukkan ke dalam buku tahunan.
Sebagai anggota panitia buku tahunan,
tugas kalian adalah mengabadikan momen-momen ini supaya bisa dijadikan...
kenang-kenangan di masa depan.
Lakukan dengan benar!
- Baik, maafkan kami. - Baik, maafkan kami.
- Hei, curang! - Sini!
Tunggu aku!
Hei kalian, jangan lari!
Nishikata.
Nishikata!
Hm?
A-Ada apa, Takagi?
Kamu kenapa? Dari tadi melamun terus.
A-Aku enggak melamun, kok.
Sudah, lupakan saja.
Ta-Takagi, mau adu denganku?
Boleh saja. Mau adu apa?
Tentu saja
lomba tahan napas dalam air!
Peraturannya mudah.
Yang lebih lama menyelam di dalam air, dia yang menang.
Oke.
Sip!
Asal tahu saja,
selama ini aku sering menantang diriku untuk menahan napas di dalam air!
Kalau begitu, aku yang menyelam dulu.
Kamu hitung waktunya, ya, Takagi.
Pas giliranmu, aku akan menghitung waktumu.
Kalau begitu, bukannya jadi enggak adil, ya?
Pas kita menyelam, bisa saja lawan kita sengaja...
mencurangi hitungan waktunya supaya menang.
Lebih baik kita menyelam sama-sama saja!
Yang kepalanya keluar lebih dulu, dia yang kalah. Bagaimana?
Benar juga, sih.
Oke.
Sebelum itu, aku ingatkan, ya.
Enggak boleh bikin muka aneh selama di dalam air, ya!
Iya.
Sip! Berarti dia enggak akan curang!
Enggak akan kubiarkan
Takagi terus menjailiku selama tiga tahun ini!
Kali ini...
aku pasti menang!
Mulai, ya.
Tu, wa...
Kamu baik-baik saja, Nishikata?
Kamu sih, tadi bicara aneh-aneh!
Memang aku bicara apa?
E-Eng, ya, pokoknya ada, deh.
Karena tubuhku serasa akan mengapung,
jadi pas di dalam air, aku bilang "meng-a-pung" sama kamu.
Jangan-jangan kamu salah mengira, ya?
Enggak! Enggak, kok!
Berarti aku yang menang, kan?
Iya.
Baik, waktunya sudah habis! Semuanya, ayo keluar dari kolam!
Inilah saat terakhir kita memakai kolam renang sekolah.
Nanti di SMA kan ada kolam renangnya juga.
No comments yet. Be the first to leave one.