Affliction

Affliction

Download Indonesian Subtitle

Release info

Affliction 2021 INDONESIAN WEBRip NF
A Commentary by tedi
Retail NF | 01:30:14 Fix common errors

Tags

webdl
Published on: 2024-08-05
Downloads: 74
Hearing Impaired: Yes

Indonesian subtitle preview

The first 198 lines.

Anak adalah generasi penerus bangsa

yang membutuhkan perlindungan dan perhatian secara khusus,

karena fisik dan mental anak

di usia yang masih muda masih belum stabil

jika tidak di jaga dan di perhatikan secara positif,

maka akan berdampak negatif terhadap perkembangan anak.

Jika tidak mendapatkan kasih sayang orang tua

dan mendapatkan perlindungan secara positif,

maka dapat menimbulkan hal yang membahayakan

untuk anak-anak di sekolah dan juga orang-orang di sekelilingnya.

Jika tidak mendapatkan perhatian dari orang tua dan mendapatkan

perlindungan... Perlindungan?

Tas, mata kamu tidak juling melihat ponsel terus?

Tidak, Bu. Ponselku memakai pelindung layar, jadi mataku tidak capek.

Ibu yang capek melihatmu main ponsel terus.

Lagi pula aku sedang liburan.

Yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat.

Ayah kalau kerja juga sampai berjam-jam, 'kan?

Bermain ponsel terus-menerus bisa membuat depresi,

sakit mata, dan obesitas.

Ayah cuma ingin menakut-nakutiku.

Yang bilang itu psikolog anak, Tas, bukan Ibu.

Obesitas? Bagus kalau begitu.

Agar tidak kurus seperti tengkorak.

Ryan, kamu tidak usah ikut-ikutan. Ayo makan dulu.

Anak-anak sedang liburan, kamu tidak ada waktu?

Pasienku sedang banyak.

Serta aku harus membuat makalah untuk presentasi Jumat ini.

Memangnya jadi?

Memangnya kamu tidak mau

jadi istri dari Ketua Komisi Perlindungan dan Kesejahteraan Anak se-Indonesia?

Asal kamu jangan bekerja terus dan melupakan kami.

Yah, semakin tidak ada waktu untuk kita liburan.

Ayah janji akan mencari waktu.

Kalau masih ada Oma,

pasti kami diajak jalan-jalan.

Ayah dan Ibu sibuk, maka Oma yang menghibur kami.

Ryan, jangan bicara begitu.

Oma sudah tidak ada.

Ayah janji, Ayah akan coba selipkan satu hari untuk kalian semua.

Kapan terakhir kamu ziarah?

Kemarin.

Ibu pasti tahu.

Aku percaya

almarhum yang makamnya didatangi,

bisa merasakan cinta dari orang-orang yang mereka tinggalkan.

Aku prihatin melihatmu seperti ini, Nin.

Mau sampai kapan kamu menyalahkan dirimu sendiri, Nin?

Ini bukan salahmu, Nin.

Ibumu meninggal karena sakit.

Kita juga tahu sudah berapa kali Ibu mencoba bunuh diri.

Seharusnya aku bisa menjaga Ibu lebih baik.

Ada beberapa hal yang tidak bisa kita prediksi.

Sebenarnya aku sudah lihat.

Maksud kamu apa?

Ya.

Sehari sebelum kejadian,

aku dan Ibu mengobrol di meja makan.

Kami berbagi cerita tentang anak-anak.

Tiba-tiba,

aku merasa ada yang melihatku dari pojokan.

Ibu tidak melihatnya.

Dia asyik mengobrol.

Awalnya aku tidak mengerti kenapa bisa melihat itu.

Tapi sekarang aku mengerti.

Apa?

Seharusnya aku bisa mencegah sebelum kejadian.

Kamu tidak percaya?

Kamu selalu begitu.

Selalu meremehkanku.

Aku tidak meremehkanmu.

Aku tidak mengerti hal-hal seperti itu.

Aku berpikiran logis.

Lagi pula, aku tak suka hal-hal yang berbau mistis.

Kamu pikir aku mau melihat hal-hal semacam itu?

Tidak, San.

Nina.

Kamu tahu aku menyayangimu, dan kamu segalanya bagiku.

Tapi halusinasi yang kamu alami tidak akan mengubah apa pun.

Takdir tak bisa dilawan, Nin.

Maaf tadi pintunya terbuka, jadi saya masuk.

Saya pikir tak ada siapa-siapa.

Ibu siapa?

Ibu istrinya Pak Hasan, ya?

Ya, Ibu siapa?

Nama saya Narsih.

Saya yang merawat Bunda di kampung.

Bunda?

Ibunya Pak Hasan.

Kondisi Bunda semakin lama semakin mengkhawatirkan.

Terkadang dia baik-baik saja,

tapi terkadang keadaannya memburuk.

Dia sudah sulit mengingat.

Sudah separah itu?

Dia bisa melihat sesuatu yang tidak ada.

Kami yang merawat hanya bisa bilang,

"Tidak ada siapa-siapa, Bunda.

Bunda tinggal sendiri."

Kata dokter yang merawatnya,

ini biasa terjadi kepada orang-orang seusianya.

Maaf, tapi saya tidak tahu apa nama penyakitnya.

Kapan terakhir kali Ibu dan Pak Hasan menjenguk Bunda?

Itu...

Saya belum pernah berkunjung ke sana.

Kenapa tidak berkunjung?

Suami saya tidak pernah mau.

Ada masalah apa antara Bunda dan Pak Hasan?

Maaf, tapi,

apa tujuan Bu Narsih kemari?

Bukan, Bu.

Saya kemari bukan meminta uang.

Saya kemari cuma ingin pamit.

Karena saya tak bisa lagi mengurus Bunda.

Kami tidak tahu berapa lama lagi Bunda akan bersama kami.

Maksud Ibu?

Sudah waktunya anaknya pulang untuk merawat ibunya.

Mungkin itu yang sebenarnya Bunda inginkan.

Bunda menderita Alzheimer, aku juga tidak tahu

penyakitnya sudah separah itu.

Selama ini kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa?

Aku sempat tidak enak pada Narsih, seolah-olah kita tak peduli.

Narsih?

Lain kali berikan dia uang saja.

Bunda sudah semakin tua. Apa tak sebaiknya kamu pulang menemuinya?

Tidak bisa, Nin.

Memangnya Ibu ayah masih hidup?

Kenapa kami belum pernah bertemu?

Ibu Ayah tinggalnya sangat jauh.

Jadi, kalian tak pernah bertemu.

Lalu, kenapa kita tidak pernah ke sana?

Kamu kepo.

- Hasan. - Ya?

Mungkin ada baiknya Bunda kita jemput.

Itu tidak mungkin.

- Siapa lagi yang akan merawat? - Aku sungguh sibuk.

Bunda bisa tidur di kamar Ibu. Aku bisa bantu.

Aku tak ada waktu mengurus ibuku.

Hubunganku dengan Bunda berbeda dengan hubunganmu dengan Ibu.

Kami biasa hidup sendiri.

- Tapi kalau misalkan... - Beda!

Kamu tidak tahu apa-apa.

Ryan, habiskan makanannya.

Kamu juga, Tasha.

Semua orang tua pasti berbeda.

Tapi seorang ibu selalu menyayangi anak-anaknya.

Aku tahu itu karena aku juga seorang ibu.

Sebenarnya aku tidak ingin kembali ke sana.

Memangnya dulu ada apa?

Tidak ada apa-apa, Nin.

San, tunggu dulu. Dengarkan aku.

Tidak ada yang merawat Bunda.

Kita tidak harus lama-lama di sana.

Cukup bawa Bunda ke Jakarta.

Aku paham kamu sibuk dengan pekerjaanmu.

Aku yang akan merawatnya.

Aku baru saja kehilangan ibuku.

Aku tidak mau kamu menyesal seperti apa yang kurasakan.

Kamu janji akan menyempatkan waktu untuk anak-anak.

Ya, 'kan?

Tempat ini tidak ada di Google Maps.

Nikmati saja, Tas.

Kamu belum pernah tinggal di rumah yang jaraknya jauh.

Tetangga terdekat sekitar satu jam dari sini.

Di mana Ryan?

Ryan!

Di mana dia?

Ryan.

Hei, kamu sedang apa di sini?

Tidak tahu.

Kamu masih punya kunci rumah?

Kunci rumah ini cuma ada dua.

Satu dipegang Bunda,

satu lagi yang ini.

- Asalamualaikum. - Ayo masuk.

Asalamualaikum.

Ayo rapikan. Rapikan tasnya.

Kalian di sini dulu, ya. Ayah dan Ibu mau melihat Nenek.

- Ya, Bu. - Tunggu, ya.

Yuk.

Kenapa ayah terlihat murung di foto ini?

Mungkin Ayah ingin buang air besar saat difoto.

Bunda?

Hasan!

Bun? Bunda?

Bun?

Bunda.

Kamu dengar itu?

Dengar apa, Bu?

Kamu dengar itu?

Bun, ini Hasan, Bun.

Ini Hasan.

Hasan?

Ya, Bun.

Bunda!

Lepas pisaunya, berikan kepada Hasan.

Tolong, Bun.

Ya?

Kamu tidak berubah.

Affliction subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left