The first 169 lines.
Kalau ada sepuluh pelawak dikumpulkan di satu tempat,
seharusnya yang diharapkan adalah terjadi ledakan tawa.
Tapi tidak kali ini.
Kali ini, dilarang bahkan.
Dilarang siapa?
Oh, dilarang oleh saya!
Lho, saya siapa?
Perkenalkan, nama saya Pandji Pragiwaksono.
Dan selamat datang di Last One Laughing Indonesia,
Yang Ketawa Kalah.
Terima
Terima
Terima
Klub Komedi
Terima
Salon Kecantikan
Terima
Terima
Ini namanya Kosmik Arena.
Sepuluh Pelawak akan berinteraksi di ruangan ini
selama enam jam yang saya berikan.
Orang terakhir yang berhasil menahan tawa,
akan menjadi Juara-nya.
Dan oleh saya, Sang Komander,
diberikan gelar, Penguasa Galaksi Komedi.
Ini adalah Ruang Komander.
Ada lebih dari 30 kamera.
Tidak akan ada yang lolos dari mata saya.
Mari kita mulai undang Sepuluh Pelawak lintas generasi
untuk bergabung di Pesawat LOL Indonesia,
Yang Ketawa Kalah.
Halo.
Gelap amat, ya.
Oh, pakai kacamata. Pantas.
Oh, ini.
Wow!
Wih!
Wah.
Kayak lagi di pesawat antariksa, nih!
Kita enggak tahu setnya kayak bagaimana.
Begitu pas dibuka, wow, keren banget ini! Begitu.
Dan saya itu nomor satu datangnya, tuh.
Jadi, belum ada pemain-pemain yang lain.
Ada orang di rumah?
Ya, jadi saya bingung.
Saya mesti ngapain di sini? Begitu. Terus...
Ada properti-properti yang kocak-kocak
yang di kepala saya itu sudah,
"Hmm, ini bisa jadi bahan gue, nih."
Aduh.
Ya!
Pak Haji!
Ternyata Pak Haji di sini!
Aduh!
Pak Haji Andre, yang pertama.
Itu benar-benar berat buat gue karena gue penggemar berat dia.
Dan gue enggak bisa banget,
kalau dia ngomong apa pun itu,
enggak tertawa, begitu.
Itu gue enggak bisa banget.
Ini yang ketiga, nih.
Kita tungguin saja.
Sudah lama kita enggak bertemu, ya?
Iya!
- Nah, dia tuh. -
Wah, bahaya nih.
Karena kekuatan dari Andre Taulany,
dia mau ngapain saja, itu lucu.
Marshel pun juga sudah terbukti dan teruji sejauh ini.
Jadi, ketika melihat mereka,
aduh, lawannya nih berat!
Kenapa sih, Ndre?
Ah.
Hijau Tua, ya?
- Ah, kok tahu? - Iya, tembus ini.
Oh, bahaya berarti kacamata ini. Coba!
- Shel, kok kayak penyu? - Iya?
Jadi, begitu masuk, suasananya itu misterius.
Mencekam.
Gelap.
Di hati sudah deg-degan. Uh!
Tanganku sudah keringat dingin.
Aku pipisnya sudah tujuh kali sebelum masuk.
Jadi... Aduh, ampun!
Bude!
Bagaimana enggak guling-guling?
Ketemunya sama teman-teman juga yang begini semua.
Ampun deh pasti.
Wah, ini mah berat banget.
Kayaknya LOL Indonesia ini, cobaan apa lagi dalam hidup gue?
Begitu.
Bagaimana kalau kita diam dulu biar dia sangka peserta pertama?
Ya, 'kan?
Ketakutan, grogi, gugup,
bertanya-tanya, menebak-nebak, siapa saja pemainnya.
Karena memang ketika gue ikut kompetisi ini,
ada pemain-pemain yang harus gue hindari...
suara mulutnya itu.
Eh!
Astaga!
Halo, pelawak?
Mereka pada mengumpet di sebelah kiri.
Ngehe-ngehe itu pada.
Assalamu'alaikum.
Hei!
Gue masuk, kaget.
Kok sepi?
Hei? Woy!
Tapi ternyata semua emang orang-orangnya sialan.
Pada mengumpet.
Pak Denny! Benar, 'kan?
Pak Denny Cagur.
Marshel.
Pak Denny ikut. Benar, 'kan?
Wah, ini salah satu yang berat.
Tapi gue sudah kepikiran Denny pasti ikutan.
Siapa itu? Eh, siapa itu?
Sudah?
Pada ke mana, nih?
Rina! Yay, Rina!
Apa gue bilang?
Tebakan gue benar!
Apa gue bilang?
Ya, ampun. Lucu banget.
Ini cowok, nih.
Begitu dia datang, enggak usah kita sambut.
Eh, kita asyik mengobrol saja. Masing-masing.
Santai saja kita. Enggak usah ditanggapi.
- Sering ya dulu dia. - Eh, gue mau...
Emang komedian kocak!
Pura-pura enggak tahu ada saya, ya!
Iya!
Hei, kita...
kemarin baru ketemu.
Kok diam saja kau, ya?
Pintar kau, ya?
Oke, enggak apa-apa.
Hei, halo?
Hei!
Terintimidasi, terintimidasi.
Apalagi mereka semua senior-senior saya.
Ya, ampun.
Kayaknya gue pakai kacamata deh,
baru kelihatan tuh.
Nah!
Aco!
Ditambah ini biar enggak kelihatan.
Pergi!
Pergi, pergi dari sini!
Hei.
Sst!
Tuh kan.
Waduh.
Ternyata mereka lawan kita.
Nah, ini jadi deg-degannya bertambah.
Wah, bagaimana ini nanti?
Hei! Sst! Mohon maaf, nih.
- Kenapa? - Paling tua saya di sini, ya?
- Belum tentu. - Belum tentu.
- Siapa tahu Pak Jarwo. - Ini yang terakhir nih.
Bisa jadi kamu lebih tua, begitu?
Bukan. Maksudnya, yang terakhir masih ada satu orang lagi.
Kan, baru sembilan.
- Oh iya, baru sembilan. - Satu lagi.
Hah?
Benar, 'kan?
Gue sudah repot banget bangun pagi. Ya, Allah.
Seru banget ini ada Bang Komeng ini.
Halo, kamu siapa namanya?
No comments yet. Be the first to leave one.