The first 200 lines.
"Ini adalah kisah nyata"
"Beberapa adegan dan karakter dibuat untuk tujuan dramatisasi"
"Kota Panama 2007"
Kurasa kau mungkin lupa, Kawan...
aku melibatkanmu dalam kisah Timberlake.
Kau menghasilkan banyak uang dari ibu itu, jadi...
Angkat saja, David. Karena aku tahu kau di sana bersamanya!
Lihat!
Kau melihatnya?
Dia lari dari belakang dengan yang lain.
- Ada apa di belakang? - Tempat parkir. Ayo, ayo!
- Ada lebih dari satu mobil. - Cerdas.
Mereka mengeluarkan umpan.
Dia di belakang BMW!
Sial!
- Apa itu berhasil? - Entahlah.
Bagaimana mereka tahu aku di sini?
Jurnalis. Itu tugas kami.
Akan kucoba San Miguelito. Kita pasti lolos dari mereka.
Astaga, Stef!
Kau mau aku lolos dari mereka atau tidak?
- Bagaimana keadaan kita? - Aku tidak bisa melihat siapa pun.
Apa kita sudah lolos dari mereka?
Kurasa begitu.
- Pete? - Kami tepat di belakangmu.
- Tidak. - Lihat ke belakang.
- Apa maumu? - Satu foto saja.
Kau boleh ambil ceritanya, aku hanya ingin foto.
Dengan segala hormat, Pete, enyahlah.
- Apa dia di belakang kita? - Tidak, dia menggertak.
Dia tak menggertak. Lebih cepat, Stef!
Baik.
Aku yakin kau penasaran bagaimana aku bisa ada di sini.
Aku juga. Aku hanya ingin hidup sederhana.
"Tujuh tahun lalu"
"Seaton Carew, Hartlepool"
Desember, 2000.
Natal terburuk ketiga dalam hidupku.
Setahun penuh sebelum itu dimulai.
Tapi kami sudah kehilangan kendali.
Anne!
Ayo, Sayang! Cepatlah!
Bisa pegang itu, Sayang?
Dia sekuat lembu.
Kau sudah memanaskan ketel?
Aku tadi melakukan ini, seperti yang kau minta.
Tidak masalah, biar aku saja.
Bagaimana kita akan mengisi semua dengan furnitur, John?
Atau menghiasnya? Karena tiap ruangan butuh itu.
Dari total 13.
Lalu bagaimana kita menghangatkannya?
Belum lagi kamar sebelah, yang omong-omong...
bisa kau dengar di tiap lantai melalui pintu itu.
Pemabuk, pencandu narkoba, dan orang yang bercinta.
Bagaimana kita membayar semua itu?
Dengan tetangga sebelah, Sayang.
Sebelas kamar, yang akan kugarap.
Seperti yang sudah kujelaskan ribuan kali.
Sampai kapan ini akan cukup?
Aku akan melapisinya dengan bata, kubuat kedap suara.
Toh, kita takkan membutuhkannya.
Dan kali ini yang terakhir. Aku janji.
Tentu saja itu bukan yang terakhir.
Tunggu, geser sedikit, aku tak bisa melihat.
John adalah pria yang membeli Range Rover...
yang tak mampu dia beli...
Senyumlah.
Lalu menghabiskan 3.000 paun untuk pelat nomor pribadi.
Padahal kami belum berlangganan gas.
Teh?
Terima kasih.
- Silakan. - Terima kasih.
- Selamat Tahun Baru! - Selamat Tahun Baru!
John adalah pria yang tidak hanya akan membeli Nomor Tiga...
jika dia bisa menipu bank untuk meminjamkan cukup uang...
demi membeli Nomor Empat juga...
di luar 12 properti sewaan yang sudah kami miliki.
John adalah pria yang selalu butuh lebih...
- John! - Dari segalanya...
untuk menunjukkan seberapa jauhnya dia dari bau jelaga...
kota tambang batu bara tempat dia berasal.
Namun, sekarang...
segalanya akhirnya hancur.
John, berhenti.
American Express menelepon lagi sore ini.
Mereka bilang harus mengirim petugas pengadilan.
Aku baru menghitung yang lain.
Kau berutang 64.000 dengan 13 kartu berbeda.
Belum lagi hipoteknya.
Karena pasar kolaps.
Maksudku, aku sedang berusaha sebaik mungkin. Sungguh.
Tapi tidak pernah ada cukup waktu untuk melakukan semuanya.
Sif di penjara, harus selalu cari penyewa baru...
perbaikan yang tak ada habisnya.
Aku tahu kau melakukan yang terbaik, Sayang. Sungguh.
Aku tahu itu bukan salahmu.
Tapi kita masih harus menghadapi kenyataan sekarang...
karena aku tidak bisa terus begini.
Tidak, aku tahu.
- Benarkah? - Tentu saja.
Aku tahu kau pikir aku tidak menganggapnya serius.
Tapi aku serius.
Bahkan, aku tak memikirkan hal lain selama enam bulan terakhir.
Sejauh yang kulihat, kita tak punya banyak pilihan.
Sejauh yang kulihat, hanya ada satu solusi masuk akal.
Aku tahu betapa sulitnya itu.
Aku tahu betapa pentingnya bagimu untuk merasa lebih baik.
Tapi aku berjanji. Menyatakan bangkrut...
takkan mengurangi cintaku sedikit pun.
- Bangkrut? - Ya.
Apa maksudmu?
Kau bilang hanya ada satu solusi yang masuk akal.
Memang ada. Tapi itu bukan bangkrut.
Lalu apa itu?
Kau akan suka ini.
Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Selain karena itu sangat ilegal, sangat tidak bermoral...
menurutmu apa yang akan terjadi pada keluarga kita?
Pada anak-anak kita?
Pada ayahmu, orang tuaku, mereka semua...
saat mengira kau sudah mati?
Kurasa mereka akan sedih beberapa pekan, lalu melupakannya.
- Kau sudah gila, John. - Cukup!
Aku sungguh tidak gila, Anne.
Aku ini pria yang berpikiran kreatif.
Benarkah?
Jangan tersinggung, tapi hanya otak khusus yang bisa begitu.
Jadi, aku ingin kau memercayaiku.
Karena ini ide yang sangat bagus.
Benarkah? Baik, tolong jelaskan padaku, secara mendetail...
"ide yang sangat bagus" ini.
Aku punya kano di gudang bawah tanah.
Aku punya kano itu karena dahulu aku suka berkano.
Bisa dikatakan sudah cukup lama sejak terakhir aku menggunakannya.
Jadi, untuk tujuan fase pertama rencanaku...
kita harus mengingatkan orang tentang kecintaanku pada kano...
juga niatku, sekali lagi, untuk melakukannya.
Maka ini akan membutuhkan...
pada saat yang tepat beberapa pekan dan bulan mendatang...
kau dan aku membahasnya dalam obrolan dengan orang-orang.
Mengatakan sesuatu seperti...
"John ingin mulai berkano lagi."
Baiklah.
Sementara itu, bersama-sama, aku akan mulai merakit...
yang pada dasarnya adalah peralatan bertahan hidup.
Peralatan darurat berisi semua yang kubutuhkan...
untuk bertahan di alam liar...
selama periode waktu yang belum ditentukan.
Tenda, tentu saja. Kantong tidur.
Kompor. Pakaian. Senter.
Pisau lipat.
Mungkin Kendal Mint Cake, terserah.
Contoh-contoh ini ilustratif, bukan komprehensif.
Tapi aku yakin kau mengerti maksudku.
Setelah merakit peralatanku...
aku akan mulai memantau laporan cuaca lokal, ramalan cuaca...
pasang surut ombak, kondisi laut, dan lain sebagainya.
Lalu, pada hari yang sudah diatur, saat kita yakin cuacanya bagus...
fase pertama rencana dimulai.
Jadi, kau akan bekerja seolah-olah semuanya normal.
Aku akan diam-diam mengamati jalanan.
Lalu di saat yang tepat, saat tetangga mendekat...
aku akan keluar dari pintu depan dengan kano di bawah lenganku...
memastikan aku terlihat.
Lalu aku akan membawa kano ke pantai...
memastikan beberapa orang melihatku di sana juga.
Lalu aku akan menaruh kano di air...
aku akan menaikinya, kemudian mendayung ke laut.
Lalu aku akan ke utara...
mendayung di sepanjang pantai sejauh beberapa kilometer.
Lalu, pada saat yang tepat, tanpa terlihat pejalan kaki...
aku akan mendayung kembali.
Setelah mendarat, aku akan membongkar peralatanku...
mematahkan dayung, membuangnya ke laut.
Aku juga akan mendorong kanonya.
Lalu aku akan melintasi negeri...
memilih tempat liar terpencil di mana aku akan bersembunyi.
- Kau akan bersembunyi? - Aku akan bersembunyi.
- Di tendamu? - Di tendaku.
Jadi, pada malam yang sama, kau pulang dari tempat kerja...
menyadari aku tidak ada di sana dan melihat kano itu...
yang sebelumnya di lorong, sekarang sudah tidak ada.
Kau menelepon kantorku.
Kau menelepon beberapa teman, mungkin.
Kita tak punya teman.
Lalu, akhirnya, dengan sangat khawatir...
kau menelepon polisi dan membunyikan alarm.
Lalu mereka mengirim perahu untukku.
- Mereka? - Ya. Polisi...
orang sekoci, atau siapa pun.
Mereka akan mengirim perahu untuk mencariku.
Mereka jelas takkan menemukanku.
Jadi, setelah beberapa jam, mereka akan berasumsi...
aku terkena serangan jantung atau cuaca berubah.
- Tadi kau bilang cuacanya bagus. - Anne, bisakah kau...
Jadi, kau, sementara itu, akan diam saja...
selama berbagai formalitas, prosedur, dan semacamnya dilakukan.
- Semacamnya? - Semua itu akan menyimpulkan...
satu atau dua pekan kemudian...
bahwa aku, secara tragis, dinyatakan meninggal.
No comments yet. Be the first to leave one.