The first 189 lines.
Ini pertama kali kita bertemu, benar?
Kibutsuji Muzan.
Sungguh penampilan yang buruk rupa, Ubuyashiki.
(Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Babak Pelatihan Hashira)
Akhirnya, kamu datang sendiri kepadaku.
Dan sekarang, kamu berdiri di hadapanku, Kibutsuji Muzan.
Iblis yang dikejar keluargaku, Korps Pembasmi Iblis...
...selama seribu tahun lamanya.
Amane, bagaimana penampilannya?
Dia tampak seperti pria berusia pertengahan hingga akhir kepala dua.
Akan tetapi, matanya berwarna plum tua,
lalu pupil matanya memanjang seperti pupil mata kucing.
Begitukah?
Ya, aku sudah menduga kamu akan datang.
Karena aku yakin kamu sangat geram kepadaku, kepada keluarga Ubuyashiki.
Aku menduga kamu akan datang untuk membunuhku dengan tanganmu sendiri.
Aku sangat kecewa padamu, Ubuyashiki.
Tanpa pernah tahu diri,
sekarang kepala keluarga yang telah mengusikku selama seribu tahun
dalam kondisi yang menyedihkan.
Buruk rupa. Sungguh buruk rupa.
Kau sudah bau tanah, Ubuyashiki.
Kata-katamu tidak salah.
Setengah tahun yang lalu,
seorang tabib memberitahuku kalau aku akan mati dalam beberapa hari.
Tapi kenyataannya, aku masih hidup.
Bahkan tabib tersebut sampai tak bisa berkata-kata.
Ini murni karena tekad yang tak goyah untuk mengalahkanmu...
Muzan.
Mimpimu yang fana itu berakhir malam ini.
Karena aku akan membunuhmu.
Kamu mungkin tidak tahu,
tapi kita berbagi garis keturunan yang sama.
Namun, berhubung kamu lahir lebih dari seribu tahun yang lalu,
hubungan darah kita sudah tidak lagi dekat.
Aku tidak merasakan apa-apa setelah mendengarnya.
Apa yang sebenarnya ingin kaukatakan?
Gara-gara keluarga yang dahulu melahirkan monster sepertimu,
keluargaku dikutuk sejak lama.
Setiap anak yang di keluargaku terlahir lemah dan mati muda.
Ketika garis keturunan keluargaku hampir tidak ada lagi,
kami mendapat nasihat dari seorang pakar dewa.
Beliau bilang bahwa garis keturunan keluargaku sudah melahirkan iblis.
Beliau menyarankan kami mengabdi untuk mengalahkannya.
Dengan begitu, keluargaku akan dapat bertahan hidup.
Dari generasi ke generasi, keluargaku mempersunting istri dari keluarga pakar dewa,
anak-anak di keluargaku tidak lagi mati muda.
Meski begitu, tidak ada yang bisa hidup lebih dari tiga puluh tahun.
Sungguh kedunguan yang tiada batas.
Aku ingin muntah mendengarnya.
Apa penyakitmu sudah menyebar sampai ke otak?
Tidak ada hubungan sebab akibat antara peristiwa itu.
Apa kau tahu?
Aku tidak pernah menerima azab apa pun.
Meski aku sudah membunuh ratusan, bahkan ribuan orang,
aku masih mendapat ampunan.
Selama seribu tahun ini, aku belum pernah melihat Tuhan maupun Buddha.
Begitukah caramu memandang sesuatu?
Tapi aku punya cara pandangku sendiri.
Muzan, apa mimpimu?
Selama seribu tahun ini,
apa yang kamu mimpikan selama hidupmu?
Kejanggalan apa ini?
Sumber gangguan utamaku, kepala dari Korps Pembasmi iblis, ada di depan mataku,
aku tidak merasakan benci.
Justru...
Kisah pertama, ketika malam tiba
Sungguh meriah, sungguh meriah
Mari hias dengan bagus Hiasan pinus, hiasan pinus
Kisah kedua, pinus berdaun dua
Sungguh berwarna, sungguh berwarna
Rasa rindu dan ketenangan ini sangat menjijikkan.
Pinus bertumpuk tiga Gunung Kazusa, Gunung Kazusa
Hanya ada empat orang di kediaman ini.
Ubuyashiki, istrinya, dan dua anaknya.
Tidak ada penjaga atau sejenisnya.
Kisah ketiga, yang kecil dan yang tua
Mau aku tebak, Muzan?
Aku tahu apa yang kamu pikirkan.
Main bersama, main bersama
Kamu memimpikan keabadian.
Kamu memimpikan kekekalan.
Main gasing, hanetsuki, serta temari, serta temari
Tepat sekali.
Dan mimpiku sebentar lagi akan terwujud setelah aku mendapatkan Nezuko.
Mimpimu tidak akan terwujud, Muzan.
Tampaknya kamu cukup percaya diri dalam menyembunyikan Nezuko.
Akan tetapi, berbeda denganmu, aku punya banyak waktu.
Kamu salah sangka.
Apa?
Aku tahu apa itu keabadian.
Keabadian adalah perasaan manusia.
Perasaan manusia akan bertahan selamanya...
...dan kekal.
Konyol.
Aku sudah muak dengan ceramahmu.
Selama seribu tahun,
Korps Pembasmi Iblis tidak pernah lenyap.
Memang banyak anak yang malang telah tewas,
tetapi mereka tidak lenyap begitu saja.
Fakta itu membuktikan bahwa...
...perasaan manusia yang kamu sebut konyol tadi hidup dengan kekal.
Perasaan untuk tidak memaafkan mereka...
...yang telah merenggut nyawa orang yang dicintai secara keji...
...akan selalu abadi.
Sesungguhnya, kamu tidak diampuni oleh siapa pun.
Tidak sekalipun dalam seribu tahun.
Aku beri tahu, Muzan.
Kamu sudah menginjak ekor macam dan memicu amarah naga berulang kali.
Kamu sudah membangunkan macan dan naga yang seharusnya selalu terlelap.
Mereka akan selalu mengawasimu,
dan tidak akan membiarkanmu melarikan diri.
Meski kamu membunuhku sekalipun,
Korps Pembasmi Iblis tidak akan menjadi gentar.
Sosokku sendiri tidak terlalu penting.
Aku yakin kamu tidak mengerti apa itu perasaan dan ikatan batin manusia.
Muzan.
Karena kamu...
Kalian para iblis...
Begitu kamu mati, semua iblis bawahanmu akan binasa, benar?
Aku merasa ada gejolak udara.
Apa tebakanku benar?
Diam kau.
Ya, baiklah.
Aku sudah mengatakan apa yang selalu ingin kukatakan padamu.
Apa aku boleh mengatakan satu hal terakhir?
Tadi aku bilang kalau sosokku tidaklah penting,
tetapi kematianku tidak akan sia-sia.
Aku beruntung, dihormati oleh semua anggota Korps.
Terutama anak-anak Hashira, mereka sangat menyayangiku.
Artinya, kematianku hanya akan meningkatkan semangat juang mereka lebih dari sebelumnya.
Sudah selesai bicaranya?
Ya.
Aku tidak mengira kamu mau mendengarkanku sampai akhir.
Terima kasih, Muzan.
Panggilan darurat!
Serangan musuh di kediaman Ubuyashiki!
Tuan Besar!
Cepat! Harus bergegas!
Tuan Besar!
Semoga tepat waktu!
Kita harus menugaskan seenggaknya dua Hashira untuk menjaga Tuan Besar.
Bisa enggak, sih, Bang Himejima?
Tidak bisa.
Aku sudah minta begitu selama delapan tahun sejak aku menjadi Hashira di usia 19 tahun,
beliau selalu menolaknya.
Beliau bersikeras bahwa Hashira terlalu berharga
dan seharusnya tidak digunakan sebagai pengawal pribadi.
Ini cukup meresahkan.
Aku dengar setiap kepala keluarga Ubuyashiki tidak pernah memiliki pengawal pribadi.
Tuan Besar!
Sudah terlihat!
Itu kediamannya!
Tak apa! Pasti tepat waktu!
Aku sampai—
Bahan peledak!
Disertai bau darah dan daging yang sangat menyengat!
Ubuyashiki!
Tatapan pria itu!
Dengan memasang senyum kalem layaknya Buddha,
dia meledakkan diri bersama istri dan dua anaknya dengan bahan peledak.
Aku salah sangka.
Aku menilai seorang Ubuyashiki sebagai manusia biasa,
tapi dia di luar nalar, bukan manusia biasa.
Aku sudah menduga ada jebakan, tapi dugaanku tidak sejauh ini.
Di dalam peledak diisi dengan jarum-jarum jebakan kecil supaya lebih mematikan.
Tujuannya untuk memperlambat pemulihanku selama mungkin.
Artinya, masih ada yang lain.
Ubuyashiki pasti masih punya rencana lain setelah ini.
Aku merasakan ada beberapa orang yang berkumpul kemari.
Kemungkinan para Hashira.
Tapi bukan mereka, aku yakin masih ada yang lain.
Pria licik itu menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan.
Amarah dan kebencian terhadapku dia sembunyikan dalam lilitan bak seekor ular.
Menyembunyikan niat membunuh di usia semuda itu patut mendapat pujian.
Apa istri dan anak-anaknya sudah tahu rencananya?
Cukup, sekarang bukan waktunya berpikir.
Tetap tenang. Sebentar lagi tubuhku pulih total.
Biji daging?
Jurus Darah Iblis?!
Aku terperangkap.
Jurus Darah Iblis siapa ini?
Sulit lepas karena setiap duri membuat cabang-cabang baru di dalam dagingku.
Bukan masalah.
Jumlahnya tidak terlalu banyak.
Hanya perlu aku serap.
Tamayo?! Bagaimana bisa kau di sini?
Jurus Darah Iblis berduri ini adalah milik orang yang kaujadikan iblis di Asakusa.
Dia mendekatiku dengan Jurus Darah Iblis pengalih perhatian.
No comments yet. Be the first to leave one.